TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) DIY mengubah strategi dalam memerangi peredaran gelap narkotika di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Alih-alih hanya mengandalkan pendekatan hukum konvensional, BNNP DIY kini mengedepankan pendekatan edukatif yang berbasis pada kearifan lokal dan budaya masyarakat setempat.
Langkah ini diambil setelah jajaran pimpinan BNNP DIY melakukan pertemuan tertutup dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (13/5/2026). Strategi ini dirancang untuk menyentuh akar rumput melalui karakteristik khas masyarakat Yogyakarta yang kental dengan nilai-nilai kultural.
Kepala BNNP DIY, Faried Zulkarnain, mengungkapkan bahwa arahan langsung dari Sultan menjadi fondasi utama dalam penyusunan model edukasi Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan, serta Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) ke depan.
“Kita sudah dapat arahan dari Ngarso Dalem tentang bagaimana karakteristik masyarakat Yogyakarta, sehingga kita akan mengedepankan kearifan lokal dan budaya Yogyakarta dalam memberikan edukasi tentang bahaya narkoba. Ini akan kita sesuaikan, tentunya dengan mengedepankan kearifan lokal yang ada di Yogyakarta,” ujar Faried selepas pertemuan tersebut.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Kepala Bidang Pemberantasan BNNP DIY, Kombes Pol Trisaksono Puspo Aji, ditekankan bahwa visi mewujudkan "Yogyakarta Bersinar" (Bersih Narkoba) tidak dapat dicapai secara parsial.
Baca juga: Dolar Tembus Rp17.500, Disperindag DIY Klaim Harga Bahan Pokok Masih Stabil
BNNP DIY tengah memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY dan berbagai instansi terkait untuk menciptakan benteng pertahanan kolektif.
Faried menjelaskan bahwa sinergi ini merupakan kunci untuk menekan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di DIY.
“Sehingga dengan adanya sinergi bersama Pemda DIY maupun instansi terkait, untuk sama-sama bagaimana menciptakan, mewujudkan Yogyakarta ini bersinar, Yogyakarta yang bersih dari narkoba,” jelasnya.
Salah satu sasaran strategis dalam waktu dekat adalah lingkungan pendidikan.
Mengingat status Yogyakarta sebagai kota pelajar, BNNP DIY berencana menjalin kerja sama formal dengan berbagai perguruan tinggi guna memastikan kampus steril dari jangkauan sindikat narkotika.
Di tingkat operasional, BNNP DIY telah menggerakkan tim fasilitator hingga level desa atau kelurahan.
Tim ini mengintegrasikan peran pemerintah kelurahan, Bhabinkamtibmas, Babinsa, serta tokoh masyarakat sebagai garda terdepan pencegahan.
Faried mengakui bahwa menghapuskan narkoba secara total adalah tantangan besar, namun ia optimis kehadiran fasilitator di tingkat desa dapat memberikan dampak signifikan.
“Kita upayakan dapat mengurangi, mudah-mudahan ini bisa kita capai. Memang cukup sulit untuk menghilangkan, tetapi setidak-tidaknya kita dapat mengurangi penyalahgunaan narkoba,” tegasnya.
Di akhir keterangannya, Faried mengingatkan bahwa tanggung jawab pengawasan generasi muda harus kembali ke lingkungan terkecil, yaitu keluarga dan sekolah.
Perang terhadap narkoba bukan hanya tugas institusi penegak hukum, melainkan tanggung jawab moral seluruh elemen masyarakat.
“Harapan kami tentunya masyarakat juga ikut berpartisipasi, termasuk orang tua dan guru-guru dalam pengawasan anak-anak sekarang ini. Tidak hanya di kepolisian maupun di BNN saja, tetapi seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya. (*)