Waspada Monkey Malaria, Deforestasi Hutan Buat Nyamuk Pembawa Penyakit Makin Dekat
Adi Suhendi May 14, 2026 04:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pembukaan hutan menjadi kebun sawit, tambang, hingga permukiman bukan hanya mengubah lanskap alam tetapi bisa berdampak terhadap munculnya ancaman penyakit.

Satu penyakit yang ditimbulkan pembukaan hutan di antaranya malaria knowlesi atau yang dikenal masyarakat sebagai “monkey malaria”.

Dokter spesialis anak konsultan infeksi penyakit tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) , Dr Inke Nadia Diniyanti Lubis mengatakan malaria knowlesi sebenarnya bukan penyakit baru di dunia medis.

Namun, masyarakat Indonesia masih banyak yang belum memahami ancaman penyakit Monkey Malaria.

“Saya tahu di Indonesia ini masih banyak sekali masyarakat yang belum cukup paham,” ujarnya pada media briefing virtual, Kamis (14/5/2026).

Ia mengingatkan istilah “monkey malaria” sebaiknya tidak digunakan sembarangan agar tidak memicu stigma terhadap monyet.

Baca juga: Peringatan Hari Malaria Sedunia, Dokter Pastikan Penyebaran Malaria Bisa Dicegah

“Kalimatnya harus kita hindarkan karena tidak ingin menimbulkan stigma terkait monyet ataupun kera yang ada di sekitar kita,” katanya.

Menurut Dr Inke, malaria knowlesi merupakan malaria zoonotik, yakni penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia.

Parasit penyebabnya bernama plasmodium knowlesi dan biasanya hidup pada monyet ekor panjang serta monyet beruk.

Namun, penularannya tidak terjadi langsung dari monyet ke manusia.

Baca juga: KLB Malaria di Kabupaten Parimo Sulteng, Epidemiolog Ingatkan Eliminasi Tak Berarti Bebas Selamanya

“Infeksi ini ternyata bisa menular dari monyet ke manusia melalui gigitan nyamuk,” ucapnya.

Hal menarik, Dr Inke menyoroti bagaimana perubahan hutan  membuat manusia, monyet, dan nyamuk kini hidup di ruang yang semakin berdekatan.

“Dengan terjadinya deforestasi dan juga alih fungsi lahan, maka habitat daripada hewan-hewan liar, termasuk monyet ini, menjadi hilang,” ujarnya.

Hutan yang dulu menjadi habitat satwa berubah menjadi kebun, lahan pertanian, hingga desa.

“Karena terjadi alih fungsi lahan, manusia masuk ke dalam habitat yang baru, sehingga berbagi ruang yang sama dengan monyet,” katanya.

Nyamuk Jadi ‘Jembatan’ Penularan

Dr Inke menjelaskan, monyet sebenarnya tidak selalu keluar dari hutan.

Namun, nyamuk penular malaria knowlesi bergerak dari kawasan hutan ke pinggir hutan hingga area tempat manusia tinggal.

“Nyamuklah yang bersirkulasi atau berdistribusi di daerah hutan dan juga di pinggir hutan,” jelasnya.

Nyamuk Anopheles dari kelompok leucosphyrus itu aktif pada waktu tertentu.

“Mereka terutama aktif di waktu dari maghrib ataupun senja hingga fajar di pagi hari,” ujar Dr Inke.

Artinya, pekerja kebun, petani, pekerja tambang, pencari rotan, hingga warga yang tinggal di sekitar hutan menjadi kelompok paling rentan.

Kasus malaria knowlesi kini mulai dilaporkan di Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi.

“Kasus yang paling banyak dicatat oleh Dinas Kesehatan itu berasal dari Provinsi Aceh,” ungkap Dr Inke.

Hal yang mengkhawatirkan, pola di Aceh mulai mirip dengan Malaysia.

Malaysia sebelumnya berhasil menekan malaria biasa pada manusia, tetapi kini justru menghadapi lonjakan malaria knowlesi.

“Di tahun 2026 saja sudah ada 357 kasus dilaporkan, dengan satu sampai kematian,” katanya.

Dr Inke menilai malaria knowlesi menjadi contoh nyata bagaimana kerusakan lingkungan dapat berdampak langsung pada kesehatan manusia.

“One Health ini merupakan pendekatan yang mempertimbangkan kesehatan manusia itu sangat tergantung terhadap kesehatan hewan dan juga kesehatan lingkungan,” ujarnya.

Artinya, ancaman penyakit baru tidak selalu muncul dari virus baru semata, tetapi juga dari perubahan hubungan manusia dengan alam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.