Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Program Anak Asuh di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) mulai menunjukkan dampak nyata dalam penanganan stunting, Kamis (14/5/2926).
Tak hanya fokus pada pemberian nutrisi tambahan, tim pelaksana kini juga melakukan pembenahan lingkungan tempat tinggal anak penerima manfaat.
Termasuk perbaikan rumah warga yang dinilai tidak layak huni.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) SBT, Warda Rumadan, mengatakan langkah itu dilakukan setelah tim menemukan satu kasus anak asuh dengan kondisi cukup memprihatinkan di Desa Waisamet, Kecamatan Bula Barat.
“Kami turun langsung dan melihat anak ini bukan hanya membutuhkan nutrisi, tapi juga lingkungan yang sehat. Kalau hanya diberi makanan tambahan sementara rumahnya tidak layak, proses pemulihannya akan sulit,” ujarnya.
Menurutnya, Program Anak Asuh telah disosialisasikan sejak Desember 2025 dan mulai berjalan efektif pada Januari 2026.
Dalam pelaksanaannya, tim menemukan sejumlah persoalan yang mempengaruhi pemulihan anak stunting, mulai dari kondisi rumah yang lembab hingga sanitasi yang kurang memadai.
Baca juga: Digerebek Selingkuh, Oknum Polwan Polda Maluku Klaim Punya Bukti Suami VCS dengan Wanita Lain
Baca juga: Mantan Raja dan Sekretaris Negeri Laha Rugikan Negara Rp. 1,2 Miliar Dugaan Korupsi PAD 2020-2021
Temuan itu kemudian ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku dan sejumlah instansi terkait.
Bantuan non-nutrisi yang terkumpul berasal dari Inspektorat, tim program, hingga PTSP dan disalurkan dalam bentuk bahan bangunan untuk memperbaiki rumah penerima manfaat.
“Semua bantuan kami belikan langsung dalam bentuk material seperti pasir, kayu, triplex, semen, sampai spring bed. Tidak diberikan dalam bentuk uang,” katanya.
Ia menjelaskan, proses perbaikan rumah nantinya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat desa setempat.
Tim program juga turun langsung ke lokasi untuk memastikan seluruh bantuan diterima tepat sasaran oleh keluarga penerima manfaat.
Warda menilai pendekatan menyeluruh menjadi langkah penting agar penanganan stunting di SBT tidak hanya bersifat sementara.
“Kalau lingkungan tempat tinggal anak tetap tidak sehat, maka pemulihannya akan terhambat. Karena itu rumahnya juga harus dibenahi,” tegasnya.
Program Anak Asuh SBT sendiri ditargetkan menyasar sejumlah titik lain di wilayah SBT dan akan terus diperluas berdasarkan hasil pendataan di lapangan.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, kecamatan, hingga pemerintah desa terus diperkuat untuk mendukung percepatan penanganan stunting di daerah tersebut.(*)