POSBELITUNG.CO--Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah sejumlah informasi sensitif terkait strategi militer Amerika Serikat terhadap Iran dilaporkan bocor ke publik.
Kebocoran tersebut disebut memuat rincian penting mengenai dinamika internal pemerintahan, proses pengambilan keputusan hingga strategi perang yang tengah disiapkan Washington dalam menghadapi konflik dengan Iran.
Situasi itu memicu kemarahan besar dari Trump. Ia menilai bocornya dokumen dan informasi sensitif tersebut sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.
Menurut laporan The Wall Street Journal, Trump bahkan secara langsung menghubungi Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS Todd Blanche untuk meminta penyelidikan agresif terhadap sumber kebocoran informasi di internal pemerintahan.
Trump disebut sangat marah terhadap laporan media yang membahas secara rinci proses pengambilan keputusan sebelum AS memutuskan meningkatkan tekanan militer terhadap Iran.
Ia juga menyoroti bocornya informasi mengenai pembicaraan internal dengan para penasihat keamanan nasional terkait opsi perang dan diplomasi.
“Dalam semua keadaan, Departemen Kehakiman mengikuti fakta dan menerapkan hukum untuk mengidentifikasi mereka yang melakukan kejahatan terhadap AS,” ujar juru bicara Departemen Kehakiman AS.
Langkah ini memicu perdebatan di Amerika Serikat mengenai batas kebebasan pers dan perlindungan informasi negara.
Sejumlah pengamat menilai tindakan agresif pemerintah AS terhadap kebocoran dokumen dapat memperburuk ketegangan politik domestik di tengah situasi geopolitik yang sedang memanas.
Di sisi lain, ketegangan antara AS dan Iran hingga kini belum menunjukkan tanda mereda.
Trump masih berupaya mencari jalan untuk mengakhiri konflik melalui jalur negosiasi.
Namun upaya tersebut disebut mengalami kebuntuan setelah proposal damai terbaru dari Iran ditolak Washington.
Pada Minggu (10/5/2026), Trump secara terbuka menolak proposal Iran yang sebelumnya diajukan untuk membuka kembali pembicaraan damai.
“Saya tidak menyukainya, sama sekali tidak dapat diterima,” tulis Trump melalui media sosial Truth Social.
Penolakan itu menghancurkan harapan akan berakhirnya konflik yang telah berlangsung sekitar 10 minggu terakhir.
Dalam proposalnya, Iran meminta penghentian perang di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon.
Teheran juga meminta jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Selain itu, Iran menuntut AS menghentikan blokade angkatan laut, mencabut sanksi ekonomi dan memberikan jaminan tidak akan ada serangan lanjutan terhadap wilayah mereka.
Iran juga meminta kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat perang.
Namun hingga kini belum ada tanda-tanda kompromi antara kedua negara.
Konflik yang terus memanas antara AS dan Iran mulai memberikan dampak luas terhadap kondisi global.
Gangguan pelayaran di Selat Hormuz menyebabkan distribusi energi dunia terganggu dan memicu kenaikan harga minyak internasional.
Selain itu, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah juga semakin tidak stabil setelah sejumlah wilayah di Iran dan Lebanon mengalami kerusakan akibat konflik bersenjata.
Kini perhatian dunia tertuju pada langkah lanjutan pemerintah Amerika Serikat dalam menangani kebocoran informasi sensitif tersebut sekaligus mencari jalan keluar atas konflik berkepanjangan dengan Iran.(*)
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)