TRIBUN-BALI.COM - Warga Banjar Nusamara, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana begitu semangat saat melaksanakan gotong royong, Kamis (14/5).
Adalah pengerjaan jembatan Perintis Garuda di wilayah setempat yang sebelumnya menjadi akses utama warga. Jembatan di wilayah tersebut sebelumnya putus akibat diterjang air bah pada tahun 2021 lalu.
Saat ini, pembangunan sudah masuk pada progres pemasangan siku tiang pilon. Selain itu, juga sedang dilakukan pengurugan abutment jembatan. Kedua tahapan ini merupakan struktur vital yang akan menentukan kekokohan dan ketahanan jembatan dalam jangka panjang.
Baca juga: NYAWA Komang Denis Tak Tertolong, Korban Sempat Dirawat di RS Pasca Lakalantas Hantam Truk!
Baca juga: AKP Diovant Bertugas di Buleleng, Kasat Reskrim Mutasi Usai Sukses Ungkap Kasus Oplos Gas Bersubsidi
Dengan presisi tinggi, para personil memastikan pemasangan siku tiang pilon memenuhi standar keamanan, sementara warga secara swadaya membantu proses pengurugan abutment agar akses oprit jembatan segera stabil sehingga bisa segera dimanfaatkan warga.
"Sesuai dengan semangat Bapak Presiden, bahwa tidak ada waktu untuk menunda pembangunan. Jembatan Nusamara ini adalah urat nadi ekonomi warga, kami harap infratruktur ini nantinya bisa bermanfaat maksimal untuk warga," ujar Dandim 1617/Jembrana, Letkol Inf Sy. Gafur Thalib.
Dandim berharap, dengan tuntasnya Jembatan Nusamara, roda ekonomi di Jembrana khususnya wilayah setempat akan berputar lebih baik serta sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo.
"Selain perputaran roda ekonomi, jembatan ini nantinya juga untuk aktivitas pendidikan bagi warga sekitar," tandasnya.
Untuk diketahui, Jembatan gantung di Banjar Nusamara, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana tersebut putus akibat air bah yang terjadi pada akhir 2021 lalu.
Menurut informasi yang diperoleh, jembatan nusamara tersebut berdampak terhadap satu Banjar adat di wilayah tersebut. Namun, yang berada di sisi utara jembatan sekitar 21 KK.
Warga yang memanfaatkan jembatan tersebut tak berani melintas ketika terjadi air bah. Terlebih lagi, siswa terpaksa diliburkan jika air bah terjadi karena sangat berisiko atau untuk meminimalisir hal yang tak diinginkan terjadi. (mpa)