Renungan Harian Kristen 15 Mei 2026 - Diujung Sebuah Kisah
Bacaan ayat: Hakim-hakim 16:28 (TB) Berserulah Simson kepada TUHAN, katanya: "Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin."
Oleh Pdt Feri Nugroho
RIP: Rest in Peace. Beristirahat dengan tenang. Ini adalah akhir sebuah kisah.
Sebuah pengharapan bahwa yang telah dipanggil Tuhan, telah tenang dari hiruk-pikuknya dunia, menanti janji Tuhan saat Yesus datang kembali dan semua orang percaya akan dibangkitkan.
Ada banyak kisah yang telah tergores saat ia ada di bumi. Suka dan duka silih berganti.
Pahit getirnya kehidupan menjadi warna yang membekas pada setiap hati yang bersentuhan dengannya. Pada ujung kisah, ketenangan yang didapat saat setia sampai akhir.
Dua puluh tahun Simson tampil sebagai hakim. Tidak banyak catatan tentang dia, kecuali sepenggal kisah asmara yang rumit, menghantarnya pada penjara.
Kehidupannya terlalu singkat untuk diceritakan, padahal berada pada angka dua puluh tahun.
Kali ini pun kita hanya mendapatkan sepenggal cerita diujung sebuah kisah. Orang-orang Filistin bersama para raja lain datang untuk merendahkan, menghina dan mentertawakan Simson buta.
Ia diminta untuk tampil melawak, sementara hiruk pikuk orang memuja Dagon, sang tuhan sesembahan.
Masih membara dalam amarah namun tak berdaya, Simson hanya meminta untuk dituntun menuju tiang utama gedung pertunjukan.
Seakan dalam putus asa, ada upaya terakhir untuk mengakhiri hidup dengan mati bersama para musuh.
Apa yang sebenarnya terjadi? Nampak ia berdoa dalam seruan lantang, "Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin."
Sebuah doa yang terasa mustahil akan terkabulkan, mengingat besarnya tiang yang harus dia robohkan. Iman berbicara lain.
Meskipun lantang diserukan, doanya justru lahir dalam kerendahan hati. Jika pada masa silam ia bangga dengan kekuatan fisiknya, kali ini ia berserah dalam pengakuan bahwa kekuatannya berasal dari Tuhan.
Tidak penting lagi, apakah ia berhasil atau gagal, kali ini Simson berasa pada jalur yang benar. Ia seorang nazir Allah. Seorang yang dikhususkan kepada Allah.
Benar saja, dorongannya sekuat tenaga membuat tiang mulai berderak goyah. Perlahan namun pasti, retakan mulai terlihat.
Tawa keras yang menggema berubah hening. Terpancar rasa kuatir, takut dan cemas, jika benar gedung akan roboh.
Tidak menunggu waktu lama, gedung mulai berderak. Patahan tiang penyangga utama menciptakan efek domino, membuat semua bagian yang ada di atasnya runtuh dalam sekejab. Tawa berubah menjadi teriakan ketakutan.
Kegirangan berubah menjadi teriakan kesakitan menuju ajal. Berderak dalam waktu yang terlalu cepat. Gedung telah rata dengan tanah, dan tiga ribu laki-laki dan perempuan meregang nyawa.
Dimana Simson? Ia tewas. Dan hari itu yang tewas bersamanya lebih banyak dari pada jumlah musuh yang ia tewaskan selama masih hidup.
Akhir sebuah kisah. Kisah hidup kita di bumi pada saatnya akan berakhir. Namun cerita apa yang hendak kita tinggalkan?
Makna apa yang akan dikenang oleh orang-orang yang mengenal?
Warisan apa yang hendak kita tinggalkan?
Penting bagi kita untuk mengakhiri kisah dengan elegan. Rest in peace; bukan sekedar tulisan di batu nisan.
Warisan ketenangan karena hidup bersama Tuhan, akan menjadi akhir kisah yang akan dikenang. Amin.
Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang