TRIBUNNEWSMAKER.COM - Wabah Hantavirus kembali memicu kekhawatiran dunia setelah virus tersebut dilaporkan menyebabkan korban jiwa di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina beberapa waktu lalu.
Kabar tersebut sontak membuat masyarakat di berbagai negara meningkatkan kewaspadaan, termasuk di Indonesia yang kini juga mulai menemukan sejumlah warga berstatus suspek hantavirus.
Situasi itu mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali mengeluarkan imbauan khusus kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap penyebaran virus mematikan tersebut.
Penyakit ini bukan sekadar infeksi biasa karena dapat berkembang menjadi gangguan serius seperti gagal ginjal, kerusakan paru-paru, hingga kondisi kritis yang mengancam nyawa.
Kepala Dinas Kesehatan Boyolali, FX Kristandiyoko, menjelaskan bahwa penularan paling sering terjadi saat seseorang membersihkan area kotor yang menjadi sarang tikus tanpa perlindungan memadai.
Menurutnya, aktivitas sederhana seperti membersihkan gudang, loteng, rumah kosong, atau tempat lembap ternyata bisa menjadi momen paling berbahaya bagi penularan hantavirus.
Baca juga: Waspada Hantavirus Masuk Indonesia, Januari-Mei 2026 Ada Temuan 4 Kasus dengan Gejala Ringan
"Penularan paling sering terjadi saat warga membersihkan gudang, loteng, atau rumah yang banyak tikus tanpa alat pelindung," kata FX Kristandiyoko.
Ia mengingatkan masyarakat untuk selalu menggunakan masker, sarung tangan, dan menjaga kebersihan lingkungan guna meminimalkan risiko paparan virus tersebut.
Kristandiyoko juga menegaskan bahwa hingga kini dunia medis belum memiliki antivirus maupun vaksin khusus untuk menyembuhkan hantavirus secara langsung.
“Pengobatan hanya suportif, mulai dari ICU, oksigen, ventilator, ECMO, sampai cuci darah kalau sudah gagal ginjal,” ujarnya.
Kondisi itulah yang membuat hantavirus sangat berbahaya karena pasien hanya bisa ditangani dengan perawatan intensif untuk mempertahankan fungsi organ tubuh selama melawan infeksi.
Dengan meningkatnya perhatian dunia terhadap virus ini, masyarakat diimbau tidak menganggap remeh keberadaan tikus di lingkungan sekitar dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, sesak napas, nyeri otot, atau gangguan ginjal setelah terpapar area kotor yang dipenuhi tikus.
Dinkes Boyolali meminta warga segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam disertai nyeri otot hebat, terutama di bagian punggung atau paha, sakit kepala, dan memiliki riwayat kontak dengan kotoran tikus dalam kurun 1-8 minggu sebelumnya.
Selain itu, masyarakat juga diminta waspada jika muncul gejala sesak napas, saturasi oksigen di bawah 94 persen, tekanan darah rendah, hingga produksi urine yang mulai berkurang.
Baca juga: Hantavirus Gegerkan Publik, Kemenkes Tegaskan Kasus di Indonesia Berbeda dengan di Kapal MV Hondius
Untuk mencegah penyebaran Hantavirus, Dinkes Boyolali menekankan tiga langkah utama pengendalian tikus di lingkungan rumah.
Pertama, menutup akses masuk tikus dengan menyumbat lubang lebih dari 0,5 sentimeter dan memasang kawat kasa.
Kedua, memutus sumber makanan tikus dengan menyimpan bahan makanan di wadah tertutup rapat serta membuang sampah setiap hari.
Ketiga, membersihkan kotoran tikus menggunakan metode basah, yakni memakai larutan pemutih dengan perbandingan 1:10 setelah didiamkan selama 5-15 menit sebelum dibersihkan.
Kristandiyoko menambahkan, jenis tikus pembawa Seoul virus di Indonesia adalah tikus rumah Rattus rattus dan tikus got Rattus norvegicus.
Karena hidup dekat dengan manusia, risiko penularan di kawasan permukiman padat perkotaan dinilai cukup tinggi.
Ia menjelaskan, penularan utama virus terjadi dari tikus ke manusia melalui aerosol urine dan feses tikus.
Sementara itu, tipe virus Andes di Amerika Selatan memang dapat menular terbatas antar manusia.
Namun, Seoul virus yang ditemukan di Indonesia dipastikan tidak menular dari orang ke orang.
Dinkes Boyolali juga mengajak masyarakat mengaktifkan program pengendalian rodensia terpadu melalui perbaikan sanitasi dan komunikasi risiko, sejalan dengan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
“Kalau ada riwayat bersihin gudang atau rumah banyak tikus lalu demam tinggi, segera sampaikan ke petugas puskesmas. Jangan tunggu sampai sesak atau gagal ginjal,” pungkasnya.
(Tribunnewsmaker.com/ TribunSolo/ Tri Widodo)