SURYA.co.id, Surabaya - Di tengah padatnya pemukiman kawasan Jambangan, Surabaya, terdapat sebuah usaha kreatif yang berhasil mengubah kekayaan alam menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Adalah Ida Rosita (46), pemilik brand EcoPrint Girly Lestari, yang telah mendedikasikan dirinya mengembangkan seni membatik menggunakan jejak daun alami.
Perjalanan usaha yang dirintis Ida ini bermula dari keterlibatan aktifnya di lingkungan kampung.
Sejak tahun 2019, sebelum masa pandemi Covid-19, Ida terinspirasi untuk memberdayakan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya melalui berbagai kegiatan kreatif.
“Awalnya kan ini kampung sini memang dulu sering ada lomba-lomba. Jambangan ini kan dulu terkenal memang dari ulangnya. Jadi ini kan saya berdiri tahun 2019, usaha kampung sebelum Covid,” ujar Ida saat ditemui di kediamannya.
Ida menceritakan bahwa inisiatif awal usaha tersebut berasal dari ajakan Ketua RT setempat.
Ibu-ibu di kampung tersebut diajak untuk menciptakan produk yang memiliki nilai jual dan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar.
“Ayo, apa bikin apa yang bisa untuk dijual. Kreativitas gitu loh. Nah, di sini banyak daun-daun juga, tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di sekitar sini. Jadi terbersitlah itu membuat ecoprint jadi sebuah karya,” tambahnya.
Proses pengembangan usaha tersebut tidaklah instan. Ida menceritakan bahwa pada awalnya, kegiatan tersebut dilakukan secara berkelompok oleh ibu-ibu PKK setempat.
Ia pun berperan besar dalam meneruskan estafet usaha tersebut setelah ketua RT sebelumnya pindah tugas.
“Dulu itu ibu-ibu kita kasih ide dulu, ketuanya Bu RT saya. Terus setelah Bu RT saya pindah, kan bergantian ya sebelum Covid itu, saya yang meneruskan. Saya uruskan izin-izinnya biar nggak hanya sampai di sini saja,” jelas Ida.
Untuk memastikan keberlangsungan usahanya, Ida mengurus berbagai legalitas, termasuk izin merek dan sertifikasi halal untuk kain yang digunakan.
Hal ini dilakukan agar produknya tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi juga memiliki daya saing yang lebih luas.
Keunikan dari produk ecoprint milik Ida terletak pada penggunaan bahan alami yang diambil langsung dari sekitar sungai Jambangan. Daun-daun seperti daun kersen dan berbagai dedaunan lain menjadi pewarna dan motif utama.
“Saya banyak memakai daun-daun sekitar sungai sini. Ada daun kersen, mres. Terus sekitar sungai sini, jadi cetakan di kain saya banyak daun itu juga,” ungkapnya dengan bangga.
Ida menegaskan bahwa ia tidak menggunakan pewarna sintetis atau pewarna yang mencolok seperti merah atau kuning terang. Ia lebih memilih untuk menonjolkan warna alami dari jejak daun untuk menciptakan kesan yang otentik dan ramah lingkungan.
“Memang kan ecoprint terkenal ada yang pakai kayu secang, warna merah, nah, saya enggak pakai itu. Saya tetap menggunakan jejaknya itu saja tanpa pendukung kayak warna secang,” jelasnya.
Hingga saat ini, proses produksi masih melibatkan beberapa ibu-ibu di sekitar lingkungannya. Meski keterbatasan waktu karena kesibukan masing-masing, mereka tetap setia membantu Ida dalam menjaga kualitas produk.
Produk yang dihasilkan oleh EcoPrint Girly Lestari kini tidak hanya diminati oleh pasar domestik. Ida juga pernah mengirimkan produknya hingga ke Australia dan beberapa negara lainnya.
Keberhasilan Ida tidak lepas dari dukungan modal yang diperolehnya melalui program KUR (Kredit Usaha Rakyat) dari Bank BRI. Sejak tahun 2023, Ida memanfaatkan KUR untuk mengembangkan usahanya, seperti pembelian peralatan produksi yang lebih memadai.
“Saya ambil KUR memang untuk usaha ya. Memang tahun 2023 ambil KUR itu untuk mengembangkan usaha saya, kayak beli peralatan bikin dandang,” tuturnya.
Dalam memasarkan produknya, Ida memanfaatkan berbagai platform digital, termasuk media sosial dan marketplace seperti Shopee. Ia pun sering mengikuti pameran-pameran, termasuk bazar di atas kapal pesiar, yang membantunya menjangkau turis mancanegara.
“Ya lihat dari ini aja sih, sosmed juga sih saya. Tapi kalau saya di Shopee, saya kan juga ada Shopee ya. Di Shopee itu paling laku apa? Mukena, itu buat ini anak-anak, biasanya tapte gitu,” jelasnya.
Untuk desain produk seperti tas, Ida lebih memilih untuk menciptakan model sendiri, namun tetap terbuka pada tren yang berkembang.
Ia berharap usahanya dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Ida menyadari bahwa persaingan dalam dunia ecoprint kini semakin ketat. Oleh karena itu, ia terus berinovasi dan menjaga ciri khas produknya agar tetap diminati oleh pelanggan setia.
“Jadi bagaimana cara kita bertahan gitu aja. Kalau yang ini, ecoprint yang paling cepat itu yang mana bikinnya? Iya, saya tadi kalau bikin tas kan 2 mingguan,” pungkas Ida.
Melalui kegigihan dan inovasinya, Ida Rosita telah membuktikan bahwa usaha rumahan yang dikelola dengan sungguh-sungguh mampu menembus pasar yang lebih luas dan memberikan dampak positif bagi ekonomi kreatif di Surabaya.