Candi Jedong Mojokerto, Gapura Kuno Majapahit Pintu Masuk Area Suci di Lereng Gunung Penanggungan
Mujib Anwar May 14, 2026 11:14 PM

 

 

TRIBUNJATIM.COM – Kabupaten Mojokerto dikenal sebagai kawasan yang kaya peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih berdiri hingga sekarang.

Salah satu peninggalan bersejarah tersebut adalah Candi Jedong atau yang juga dikenal sebagai Gapura Jedong.

Candi Jedong merupakan kompleks gapura kuno peninggalan Majapahit yang berada di lereng Gunung Penanggungan.

Situs purbakala ini memiliki bentuk bangunan unik berupa gapura paduraksa dan diyakini telah berdiri sejak abad ke-14 Masehi.

Selain menjadi bagian dari kompleks kepurbakalaan Gunung Penanggungan, kawasan Candi Jedong juga menjadi titik awal jalur pendakian menuju Gunung Penanggungan melalui jalur Ngoro.

Keberadaan gapura kuno tersebut menjadikan Candi Jedong sebagai salah satu situs penting yang menunjukkan perkembangan arsitektur dan budaya Majapahit di Jawa Timur.

Lokasi Candi Jedong di Lereng Gunung Penanggungan

Candi Jedong terletak di Desa Wotanmas Jedong, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Dilansir dari  pariwisata.mojokertokab.go.id, lokasi situs ini berada sekitar 30 kilometer di sebelah timur Kota Mojokerto.

Situs bersejarah tersebut berdiri di lereng utara Bukit Gajah Mungkur yang merupakan salah satu bukit di kawasan Gunung Penanggungan.

Selain itu, lokasi candi juga berada sekitar dua kilometer di sebelah selatan Kawasan Industri Ngoro.

Kawasan Candi Jedong memiliki suasana pegunungan yang cukup sejuk dan asri.

Keberadaan situs di lereng pegunungan membuat kawasan ini memiliki panorama alam yang menarik sekaligus nuansa historis yang kuat.

Mengutip budaya-indonesia.org, kompleks Candi Jedong juga menjadi salah satu titik awal pendakian Gunung Penanggungan melalui jalur Ngoro.

Karena itu, lokasi ini tidak hanya menarik bagi pecinta sejarah, tetapi juga pendaki dan wisatawan budaya.

Baca juga: Candi Karang Besuki di Kota Malang, Situs Hindu Kuno yang Tersembunyi di Area Pemakaman

Gapura Kuno Peninggalan Majapahit

Suasana Candi Jedong di Kecamatan Ngoro, Mojokerto, situs gapura kuno peninggalan Kerajaan Majapahit yang dikenal dengan arsitektur paduraksa khas Jawa Timur.
Suasana Candi Jedong di Kecamatan Ngoro, Mojokerto, situs gapura kuno peninggalan Kerajaan Majapahit yang dikenal dengan arsitektur paduraksa khas Jawa Timur. (pariwisata.mojokertokab.go.id)

Candi Jedong sebenarnya merupakan bangunan gapura bertipe paduraksa, yaitu gapura yang memiliki atap menyatu di bagian atasnya.

Dinukil dari Kompas.com, dari tulisan yang terpahat pada bangunan diketahui bahwa Candi Jedong diperkirakan dibangun pada abad ke-14 pada masa Kerajaan Majapahit.

Pada masa lalu, kompleks ini diduga memiliki tiga bangunan gapura.

Namun, kini hanya tersisa dua gapura berbahan batu andesit yang masih berdiri cukup utuh.

Sementara satu gapura lainnya yang terbuat dari batu bata kini telah runtuh dan hanya menyisakan reruntuhan.

Gapura bata tersebut diketahui memuat angka tahun 1298 Saka atau sekitar 1376 Masehi.

Dua gapura batu andesit di kompleks Candi Jedong memiliki posisi membujur dengan arah pintu barat-timur dan berjarak sekitar 80 meter satu sama lain.

Kedua gapura tersebut dahulu diduga terhubung dengan pagar bata yang mengelilingi kawasan suci.

Masyarakat sekitar juga mengenal kedua bangunan itu dengan sebutan Candi Lanang dan Candi Wadon.

Gapura Jedong I disebut sebagai Candi Lanang, sedangkan Gapura Jedong II dikenal sebagai Candi Wadon.

Baca juga: Candi Jawar di Kabupaten Malang, Situs Purbakala Tempat Meditasi Resi dan Empu di Lereng Semeru 

Arsitektur Gapura Jedong I dan II

Gapura Jedong I memiliki ukuran lebih besar dibandingkan gapura kedua.

Bangunan ini memiliki panjang sekitar 12,51 meter, lebar 5,19 meter, dan tinggi mencapai 9,75 meter.
Gapura tersebut terdiri atas tiga bagian utama, yakni kaki, tubuh, dan atap

Pintu masuk berada di bagian tubuh bangunan dengan arah hadap barat dan timur.

Bagian kaki dan tubuh gapura tidak banyak ditemukan relief hias.

Namun pada bagian atas terdapat ornamen kepala kala yang menjadi ciri khas arsitektur Majapahit.

Selain itu, pada bagian atap gapura dihiasi bentuk menyerupai gapura kecil yang tersusun bertingkat.

Di setiap sudut bangunan juga terdapat ornamen berbentuk gunung-gunung kecil.

Pada ambang pintu Gapura Jedong I terdapat Candrasengkala berbunyi “Brahmana Nora Kaya Bhumi”.

Sengkalan tersebut bermakna tahun 1307 Saka atau sekitar 1385 Masehi.

Sementara itu, Gapura Jedong II memiliki ukuran lebih kecil dengan panjang sekitar 6,86 meter, lebar 3,40 meter, dan tinggi 7,19 meter.

Bangunan ini juga berbentuk paduraksa dengan bahan utama batu andesit.

Bagian kaki gapura dihiasi panel-panel tanpa relief, sedangkan tubuh bangunan memiliki sabuk ornamen kala dan motif flora.

Pada bagian atas pintu juga terdapat pahatan kepala kala dengan atap bertingkat menyerupai piramida.

Meski tidak memiliki pahatan angka tahun secara langsung, di sekitar Gapura Jedong II ditemukan batu bekas bangunan bertuliskan angka tahun 1378 Saka atau sekitar 1456 Masehi.

Baca juga: Candi Songgoriti di Kota Batu, Candi Kuno Peninggalan Mpu Sindok dengan Sumber Air Panas

Diduga Menjadi Gerbang Desa Perdikan

Para peneliti menduga kedua gapura di Candi Jedong dahulu berfungsi sebagai pintu masuk menuju Desa Perdikan atau Desa Sima pada masa Majapahit.

Desa Perdikan merupakan wilayah yang mendapat status khusus dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak kepada kerajaan.

Candrasengkala pada Gapura Jedong I diperkirakan menjadi penanda peresmian gapura sebagai pintu gerbang menuju kawasan tersebut.

Selain itu, keberadaan pagar keliling di sekitar gapura memperkuat dugaan bahwa kawasan ini dahulu merupakan area penting dan sakral.

Terdapat pula pendapat yang menyebut bahwa Candi Jedong dahulu digunakan sebagai tempat peristirahatan raja-raja Majapahit beserta permaisurinya ketika berada di kawasan Gunung Penanggungan.

Baca juga: Mengungkap Candi Pamotan, Situs Bersejarah Peninggalan Majapahit di Sidoarjo yang Nyaris Terlupakan

Penelitian dan Pemugaran Candi Jedong

Candi Jedong telah lama menjadi perhatian para peneliti dan arkeolog sejak masa kolonial Belanda.

Penelitian terhadap situs ini pernah dilakukan oleh sejumlah ahli seperti Verbeek (1891), Knebel (1907), Brandes (1913), Bosch dan Naersen (1918), hingga Hasan Djafar dan Slamet Mulyana.

Penelitian terhadap Candi Jedong telah dilakukan sejak akhir abad ke-19 hingga abad ke-20.

Berbagai penelitian tersebut membantu mengungkap sejarah, fungsi, serta perkembangan arsitektur situs peninggalan Majapahit tersebut.

Selain penelitian, bangunan Candi Jedong juga telah mengalami beberapa tahap pemugaran untuk menjaga kelestariannya.

Pemugaran Gapura Jedong I dan II dilakukan secara bertahap mulai tahun anggaran 1993 hingga 2004 oleh Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.

Kini, Candi Jedong menjadi salah satu situs sejarah penting di Mojokerto yang masih terawat dan kerap dikunjungi wisatawan.

Keberadaan situs ini menjadi bukti perkembangan arsitektur gapura Majapahit sekaligus memperlihatkan pentingnya kawasan Gunung Penanggungan sebagai pusat spiritual dan budaya pada masa lampau.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.