Laporan Bocor Sebut IRGC Iran Gunakan Satelit China untuk Serang Pangkalan AS di Timur Tengah
Hasiolan Eko P Gultom May 14, 2026 11:23 PM

Laporan Bocor Sebut IRGC Iran Gunakan Satelit China untuk Serang Pangkalan AS di Timur Tengah

 

TRIBUNNEWS.COM - Iran diduga menggunakan satelit buatan China untuk memantau dan membantu penargetan pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah selama meningkatnya konflik kawasan.

Tuduhan itu muncul dalam laporan Financial Times yang mengutip dokumen militer Iran yang bocor.

Baca juga: 5 Populer Internasional: Iran Serang UEA dengan Rudal Balistik - IRGC Dituding Bertindak Sendiri

Menurut laporan tersebut, Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memperoleh satelit bernama TEE-01B setelah peluncurannya dari China pada akhir 2024.

Satelit itu disebut diproduksi perusahaan China Earth Eye Co dan kemudian dioperasikan oleh divisi kedirgantaraan IRGC.

Satelit Diduga Digunakan untuk Lacak Basis Militer AS

Laporan itu menyebut komandan Iran menggunakan satelit tersebut untuk melacak sejumlah instalasi militer penting milik AS di kawasan Timur Tengah.

Bukti yang dikutip mencakup daftar koordinat bertanda waktu, data orbit, hingga citra satelit yang memperlihatkan kondisi lokasi sebelum dan sesudah serangan drone maupun rudal pada Maret 2026.

Material tersebut mengindikasikan satelit digunakan untuk memantau target sebelum serangan yang diklaim dilakukan kelompok terkait Iran.

Reuters menyebut belum dapat memverifikasi secara independen seluruh isi laporan tersebut.

Diduga Terhubung Jaringan Stasiun Bumi Global

Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, IRGC disebut memperoleh akses ke jaringan stasiun bumi komersial milik Emposat, perusahaan layanan satelit berbasis di Beijing.

Jaringan itu mencakup sejumlah wilayah di Asia dan Amerika Latin yang memungkinkan transmisi data dan pengendalian satelit dari berbagai lokasi.

Namun sejauh mana integrasi operasional antara satelit dan perencanaan militer Iran masih belum diketahui secara pasti.

Sejumlah Pangkalan AS Disebut dalam Pantauan

Financial Times mengidentifikasi beberapa lokasi yang diduga menjadi objek pengawasan satelit tersebut.

Salah satunya adalah Prince Sultan Air Base di Arab Saudi yang disebut dipotret pada 13 hingga 15 Maret.

Pada 14 Maret, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa pesawat militer Amerika di pangkalan tersebut terkena serangan.

Lokasi lain yang disebut dipantau meliputi Muwaffaq Salti Air Base di Yordania, wilayah dekat markas Armada Kelima AS di Bahrain, hingga bandara Erbil di Irak.

Semua lokasi tersebut dikaitkan dengan periode terjadinya serangan yang melibatkan kelompok pro-Iran.

China Bantah Keras Tuduhan

Pemerintah China membantah tuduhan bahwa Beijing membantu Iran melalui dukungan satelit militer.

Kedutaan Besar China di Washington mengatakan pihaknya menolak segala bentuk “disinformasi spekulatif dan insinuatif” yang diarahkan kepada China.

Sementara itu, Gedung Putih, CIA, dan Pentagon belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.

Gedung Putih hanya merujuk pada pernyataan Trump sebelumnya yang memperingatkan China akan menghadapi “masalah besar” apabila terbukti memberikan dukungan militer kepada Iran.

Perang Tak Melulu Soal Rudal Tapi Juga Penguasaan Data

Tuduhan bahwa Iran menggunakan satelit buatan China untuk mendukung operasi militer menunjukkan bagaimana konflik modern kini semakin bergantung pada teknologi ruang angkasa dan intelijen digital.

Jika laporan itu benar, maka perang di Timur Tengah tidak lagi hanya melibatkan rudal dan drone, tetapi juga persaingan penguasaan data, citra satelit, dan kemampuan pengintaian orbital.

Kasus ini juga memperlihatkan kekhawatiran Amerika Serikat terhadap semakin eratnya hubungan strategis Iran dan China.

Beijing selama ini berupaya menjaga citra netral dalam konflik Timur Tengah, tetapi tuduhan keterlibatan teknologi militer dapat memperbesar ketegangan dengan Washington.

Di sisi lain, perkembangan ini menegaskan bahwa satelit komersial kini memiliki nilai strategis yang sangat tinggi.

Teknologi yang awalnya digunakan untuk pemetaan dan observasi sipil dapat berubah menjadi aset intelijen militer dalam konflik geopolitik global.

Bagi AS, isu ini memperkuat kekhawatiran bahwa persaingan dengan China tidak hanya terjadi di bidang ekonomi dan perdagangan, tetapi juga meluas ke dominasi teknologi luar angkasa dan keamanan global.

 

(oln/wn/ft/rtrs/*)
 
 
 
 


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.