Kalaksa BPBD TTU Sebut Panjang Longsor di Desa Batnes 40 Meter
Oby Lewanmeru May 14, 2026 11:30 PM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon 

POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Felismino Askeli menegaskan, intensitas hujan tinggi yang terjadi beberapa hari terakhir menyebabkan tanah longsor terjadi di Desa Batnes tepatnya di belakang Kantor Desa Batnes, Kecamatan Musi, Kabupaten TTU NTT. Longsor terjadi sepanjang 40 meter. 

Tim BPBD Kabupaten TTU telah turun ke lokasi untuk meninjau langsung bencana longsor tersebut. Mereka sudah melakukan pengukuran dan pendataan terhadap dampak bencana itu.

Longsor tersebut terjadi di wilayah RT 005, RT 003, Desa Batnes. Selain meninjau langsung lokasi itu, mereka juga bertemu dengan Kepala Desa Batnes dan jajaran untuk mengumpulkan informasi ihwal peristiwa itu.

"Itu perlu penanganan cepat karena mengancam fasilitas umum yakni kantor desa," ungkapnya.

Baca juga: Longsor Ancam Kantor Desa Batnes, Kepala Desa Bakal Bangun Koordinasi dengan Pemda TTU 

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Batnes, Yosep Suni mengatakan, pihaknya bersama Pemdes beberapa waktu terakhir berupaya untuk mengantisipasi hal ini melalui pemasangan bronjong. Kendati demikian, kondisi ekstrem yang melanda wilayah itu menyebabkan longsor kembali terjadi.

Wilayah Desa Batnes rawan longsor. Kondisi wilayah yang rawan bencana ini tidak didukung oleh alokasi anggaran transfer dana desa yang terus dipangkas oleh pemerintah pusat.

"Anggaran dana desa untuk fisik juga tidak seperti tahun-tahun sebelumnya," kata Yosep.

Bersama Pemdes Batnes, lanjutnya, mereka terus berupaya agar longsor tersebut bisa ditangani secepat mungkin. Pasalnya, apabila bangunan tersebut roboh, aktivitas pelayanan kepada masyarakat bakal lumpuh.

Kendati demikian, ia berharap, Pemda TTU melalui BPBD Kabupaten TTU bisa memberikan solusi berupa alokasi anggaran untuk pembangunan bronjong. Pasalnya, longsor itu mengancam fasilitas umum kantor desa.

Sementara itu, Kepala Desa Batnes, Yosep Tefnai mengatakan, kondisi bencana longsor yang mengancam Kantor Desa Batnes terlihat cukup parah. Pemerintah desa sedang berupaya mencari solusi untuk membangun kembali bronjong penahan itu.

Usai menerima informasi itu, Yosep melaporkan kejadian itu kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten TTU. Tim BPBD di bawah pimpinan Kalaksa telah meninjau langsung lokasi itu. Lokasi longsor itu membutuhkan penanganan cepat.

"Karena bronjong ini harapan terakhir mencegah bangunan ini ikut terdampak longsor," ujarnya, Kamis, 14 Mei 2026 malam.

Ia menuturkan, sejauh ini alternatif relokasi bangunan mengantisipasi kejadian lanjutan merupakan pilihan yang cukup sulit. Pasalnya, efisiensi anggaran menyebabkan pembangunan gedung baru merupakan sebuah kemustahilan.

Yosep berencana membangun koordinasi dengan Pemkab TTU melalui Dinas PMD untuk mencari solusi atas persoalan ini. 

Pada tahun 2026 iSehingga, kebetulan di belakang kantor desa ini menjadi darurat, akhirnya saya coba konsultasikan dulu dengan Dinas PMD apakah dana itu bisa dialihkan untuk pembangunan bronjong di belakang kantor desa atau bagaimana," ucapnya.

Baca juga: BREAKING NEWS: Longsor Ancam Kantor Desa Batnes di Kabupaten TTU

Tujuan dilakukan konsultasi ini untuk meminta solusi dari Dinas PMD ihwal pengalihan pembiayaan pembangunan bronjong tersebut tidak menyalahi aturan atau sebaliknya.

Seorang warga Desa Batnes bernama Irenius Falo memberikan kesaksian usai pertama kali melihat langsung kejadian longsor yang mengancam bangunan Kantor Desa Batnes, Kecamatan Musi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Irenius, sekira pukul 05.45 WITA, ia keluar dari rumahnya untuk mencari sapi. Pasalnya, sehari sebelumnya, sapi tersebut pada hari sebelumnya tidak ditemukan setelah dilakukan pencarian.

"Kemarin sore itu saya cari sapi tapi tidak lihat sapi makanya tadi pagi pergi cari lagi," ujarnya, Kamis, 14 Mei 2026.

Irenius berniat menyusuri lokasi di belakang kantor desa itu. Lokasi tersebut berada pada kemiringan yang cukup ekstrem.

Ketika tiba di samping kantor desa, Irenius dikagetkan dengan kondisi bronjong penahan yang sudah terdampak longsor puluhan meter. Tanah di bawah bronjong tersebut mengalami longsor dan menyebabkan bronjong terseret puluhan meter 

Setelah melihat kejadian itu, Irenius langsung bergegas melaporkan temuannya kepada Kepala Desa dan Perangkat Desa Batnes serta BPD.

Mereka kemudian berbondong-bondong ke kantor desa untuk melihat langsung kondisi longsor tersebut.

Sebelumnya, bangunan Kantor Desa Batnes, Kecamatan Musi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terancam longsor. Bangunan tersebut berpotensi ambruk ke dalam jurang apabila tidak dilakukan penanganan cepat dalam waktu dekat.

Longsor tersebut diperkirakan terjadi pada Kamis, 14 Mei 2026 sekira pukul 05. 30 WITA. Tampak bronjong yang sebelumnya dipasang secara swadaya di belakang kantor desa tersebut terseret belasan bahkan puluhan meter.

Sementara beberapa bronjong lainnya tergantung tepat di ujung pondasi kantor desa itu. Bronjong tersebut berpotensi mengalami longsor susulan apabila tidak dilakukan penanganan cepat.

Bangunan kantor desa ini berada tepat di tepi lahan yang miring. Lahan pertanian milik warga berada tepat tepat di bawah kemiringan itu.

Sebelumnya, longsor pernah terjadi di lokasi tersebut hingga mencapai ujung pondasi beberapa tahun silam. Warga dan pemerintah desa melakukan perbaikan secara swadaya di titik tersebut.

Kondisi tanah yang labil serta berada pada lokasi tanah yang miring menyebabkan lokasi ini rentan terjadi longsor jika hujan berkepanjangan mengguyur wilayah itu. (bbr)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.