BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Suasana haru terlihat di salah satu ruang perawatan RSUD DR. (HC) IR Soekarno Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (13/5/2026). Seorang anak laki-laki tampak berbaring di atas tempat tidur medis dengan seprai hijau cerah sambil menjalani proses transfusi darah.
Di samping tempat tidurnya, berdiri tiang infus yang menopang kantong darah dan perangkat medis, menunjukkan bahwa pasien sedang menjalani sebuah tatalaksana perawatan.
Ia terus ditemani oleh seorang wanita paruh baya, yang mengenakan kerudung merah muda dan baju bermotif bunga.
Sesekali wanita itu membungkuk dan berinteraksi dengan sang anak, menunjukkan ekspresi perhatian serta kasih sayang.
Sosok perempuan tersebut adalah Fadia (40), yang sedang menemani anak kedunya untuk menjalani proses tranfusi darah karena penyakit Thalassemia.
Aktivitas serupa juga terlihat pada tiga tempat tidur medis lain, di salah satu ruang RSUD DR. (HC) IR Soekarno Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) tersebut.
Secara bersamaan, empat anak-anak ini memang sedang melaksanakan proses tranfusi darah, dengan pengawasan oleh petugas perawat yang bertugas di dalam ruangan.
Fadia mengisahkan, pada awalnya sang anak diketahui menderita Thalassemia ketika berusia sekitar 11 bulan. Saat itu, dirinya merasa khawatir karena terlihat sangat pucat.
"Waktu itu kita mikirnya cuma demam, seperti DBD atau Tipes. Tapi saat dibawa ke klinik, diperiksa HB nya cuma 6. Dari situ saya mencari informasi, ternyata HB rendah ini salah satunya ada karena Thalassemia," ujar Fadia, Rabu (13/5/2026) kemarin.
Menurutnya, setelah mencari sedikit informasi dari internet, ia memberanikan cek darah hingga akhirnya didiagnosis Thalassemia.
"Saat itu, dari awal periksa sampai diketahui Thalassemia, mungkin rentang waktunya tiga bulan," tuturnya.
Warga Kota Pangkalpinang tersebut menjelaskan, berdasarkan hasil konsultasi bersama dokter, penderita Thalassemia dianjurkan untuk melakukan tranfusi darah rutin agar Hemoglobin (HB) mereka tetap terjaga.
"Kalau kami mencari informasi Thalassemia ini bisa ditangani transplantasi sumsum tulang (BMT), tapi itu biaya sangat mahal, rumah sakit harus di luar, kemudian kemungkinan berhasilnya cuma 50 persen. Jadi satu-satunya untuk memperbaiki hidup tadi dengan tranfusi darah," terangnya.
Dirinya menjelaskan, demi menjaga kesehatan sang anak tetap stabil, kini proses tranfusi darah paling tidak dilakukan dalam periode tiga sampai empat minggu sekali.
"Karena itu kan agar HB nya tetap stabil. Jadi rutin dilakukan," tambahnya.
Dikatakan Fadia, meski seluruh biaya ketika melakukan tranfusi darah rutin sepenuhnya ditanggung BPJS, dirinya sering merasa khawatir terkait ketersediaan kantong darah.
Padahal setiap orang tua harus keluar untuk mengambil daerah di kantor PMI sebelum melakukan tranfusi.
"Setiap tranfusi itu dua kantong darah, belum lagi ketika terkendala darahnya kosong, harus menunggu orang donor dulu. Jadi syukur-syukur kalau langsung tersedia dua kantong darah yang dibutuhkan itu," kata dia.
Berkaca apa yang sudah dialaminya, secara khusus Fadia berharap masyarakat bisa lebih sadar akan potensi munculnya penyakit Thalassemia.
Untuk itu ia berpesan agar setiap calon orang tua dapat melakukan skrining awal sebelum memilih pasangan.
"Skrining itu penting, kalau pasangannya sama-sama tidak membawa sifat (potensi Thalassemia) Alhamdulillah. Yang penting jangan sampai seperti kami. Memang anak kan amanah untuk kita, harus dijaga, tapi kalau bisa jangan ada lagi yang menderita Thalassemia ini," tutupnya. (Bangkapos.com/Rifqi Nugroho)