Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM- Perekonomian Maluku pada triwulan I-2026 mengalami kontraksi sebesar 3,26 persen dibanding triwulan IV-2025.
Pelemahan terjadi pada sebagian besar lapangan usaha dan komponen pengeluaran, terutama akibat turunnya ekspor luar negeri dan belanja pemerintah pada awal tahun.
“Ekonomi Maluku triwulan I-2026 dibanding triwulan IV-2025 (q-to-q) mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar -3,26 persen,” ujar Maritje.
Baca juga: Digerebek Selingkuh, Oknum Polwan Polda Maluku Klaim Punya Bukti Suami VCS dengan Wanita Lain
Baca juga: Oknum Brimob Aniaya Nenek 74 Tahun Divonis 5 Bulan, Praktisi Hukum: Putusan Hakim Picu Kontroversi
Ia menjelaskan bahwa Perekonomian Maluku berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) atas dasar harga berlaku pada triwulan I-2026 mencapai 17,15 triliun rupiah.
Sementara itu, PDRB atas harga konstan 2010 tercatat sebesar 9,87 triliun rupiah.
Menurut dia, kontraksi terjadi pada sebagian besar lapangan usaha.
Namun, beberapa sektor masih mencatat pertumbuhan positif, terutama penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 2,97 persen.
Untuk sektor jasa keuangan dan asuransi meningkat 0,09 persen, sedangkan real estate tumbuh 0,08 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
Meski mengalami kontraksi secara kuartalan, Maritje menyebut bahwa struktur perekonomian Maluku tidak mengalami perubahan signifikan.
Perekonomian daerah masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi sebesar 24,60 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB).
Kontributor terbesar berikutnya ialah sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,60 persen. Sementara sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor menyumbang 14,48 persen, disusul sektor konstruksi sebesar 7,26 persen.
“Peranan empat lapangan usaha tersebut mencapai 66,93 persen terhadap perekonomian Maluku,” kata Maritje.
Sementara untuk presentasi tahunan atau year-on-year (y-on-y), ekonomi Maluku masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,16 persen dibandingkan triwulan I-2025.
Pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor penyedia akomodasi dan makan minum sebesar 18,89 persen.
Selain itu, sektor jasa keuangan dan asuransi tumbuh 9,02 persen serta jasa perusahaan sebesar 8,43 persen.
Dari sisi pengeluaran, kontraksi ekonomi secara kuartalan dipicu penurunan ekspor luar negeri hingga 48,57 persen.
Pengeluaran konsumsi pemerintah juga turun 28,92 persen, sedangkan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) terkontraksi 4,57 persen.
Walau demikian, tercatat konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi Maluku.
Bahwa komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) tercatat mendominasi struktur PDRB dengan kontribusi sebesar 74,04 persen.
Selain PK-RT, komponen PMTB berkontribusi sebesar 26,92 persen dan pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 20,10 persen terhadap total PDRB Maluku.
Secara tahunan, impor luar negeri menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 52,13 persen.
Pengeluaran konsumsi rumah tangga tumbuh 6,56 persen, PMTB meningkat 4,82 persen, dan konsumsi pemerintah tumbuh 3,81 persen.
Sebaliknya, ekspor luar negeri masih mengalami tekanan dengan pertumbuhan negatif sebesar 31,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini menunjukkan konsumsi masyarakat dan aktivitas sektor jasa masih menjadi motor penggerak ekonomi daerah di tengah pelemahan ekspor dan perlambatan belanja pemerintah pada awal tahun. (*)