Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Lampung dinobatkan sebagai provinsi dengan tingkat inflasi tahunan (year on year) terendah di Indonesia yakni sebesar 0,53 persen pada periode April 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), capaian inflasi yang sangat rendah ini diikuti dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung sebesar 110,93.
Bangka Belitung berada di posisi kedua terendah nasional di bawah Lampung dengan angka 1,49 persen.
Sementara Aceh mencatatkan inflasi tertinggi di Sumatera sebesar 4,00 persen.
Di tingkat nasional, posisi Lampung sebagai wilayah dengan harga paling stabil terlihat kontras dibandingkan Papua Barat yang mengalami inflasi tertinggi sebesar 5,00 persen dan Papua Pegunungan sebesar 4,89 persen.
Kepala BPS Provinsi Lampung Ahmadriswan Nasution menjelaskan, rendahnya inflasi tahunan ini dipicu oleh penurunan harga yang tajam pada sektor tertentu.
"Kelompok pendidikan menjadi kelompok dengan deflasi terdalam secara tahunan, yaitu sebesar 17,97 persen dengan andil deflasi mencapai 1,18 persen," urai Ahmadriswan dalam laporannya yang diterima Tribun Lampung, Kamis (14/5/2026).
Ia menjelaskan, komoditas utama yang berperan besar menahan laju inflasi tahunan ini adalah penurunan biaya pada jenjang SMA dan SMP.
Selain itu, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya juga tercatat mengalami penurunan indeks harga atau deflasi sebesar 0,07 persen secara tahunan.
Meski begitu, BPS mencatat Lampung mencatatkan inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,55 persen pada April 2026, yang masih lebih rendah dibandingkan April 2025 sebesar 1,19 persen.
Secara tahun kalender (year-to-date), tingkat inflasi Provinsi Lampung hingga bulan keempat tahun 2026 ini berada pada angka 1,04 persen.
Ahmadriswan memaparkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau merupakan motor utama penggerak inflasi bulanan.
"Inflasi tertinggi secara bulanan terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,98 persen, yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum sebesar 0,34 persen," jelasnya.
Adapun lima komoditas utama pemicu inflasi bulanan adalah minyak goreng (andil 0,09 persen), ikan nila (0,04 persen), serta sigaret kretek mesin, beras, dan cabai merah (masing-masing 0,03 persen).
Sebaliknya, kenaikan harga tersebut diredam oleh komoditas penetralisir seperti cabai merah dengan andil deflasi -0,06 persen, diikuti emas perhiasan, daging ayam ras, angkutan antarkota, dan cumi-cumi.
Secara tahunan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatatkan kenaikan harga tertinggi mencapai 8,07 persen dengan andil inflasi 0,51 persen.
Kelompok pengeluaran lain yang juga mengalami inflasi tahunan adalah transportasi (1,82 persen), penyediaan makanan/minuman (1,82 persen), serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (1,38 persen).
Di lingkup internal Lampung, Kabupaten Mesuji mencatatkan inflasi tahunan tertinggi sebesar 1,35 persen (IHK 115,71) dan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,77 persen.
Sementara itu, Kota Bandar Lampung menjadi wilayah dengan inflasi tahunan terendah sebesar 0,33 persen (IHK 109,27), dan Kota Metro mencatat inflasi bulanan terendah sebesar 0,17 persen.
Komoditas yang menyumbang andil inflasi tahunan terbesar adalah emas perhiasan, daging ayam ras, beras, sigaret kretek mesin (SKM), dan minyak goreng.
Ahmadriswan menegaskan bahwa secara keseluruhan, pergerakan harga di Provinsi Lampung tetap berada pada level yang sangat terkendali.
"Dari sisi tahunan, inflasi sebesar 0,53 persen didorong terutama oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan komoditas daging ayam ras sebagai penyumbang terbesar," tutup Ahmadriswan.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)