TRIBUNJAKARTA.COM, TAMAN SARI - Hiruk-pikuk wisatawan yang memadati kawasan Kota Tua Jakarta setiap akhir pekan menyimpan jejak sejarah panjang Jakarta.
Jauh sebelum dikenal sebagai Batavia pada masa kolonial Belanda, kawasan itu ternyata sudah menjadi pusat bandar sejak abad kedua.
Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra mengatakan, kawasan yang kini dikenal sebagai Kota Tua Jakarta itu sejatinya merupakan pusat bandar dan perdagangan yang telah eksis jauh sebelum kolonialisme hadir di Nusantara.
“Kalau kita ngomong Kota Tua itu, lokasi itu bukan saja terjadi pada masa kolonial. Sebelum itu kota itu memang sudah dulu namanya bandar,” kata Yahya dalam program Sisi Lain Metropolitan berjudul "Kota Tua: Antara Sejarah dan Mereka yang Bertahan" di kanal Youtube TribunJakarta.com dikutip Kamis (14/5/2026).
Menurut Yahya, dalam sejumlah manuskrip kuno yang dibahas dalam kongres sejarawan abad ke-17, wilayah Nusantara sudah dikenal sejak abad kedua.
Saat itu, kawasan Jakarta dikenal sebagai Bandar Salaka, mengikuti nama kerajaan Salakanagara.
“Di abad kedua itu kota ini namanya bandar. Yang disebut Kota Tua itu bandar, bandar yang mengikuti nama kerajaan. Bandar Salaka karena di abad kedua itu Salakanegara,” ujarnya.
Nama kawasan itu kemudian terus berubah mengikuti kekuasaan kerajaan yang memimpin wilayah tersebut.
Saat Tarumanagara berkuasa pada abad kelima, kawasan itu disebut Bandar Taruma. Lalu pada masa Kerajaan Sunda Pajajaran berubah menjadi Sunda Kelapa.
“Memang konsentrasi orang karena itu kota bandar, maka konsentrasinya terbatas hanya pada kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa sampai kepada kawasan yang sekarang kita sebut sebagai tempat berdirinya Museum Sejarah Jakarta,” katanya.
Yahya menjelaskan, kawasan itu mulai berubah besar ketika kolonial Belanda membangun Batavia pada 1619 di atas reruntuhan Jayakarta.
Infrastruktur kota mulai ditata lengkap dengan kanal-kanal yang menyerupai tata kota di Belanda.
“Jadi memang dia menjadi kota persinggahan yang sangat ramai dari JP Coen membangun kota itu dari yang dulu namanya Jayakarta menjadi Batavia,” tutur dia.
Sejak saat itu, kawasan pesisir hingga Glodok dan Pinangsia berkembang menjadi pusat pemerintahan kolonial VOC.
Gedung yang kini dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta dulunya merupakan kantor Gubernur Jenderal VOC. Sementara Museum Keramik dan Seni Rupa pernah difungsikan sebagai kantor pengadilan kolonial.
“Kalau masa lalu di abad ke-17 kemudian awal abad 18, kalau ada para penjahat itu mereka diadili, kemudian ada tempat mengeksekusi para penjahat yang digantung,” ujar Yahya.
Ia juga menuturkan, ruang bawah tanah Museum Sejarah Jakarta dahulu dijadikan penjara bagi tahanan pribumi maupun pihak yang dianggap melawan pemerintah kolonial.
Bagi masyarakat pribumi saat itu, Batavia bukan sekadar kota perdagangan, melainkan simbol ketimpangan sosial. Yahya menyebut masyarakat kolonial kala itu dibagi dalam tiga kelas sosial.
“Kelas utama itu orang-orang putih terutama penjajah Belanda. Peringkat kedua masyarakat timur asing seperti Cina, Arab, Jepang. Nah, kita ini disebut inlander, pribumi yang enggak ada harganya,” katanya.
Menurut Yahya, kawasan Kota Tua perlahan ditinggalkan pada akhir abad ke-18 karena padat penduduk, wabah penyakit, serta kondisi kanal yang kotor dan menimbulkan malaria.
“Orang-orang penting VOC banyak yang terserang malaria dan muntaber. Oleh karena itu di akhir abad ke-18 berbarengan dengan bangkrutnya VOC 1799, pusat pemerintahan dipindahkan ke selatan,” ujar dia.
Pusat pemerintahan kolonial kemudian bergeser ke kawasan Weltevreden yang kini dikenal sebagai area Gambir meliputi Monas, Lapangan Banteng, hingga Istana Negara.
Meski menyimpan banyak cerita kelam kolonialisme, Yahya menilai Kota Tua tetap menjadi pengingat penting perjalanan Jakarta sebagai kota terbuka dan multikultural.
“Jakarta itu dari dulu enggak berubah dari sisi demografi. Dia tempat berkumpulnya banyak bangsa. Kota ini kota yang terbuka,” katanya.
Ia pun mengaku bangga dengan wajah Jakarta yang tetap memelihara keberagaman sejak dahulu hingga sekarang.
“Yang berubah itu infrastrukturnya. Tapi sifat dia sebagai kota yang bersama-sama, kota multikultur itu dari dulu sampai sekarang enggak berubah,” ucap Yahya.