43 Tahun Warga Trimurjo Bertaruh Nyawa, Kini Jembatan Garuda Jadi Harapan Baru
Noval Andriansyah May 14, 2026 12:19 AM

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah – Puluhan tahun sudah Mujito (55), warga Kampung Purwoadi, menyimpan rasa was-was setiap kali melintasi sungai di desanya.

Sejak ia masih berusia 12 tahun, akses utama para petani menuju lahan hanyalah sebatang kayu licin yang melintang di atas derasnya arus.

Kini, kecemasan itu menguap. Sebuah struktur kokoh yang dinamai Jembatan Garuda mulai berdiri tegak, menghubungkan harapan warga yang sempat terputus selama hampir dua dekade.

Penantian warga Purwoadi dan Purwodadi, Kecamatan Trimurjo, Lampung Tengah, bukanlah waktu yang singkat.

Mujito mengenang bagaimana pada tahun 1983, para petani sempat patungan (swadaya) membangun jembatan dari gelagar bambu.

Baca juga: Pembangunan Jembatan Gantung Garuda Dikebut, Warga Lamteng Harap Ekonomi Meningkat

Namun, kekuatan bambu ada batasnya. Setiap dua tahun sekali, warga harus bergotong-royong melakukan rehabilitasi karena material yang lapuk dimakan usia.

"Setiap dua tahun sekali kami harus rehab. Sudah sering ada korban, setidaknya dua warga pernah terperosok ke sungai karena alas bambunya sudah lapuk," ujar Mujito, Rabu (13/5/2026).

Nada lega juga terdengar dari suara Edi Sanipo, Kepala Kampung Purwodadi. 

Baginya, jembatan ini adalah utang sejarah selama ia menjabat. 

Sejak tahun 2011, Edi tak lelah melayangkan proposal ke pemerintah daerah hingga jalur bantuan bencana, namun hasilnya selalu nihil.

"Semenjak 2011 sampai 2023 belum ada realisasi. Baru di tahun 2025 proposal kami dikabulkan pusat, dan alhamdulillah tahun 2026 ini pembangunan terwujud," kata Edi.

Menurutnya, urgensi jembatan ini memang vital. Selain jalur angkut hasil bumi, jembatan ini adalah urat nadi pendidikan bagi siswa SMP Negeri 1 dan SMA Negeri 1 Trimurjo. 

Tanpa jembatan ini, para siswa harus memutar jauh atau bertaruh nyawa di atas anyaman bambu yang goyah.

Pembangunan Jembatan Garuda ini merupakan bagian dari program seribu jembatan yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, yang dalam pelaksanaannya menggandeng jajaran TNI.

Danramil Trimurjo, Kapten Infanteri Sudarto, menyebutkan bahwa progres pembangunan saat ini telah mencapai 55 persen. Ia menargetkan jembatan ini bisa digunakan dalam waktu dekat.

"Tinggal menunggu rangka baja untuk bagian atasnya. Jika besi sudah datang, insya Allah dalam sepuluh hari jembatan sudah bisa di-launching dan digunakan warga," jelas Sudarto.

Menariknya, pembangunan ini memicu gelombang gotong royong yang luar biasa. Tanpa diperintah, warga berbondong-bondong datang ke lokasi proyek membawa bantuan.

"Masyarakat sangat antusias. Mereka membawa gula, kopi, hingga cemilan dari rumah masing-masing. Bahkan ada yang sukarela memasak di lokasi untuk membantu personel TNI. Semuanya dilakukan dengan tulus demi percepatan pembangunan," tambah Sudarto.

Kini, Jembatan Garuda bukan sekadar beton dan baja. Bagi warga Purwoadi dan Purwodadi, ia adalah simbol kemerdekaan dari rasa takut.

Jalan desa kini terasa lebih lebar, mobilitas petani kian lancar, dan orang tua tak lagi perlu cemas melepas anak-anak mereka pergi menuntut ilmu.

"Kami sangat bangga pemerintah memperhatikan kami. Terima kasih Bapak Presiden dan TNI, akhirnya impian kami terwujud tahun ini," tutup Mujito.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

Caption: Proses pembuatan jembatan gantung garuda di Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, Rabu (13/5/2026). (Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.