Studi Terbaru, Enam dari 10 Anak Muda Urban Indonesia Lebih Memilih Swadiagnosis Saat Sakit
Anita K Wardhani May 14, 2026 03:36 PM

 

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Fenomena swadiagnosis atau self-diagnosis di kalangan anak muda urban Indonesia kian menjadi perhatian serius di dunia kesehatan.


Swadiagnosis (self-diagnosis) adalah tindakan mengidentifikasi gangguan kesehatan fisik maupun mental tanpa keahlian medis, biasanya berdasarkan pencarian internet, pengalaman pribadi, atau informasi tidak resmi.

Baca juga: Pemanfaatan AI Semakin Meluas, Kini Dipakai untuk Diagnosis Pasien Kanker Payudara

 

Studi terbaru Health Collaborative Center (HCC) mengungkap hampir 60 persen anak muda di bawah usia 40 tahun memilih melakukan swadiagnosis terlebih dahulu saat mengalami keluhan kesehatan, tanpa langsung berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan.

Penelitian yang dilakukan pada Maret–Mei 2026 ini menggunakan pendekatan mixed-method dengan melibatkan 448 responden dari berbagai kota besar, seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

Ketua peneliti sekaligus Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menilai fenomena ini bukan sekadar perubahan perilaku digital, melainkan telah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban.

“Swadiagnostik saat ini sudah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban. Internet, mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi ‘dokter pertama’ sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan,” ujar Ray di Jakarta, Selasa (13/5/2026).

STETOSKOP DOKTER - Ilustrasi stetoskop yang diunduh dari Freepik.com, Kamis (17/4/2025).
STETOSKOP DOKTER - Ilustrasi stetoskop yang diunduh dari Freepik.com, Kamis (17/4/2025). (Freepik.com/Dragana Gordic)

Fenomena ini berkaitan dengan istilah cyberchondria, yakni meningkatnya kecemasan kesehatan akibat pencarian informasi medis secara berlebihan di internet.

Penelitian juga mencatat 36 persen responden melakukan swamedikasi tanpa konsultasi dokter, sementara 27 persen mengabaikan resep medis karena bertentangan dengan informasi dari internet.

Baca juga: Studi HCC: Satu dari 3 orang Indonesia Menolak Ibu Menyusui di Tempat Umum

Menariknya, 57 persen hasil swadiagnosis ternyata sesuai dengan diagnosis dokter. Namun, Dr. Ray menegaskan hal ini tidak berarti swadiagnosis sepenuhnya akurat.

“Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya beberapa kali terbukti benar, maka kepercayaan terhadap swadiagnosis akan meningkat. Ini bisa membentuk ilusi kompetensi medis semu,” jelasnya.

Studi ini juga menemukan bahwa responden dengan riwayat penyakit kronis memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar melakukan swadiagnosis. HCC menyebut kondisi ini sebagai bentuk system fatigue di masyarakat urban.

“Sebagian masyarakat merasa datang ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu, biaya, dan energi emosional yang besar. Internet akhirnya dianggap lebih cepat, praktis, dan murah,” ujar Dr. Ray.

Lebih dari separuh responden mengaku lebih nyaman melakukan swadiagnosis dibanding langsung ke fasilitas kesehatan.

HCC menilai fenomena ini menjadi sinyal bahwa sistem kesehatan modern kini tidak hanya berhadapan dengan penyakit, tetapi juga banjir informasi digital yang tidak selalu akurat.

“Ke depan, tantangannya bukan melarang masyarakat mencari informasi kesehatan di internet, tetapi membangun literasi kesehatan digital yang sehat dan bertanggung jawab,” kata Ray.

Ia menambahkan, peningkatan literasi kesehatan digital perlu menjadi agenda nasional di era kecerdasan buatan dan algoritma media sosial yang semakin memengaruhi keputusan kesehatan masyarakat.

Studi ini juga mencatat bahwa kepercayaan terhadap tenaga medis masih relatif tinggi, namun internet kini semakin sering digunakan sebagai alat rekonfirmasi terhadap diagnosis dan terapi dari dokter.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.