Kakao dari Lembang Bau Tana Toraja Mulai Terkenal, Petani Harap Perbaikan Jalan
Imam Wahyudi May 14, 2026 10:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKALE - Di balik tenangnya perkampungan Lembang (Desa) Bau, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja, Sulsel, ada sentra kakao premium yang mulai dikenal hingga pasar luar daerah.

Wilayah yang berjarak sekitar 46 kilometer dari Kota Makale itu mayoritas dihuni petani kakao.

Sekitar 90 persen masyarakat menggantungkan hidup dari hasil perkebunan coklat.

Salah satu pengepul kakao di daerah tersebut, Alexander Palullungan, mengaku telah menjalankan usaha pengepulan kakao sejak 2010.

Di lapak miliknya, para petani tampak silih berganti datang membawa hasil panen untuk ditimbang sebelum dijual.

“Hari ini hasil kakao di Lembang Bau cukup melimpah. Dalam setahun, puluhan hingga ratusan ton kakao berkualitas bisa keluar dari wilayah ini,” ujarnya sambil memperlihatkan biji kakao premium hasil pembelian dari petani, Rabu (13/5/2026).

Menurut Alex, salah satu keunggulan kakao asal Lembang Bau terletak pada proses budidayanya yang minim penggunaan bahan kimia.

“Sebagian besar petani di sini menanam kakao tanpa banyak menggunakan bahan kimia. Itu menjadi nilai tambah kakao dari Lembang Bau,” katanya.

Ia menjelaskan, kualitas kakao tidak hanya ditentukan petani, tetapi juga standar yang diterapkan para pengepul dalam proses pembelian.

“Petani biasanya mengikuti standar kualitas yang ditetapkan pedagang,” jelasnya.

Saat ini, harga kakao premium di tingkat petani berada di kisaran Rp70 ribu per kilogram.

Sementara harga kakao di pasar global mencapai sekitar Rp80 ribu per kilogram dan harga lokal berkisar Rp70 ribu hingga Rp75 ribu per kilogram.

“Kami membeli kakao premium dari petani seharga Rp70 ribu per kilogram. Harapannya, Lembang Bau bisa menjadi daerah dengan kualitas dan harga kakao terbaik di Tana Toraja,” lanjutnya.

Setelah dikumpulkan, kakao tersebut dikirim ke Makassar melalui sistem broker menuju Gudang 99.

Dalam sepekan, Alex mengaku mampu mengumpulkan lebih dari dua ton kakao, atau sekitar 100 ton lebih dalam setahun.

Meski kualitas kakao dinilai cukup baik, ia menilai pengelolaan pascapanen masih perlu ditingkatkan, terutama pada proses penjemuran dan fermentasi.

Menurutnya, tempat penjemuran yang kurang bersih dapat memengaruhi warna kulit kakao.

Sementara warna hitam pada kulit kakao biasanya muncul akibat proses fermentasi yang belum sempurna.

“Kadang kakao masih panas langsung ditutup sehingga muncul jamur di kulit luar. Tetapi isi kakaonya tetap bagus,” ujarnya.

Alex berharap pemerintah dapat memberi perhatian terhadap akses jalan menuju Lembang Bau agar distribusi hasil perkebunan masyarakat semakin lancar.

“Kalau akses jalan bagus, pemasaran hasil kakao tentu lebih mudah dan perputaran ekonomi masyarakat juga semakin baik,” katanya.

Selain kakao, masyarakat Lembang Bau juga mengandalkan sektor perkebunan kopi dan persawahan sebagai sumber penghasilan tambahan.(*)
 
 
 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.