TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Kerinduan masyarakat Bali terhadap banyolan segar dan drama klasik khas tempo dulu dipastikan akan terobati.
Paguyuban Drama Gong Lawas (DGL) secara resmi mengonfirmasi kehadiran mereka kembali dalam perhelatan akbar Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 mendatang.
Grup legendaris yang menjadi primadona pada edisi sebelumnya ini dijadwalkan naik panggung pada 2 Juli 2026.
Lokasinya pun tetap di tempat ikonik yang selalu penuh sesak oleh penonton, yakni Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, Bali.
Kepercayaan untuk Menghibur Rakyat
Ketua Paguyuban Pecinta Seni Drama Gong Lawas, Anak Agung Gede Oka Aryana, SH., MKn., menyatakan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada DGL untuk kembali tampil merupakan wujud apresiasi terhadap seni pertunjukan tradisional yang masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Meskipun jadwal sudah dikantongi, Oka Aryana menyebutkan bahwa persiapan teknis dan pemilihan lakon baru akan dibahas dalam waktu dekat.
“Kita belum rapat. Nanti kalau sudah rapat saya info. Kita dapat jadwal pentas tanggal 2 Juli. Masih lama juga,” jelasnya pada, Rabu 13 Mei 2026.
Salah satu kekuatan DGL yang paling dinanti adalah kehadiran para pregina (seniman) kawakan yang sudah melegenda.
Baca juga: Sekeha Telung Barung Jadi Duta Denpasar Bali Untuk Lomba Tari Barong Pada PKB 2026
Oka Aryana menegaskan bahwa pihaknya tetap akan mempertahankan formasi lama yang telah menjadi identitas kuat grup ini.
“Yang dilibatkan pasti yang memang tergabung di grup DGL dari dulu,” tegasnya.
Pada pementasan tahun 2025 lalu, sebanyak 21 seniman lintas generasi sukses memukau penonton lewat lakon “Sanan Tuak”.
Nama-nama besar seperti Sang Ayu Ganti, Sang Ayu Tirta, hingga komedian ikonik seperti Komang Apel dan Mongkeg diprediksi akan kembali memperkuat jajaran pemain tahun depan.
Kembalinya DGL ke PKB bukan sekadar ajang nostalgia. Kesuksesan tahun lalu, yang bahkan mendapatkan apresiasi langsung dari Gubernur Bali Wayan Koster, membuktikan bahwa drama gong masih memiliki daya tarik magis sebagai hiburan yang sarat akan kritik sosial dan nilai moral.
Dengan meningkatnya antusiasme publik, kehadiran DGL di PKB 2026 diharapkan mampu menjembatani warisan seni tradisional Bali agar tetap relevan dan diminati oleh generasi muda di tengah gempuran budaya modern.