BANJARMASINPOST.CO.ID - Pasangan artis Al Ghazali dan Alyssa Daguise sedang berbahagia atas kelahiran putri pertama yang bernama Soleil Zephora Ghazali.
Tak sampai setahun menikah, Al Ghazali dan Alyssa Daguise kini menyandang status sebagai orangtua.
Diketahui, Baby Soleil lahir lewat persalinan normal, Minggu (10/5/2026) di Rumah Sakit JWCC Asih, Jakarta Selatan.
Diharapkan Al, kelahiran Soleil bisa membuat satu karakter ibunya, Maia Estianty berubah.
Dia berharap, karakter ibunya berubah menjadi sosok yang lebih feminin.
Mengingat Maia memiliki tiga anak yang semuanya laki-laki.
Baca juga: Wajah Asli Baby Soleil Anak Al Ghazali dan Alyssa Diungkap Ahmad Dhani, Beda Jauh dari yang Beredar
Baca juga: Kala Teddy Pardiyana Incar Warisan Lina, Sule Sentil Penghasilan Rizky Febian Cs Kini
"Ya Bunda kan punya anak tiga cowok semua. Ini dikasih cucu pertama cewek pastinya bakal membawa Bunda lebih feminin," terang Al, dikutip dari YouTube Cumicumi, Kamis (14/5/2026).
Disinggung soal harapannya setelah kelahiran sang putri, Al tak bisa menguraikannya.
"Banyaklah harapanku ya," tandas pria 28 tahun itu.
Di kesempatan itu, Al juga menceritakan reaksi kedua adiknya, El Rumi dan Dul Jaelani saat Soleil lahir.
"Kaget sih, kayak oh udah jadi Om. Terus ini kan keponakan pertama juga, cewek juga. El pengen cepet nyusul sih, ngelihat adik bayi kepikiran buat nyusul," selorohnya.
Sebelumnya, momen Alyssa melahirkan diabadikan dalam vlog YouTube terbaru Maia ALELDUL TV.
Terlihat Al masih tak bisa berkata-kata setelah menyaksikan istrinya berjuang melahirkan.
Maia menanyakan perasaan sulung dari tiga bersaudara itu.
"Udah lihat rasanya Ibu melahirkan, gimana?" tanya Maia, dikutip Rabu (13/5/2026).
Al langsung memeluk Maia saat mendapati pertanyaan itu.
"Jangan durhaka sama Ibu," balas Al sembari menciumi kening istri Irwan Mussry itu.
"Langsung inget Ibu, apalagi dulu aku 12 jam (lahirnya)," sambung Al.
"Love you," ucap Al ke Maia, sambil mencium kening Bundanya lagi.
"Love you too," balas Maia.
Di kesempatan itu, Al mengaku tak mampu menggambarkan apa yang ia alami.
"Pengalamannya, nggak bisa dideskripsikan dengan kata-kata," ungkapnya menggeleng-gelengkan kepala.
"Tadi pas brojol, wow, sesuatu yang luar biasa. Allah Maha Baik. Keajaiban yang luar biasa," aku Al.
Ayah Alyssa Daguise, Richard Vincent Daguise diketahui ikut menemani proses persalinan putrinya.
Pria yang akrab disapa Richard Daguise ini mengatakan, Alyssa Daguise menjalani proses persalinan selama delapan jam.
"Nggak terlalu lama sih, mulai prosesnya kan dari jam 12.00 lah semalam ya. Terus melahirkan tadi pagi jam 8, prosesnya 8 jam," ujar Richard dikutip dari YouTube Intens Investigasi, Senin (11/5/2026).
Terang-terangan pria keturunan Perancis ini mengaku masih tak menyangka telah menjadi kakek.
Kendati demikian, mertua Al Ghazali ini tetap merasa bahagia telah memiliki cucu.
"Rasanya overwhelming (luar biasa) ya masih coba apa namanya proses semua. Karena memang semuanya kan masih capek ya semalaman di sini jadi tapi yang jelas bahagia," akunya.
Di momen itu pria yang pernah menjabat sebagai President Mesa Europe tahun 2013 hingga 2019 ini mengungkap arti nama cucunya.
Kata 'Soleil' diambil dalam Bahasa Perancis yang berarti matahari.
"Soleil itu artinya matahari," ungkapnya.
Setelah menjalani persalinan normal, kondisi Alyssa Daguise pun kini disebut telah berangsur membaik.
"Kondisi (Alyssa) baik, cuma capek sekali, Al juga capek," bebernya.
Perubahan sikap orangtua yang dulu keras saat membesarkan anak menjadi lebih lembut ketika memiliki cucu merupakan fenomena yang cukup umum terjadi.
Psikolog klinis Rumah Sakit DR Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., mengatakan fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui psikologi perkembangan.
Saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (24/2/2026), Joko menjelaskan bahwa dalam teori psikososial Erik Erikson, individu yang memasuki masa lanjut berada pada fase tertentu dalam perkembangan hidupnya.
“Fenomena ini cukup umum ya di dalam psikologi perkembangan. Menurut teorinya tahap psikososialnya dari Erik Erikson, individu yang memasuki masa lanjut itu berada pada fase generativity,” ujar Joko.
Ia menambahkan bahwa fase ini dapat berlanjut pada tahap integrity versus despair.
“Fase ini seseorang ini cenderung ingin mewariskan nilai cinta dan rasa aman, jadi bukan lagi sekadar menegakkan disiplin,” katanya.
Kematangan emosi di usia lanjut
Selain faktor fase perkembangan, usia juga memengaruhi kestabilan emosi seseorang.
“Seiring dengan bertambahnya usia, pengendalian atau regulasi emosi ini biasanya lebih stabil,” jelas Joko.
Ia mengatakan banyak kakek dan nenek telah melewati fase perjuangan ekonomi dan tekanan dalam membesarkan anak.
“Mereka tidak lagi ada dalam posisi harus mendidik keras demi bertahan hidup,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat pendekatan kepada cucu menjadi lebih santai dan penuh kehangatan.
Refleksi dan penyesalan masa lalu
Perubahan sikap juga dapat dipengaruhi oleh refleksi terhadap masa lalu.
“Banyak orangtua yang menyadari bahwa dulu itu mereka terlalu keras,” kata Joko.
Menurut dia, kehadiran cucu bisa menjadi kesempatan kedua untuk mengekspresikan rasa sayang secara lebih terbuka.
Joko juga menjelaskan bahwa perubahan konteks zaman turut memengaruhi pola pengasuhan.
“Kalau kita ingat dulu gaya pengasuhannya cenderung otoriter, dipukul, karena norma-norma sosial, kondisi ekonomi, pola asuh yang turun-temurun,” katanya.
Ia menambahkan bahwa saat ini informasi mengenai parenting jauh lebih mudah diakses.
“Sekarang karena informasi ini sudah cukup banyak tentang parenting, maka nilai pengasuhan ini lebih menekankan kelekatan emosional,” jelas Joko.
Perbedaan peran orangtua dan kakek-nenek
Menurut Joko, perbedaan peran juga menjadi faktor penting. Peran sebagai orangtua jelas berbeda dengan saat sudah menjadi kakek atau nenek.
“Sebagai orangtua mereka bertanggung jawab pada pembentukan karakter dan disiplin. Sebagai kakek-nenek itu perannya lebih pada memberikan dukungan emosional,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perubahan ini biasanya merupakan kombinasi antara kematangan usia, refleksi hidup, dan perubahan konteks sosial.
“Perubahan ini biasanya kombinasi antara kematangan usia, refleksi hidup dan juga perubahan konteks sosial,” kata Joko.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa manusia terus berkembang sepanjang hidupnya.
“Tidak ada manusia yang stuck. Terus galak ya galak terus itu tidak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kelembutan di usia lanjut bukan bentuk ketidakadilan, melainkan tanda bahwa seseorang telah belajar dari pengalaman hidupnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Tribunnews.com)