Mengenal Rangkaian Tradisi Betawi dalam Siklus Kehidupan: Dari Mantra untuk Bayi hingga Sedekah Bumi
Jaisy Rahman Tohir May 14, 2026 01:53 PM

TRIBUNJAKARTA.COM - Budaya Betawi memiliki berbagai tradisi yang mengiringi perjalanan hidup manusia. Hampir setiap fase kehidupan ada ritualnya tersendiri.

Tradisi itu dimaksudkan untuk mendoakan keselamatan dan mengharap ridha Tuhan dalam menapaki jenjang kehidupan baru.

Namun, di tengah arus globalisasi dan modernitas yang semakin mendekap Jakarta, adat istiadat Betawi mulai ditinggalkan bahkan hampir punah.

Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menceritakan kembali berbagai ritual Betawi itu di Podcast Ruang Jakarta, yang tayang di Youtube @RuangJakartaPodcast.

Masa Kandungan

Yahya menjelaskan, tradisi Betawi bahkan sudah mengiringi kehidupan manusia sejak masih berada di dalam kandungan, yakni tujuh bulanan.

Pada usia kehamilan tujuh bulan, orang tua si bayi mengadakan syukuran mengundang kerabat dan tetangga untuk mendoakananaknya yang masih di dalam kandungan agar senantiasa sehat dan menjadi anak yang saleh atau salehah saat lahir kelak.

Mantra untuk Bayi Baru Lahir

Setelah lahir, tradisi Betawi adalah mengazankan telinga si bayi. Lalu bibir si bayi dioleskan madu, dan kepalanya dibasuh pakai air bersih.

"Bibirnya dipakaiin madu, embun-embunannya diopyok-opyok sama air putih yang sudah dibaca-bacain. Kemudian diazanin tentang kuping kanan, kuping kiri," kata Yahya.

Tak hanya itu, bayi yang baru lahir juga dibacakan semacam mantra yang maknanya mendoakan keselamatan dalam menjalani hidup.

“Nanti dibacain mantra-mantra. Misalnya, ‘Punya mata jangan selihat-lihatnya, punya kuping jangan sedengar-dengarnya, punya mulut jangan sekata-katanya, punya tangan jangan seraba-rabanya, punya kaki jangan sejalan-jalannya. Alllahuakbar, Allahukahfi, Allahumuwafiq’,” kata Yahya mempraktikan bacaan mantra yang dimaksud.

Yahya menjelaskan, tradisi tersebut merupakan perpaduan budaya Betawi dengan nilai-nilai Islam yang berkembang di masyarakat, dan tidak ada unsur syirik di dalamnya.

Tumbuh Kembang Anak

Selain ritual kelahiran, masyarakat Betawi juga memiliki berbagai upacara lain dalam fase tumbuh kembang anak.

Mulai dari upacara injak tanah, nyapih atau berhenti menyusu, hingga khataman Al Quran dan sunatan.

“Nah begitu terus siklusnya sampai nanti dia kawin lagi sampai meninggal dunia,” katanya.

Sedekah Bumi

Saat dewasa, masyarakat Betawi yang berakar pada kehidupan agraris, memiliki tradisi baritan atau sedekah bumi.

Yahya menjelaskan, sedekah bumi lahir sejak masa Hindu. Yakni mempersembahkan hasil bumi kepada alam sebagai representasi Dewi Sri, Dewi Kesuburan.

"Kalau waktu zaman Hindunya tuh itu diperuntukkan Dewi Sri. Jadi semua tuh maka di situ muncul nanti ada memberikan persembahan kepada kekuatan di timur, di utara, di selatan, di barat, di pusat. Persembahan itu dengan cara suguhan, suguhan itu ancakan. Terus kemudian dia potong kebo. Ancakan itu isinya daging-daging kebo. Iya. Semua yang dihasilkan dari bumi. Hasil panennya apa yang hidup di atas bumi. Jadi baik udah diolah maupun belum diolah."

"Jadi kalau kita melihat, ada dodol, ada kue, dongkal, ada apem, ada rujak, ada ini, ada ini, ada semuanya termasuk yang belum diolah, pisang rambutan segala macam juga termasuk kelengkapan-kelengkapan lain ya. Ada nasi kuning, ada bekakak, komplit lah," papar Yahya.

Saat ini, tradisi sedekah bumi masih dilestarikan di kawasan Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

Namun, fungsi utamanya sudah berubah, seiring perubahan corak masyarakatnya yang tak lagi bergantung pada pertanian maupun perkebunan.

"Jadi, fungsinya dimanfaatkan untuk silaturahim, untuk promosi, untuk pengenalan kepada masyarakat kembali. Jadi bukan masyarakat petani lagi sekarang yang di situ. Tapi semua unsur-unsur itu dibawa tuh ke namanya, ada keramat, Keramat Ganceng. Dia juga dia potong kebo. Sekarang kalau kebo kebo itu sudah mahal maka diganti sama kambing," kata Yahya.

Yahya mengaitkan makna persembahan kerbau atau kambing pada sedekah bumi laiknya syariat Islam yang memiliki makna pengorbanan dan ketaatan kepada Allah SWT.

"Tapi mungkin, kemungkinan juga ini melihat dari melihat dari peristiwa Nabi Ismail kali ya kalau menurut saya. Ternyata pengorbanan itu keikhlasan Ismail. pasrah kepada babanya untuk motong dia di tenggal dia punya lehernya itu kepasrahan itu yang dicari," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.