Sikap Arogan 2 Juri LCC 4 Pilar MPR karena Tak Kunjung Minta Maaf, Analisa Pengamat
Noval Andriansyah May 14, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Sikap dua juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat dinilai masih arogan, lantaran belum juga menyampaikan permintaan maaf secara langsung, usai polemik penilaian yang viral di media sosial.

Sorotan itu disampaikan Pengamat Pendidikan, Indra Charismiadji, terhadap dua juri yakni Dyastasita Widya Budi dan Indri Wahyuni.

Kontroversi LCC tersebut bermula saat regu C dari SMAN 1 Pontianak memprotes keputusan juri yang menyatakan jawaban mereka salah dalam sesi rebutan soal mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Jawaban yang disampaikan Josepha Alexandra alias Ocha dinilai salah dan membuat timnya mendapat pengurangan poin lima.

Namun ketika regu lain dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang dianggap sama persis, juri justru menyatakan benar dan memberikan tambahan 10 poin.

Baca juga: MC Shindy Disebut Mirip Buzzer Buntut Bela Juri LCC 4 Pilar MPR, Padahal Salah

Meski peserta telah menyampaikan protes, dewan juri tetap mempertahankan keputusan mereka.

Pembawa acara saat itu juga menegaskan bahwa keputusan juri bersifat mutlak.

Video perdebatan tersebut kemudian viral dan menuai kritik luas dari masyarakat.

Dikutip dari Tribunnews.com, menurut Indra Charismiadji, hingga kini belum ada permintaan maaf langsung dari kedua juri yang terlibat.

Ia justru melihat sikap mereka masih menunjukkan arogansi terhadap keputusan yang telah dibuat.

“Saya belum melihat dari para juri yang melakukan misalnya membuat pernyataan maaf secara resmi kan begitu. Jadi sepertinya masih sangat arogan dengan keputusan mereka,” ujarnya dikutip dari YouTube Kompas TV, Kamis (14/5/2026).

Indra menilai seharusnya para juri melakukan pengecekan ulang terlebih dahulu terhadap jawaban peserta, apalagi sempat muncul dugaan gangguan audio di lokasi perlombaan.

“Mungkin betul permasalahannya dengan masalah audio, kan katanya speakernya bermasalah jadi enggak kedengaran. Tapi kan justru malah arogansi yang muncul,” katanya.

Ia juga menyoroti komentar juri Indri Wahyuni yang menyinggung soal artikulasi peserta saat memberikan jawaban.

Menurut Indra, pernyataan tersebut justru terkesan merendahkan peserta didik.

“Kalau tidak jelas, juri akan mengatakan itu salah. Gimana sih ini? Ini kan salah satu bentuk perundungan sebetulnya karena ada relasi kuasa kan,” tegasnya.

Indra menilai dalam situasi tersebut terlihat adanya ketimpangan kekuasaan antara dewan juri dan peserta lomba.

“Bagaimana si kuat, para juri, yang punya kuasa punya otoritas betul-betul menekan, merundung mereka yang lemah,” lanjutnya.

Sementara itu, pembawa acara yang ikut terseret polemik diketahui sudah menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf kepada publik.

Namun menurut Indra, MC tersebut justru disebut kehilangan banyak pekerjaan setelah insiden viral tersebut.

Di sisi lain, pihak Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia sebelumnya juga telah menyampaikan permohonan maaf resmi dan berjanji melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan LCC Empat Pilar agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Ketua MPR Sebut Juri Tak Perlu Minta Maaf

Namun, di sisi lain, Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengatakan juri LCC itu tidak perlu lagi menyampaikan permohonan maaf secara pribadi kepada publik, terkait polemik penilaian final lomba tersebut. 

Sebab, kata Muzani, permohonan maaf yang sebelumnya telah disampaikan pimpinan dan Sekretariat Jenderal MPR sudah mewakili seluruh unsur penyelenggara, termasuk para juri. 

“Di lembaga MPR kan sudah disampaikan oleh Sekjen, salah satu pimpinan kita juga sudah menyampaikan permohonan maaf. Jadi itu sudah mewakili keseluruhan termasuk juri, karena ini adalah kegiatan lembaga, bukan kegiatan orang perorang,” kata Muzani saat konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Begitu pun dengan Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah, dia juga menegaskan bahwa para juri adalah bagian dari kesekretariatan MPR, sehingga permohonan maaf dari mereka sudah terwakilkan secara kelembagaan.

“Juri ini adalah perwakilan dari kesekretariatan. Jadi seperti rilis mungkin yang sudah disampaikan beberapa hari yang lalu, itu permohonan maaf dari kesekretariatan yang dalam arti kata saya menyampaikan permohonan maaf untuk kegiatan tersebut,” ujar Siti Fauziah.

Siti pun menjelaskan bahwa permohonan maaf atas polemik LCC di Kalbar tidak lagi bersifat personal, melainkan mewakili seluruh penyelenggara kegiatan. 

“Jadi sudah tadi disampaikan itu sudah mewakili dari satu kegiatan. Artinya bukan personal lagi, tapi itu adalah kelembagaan kesekretariatan yang langsung meminta maaf,” kata dia.

MPR RI kemudian memutuskan final LCC Empat Pilar tingkat Kalbar itu akan diulang setelah polemik penilaian pada babak final menuai protes peserta dan sorotan publik.

Terkait dengan waktunya, keputusan itu akan diambil setelah pimpinan MPR mendengarkan penjelasan dari Sekretaris Jenderal MPR terkait polemik yang terjadi dalam final LCC Empat Pilar di Kalbar.

Pimpinan MPR nantinya juga akan mengawasi langsung jalannya perlombaan ulang dari awal hingga akhir.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.