POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DSP3A) Belitung Timur, Ronny Setiawan, menyoroti fenomena melemahnya kecerdasan emosional dan spiritual di kalangan generasi muda saat ini.
Ronny menilai selama ini sistem pendidikan dan pola asuh terlalu fokus mengejar kecerdasan intelektual semata. Padahal, tanpa pondasi emosional dan spiritual yang kuat, anak-anak rentan melakukan pelanggaran terhadap norma dan adab.
"Kayaknya kecerdasan emosional dan spiritual itu makin lemah belakangan ini. Karena mungkin yang menjadi tujuan utama selama ini adalah kecerdasan intelektual saja," ujar Ronny saat dikonfirmasi, Kamis (14/5/2026).
Menurut Ronny, jika seorang remaja ingin meraih sukses di masa depan, tiga pilar kecerdasan harus dimiliki secara seimbang, yakni intelektual, spiritual, dan emosional.
Ketidakseimbangan tersebut sering kali memicu terjadinya hal-hal buruk di masyarakat, seperti mudahnya orang menyebarkan konten yang melanggar nilai kesopanan tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya.
Ronny menyayangkan kebiasaan masyarakat, terutama remaja, yang mudah menyebarkan informasi atau video yang tidak pantas. Padahal, dari sisi norma, adab, maupun hukum, hal tersebut sangat dilarang.
"Ini juga menjadi preseden buruk bagi masyarakat kita yang mudah menyebarkan konten yang sebetulnya dilarang dari sisi kepantasan dan hukum," ucapnya.
Guna memperbaiki kondisi tersebut, DSP3A Belitung Timur akan kembali menggalakkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.
Ronny mengatakan pihaknya sejalan dengan aparat penegak hukum dalam menjaga privasi dan perlindungan terhadap anak. Ia meminta masyarakat menghentikan penyebaran informasi negatif yang melibatkan anak di bawah umur.
"Kebijakan terhadap anak ini diatur khusus secara nasional. Jadi, kami sangat menekankan agar masyarakat tidak ikut-ikutan menyebarkan hal-hal yang sifatnya melanggar aturan tersebut," ungkapnya.
Ronny berharap para orang tua mulai menggeser pola asuh untuk lebih mengedepankan pembentukan karakter anak, bukan hanya sekadar mengejar nilai akademik.
Menurut Ronny, adab dan sopan santun merupakan identitas asli masyarakat Belitung Timur yang tidak boleh hilang tergerus era digital.
"Tantangan kita ke depan adalah bagaimana melahirkan generasi yang cerdas otaknya, tapi juga luhur adabnya dan kuat imannya," tutupnya.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)