TRIBUNPONTIANAK.CO,ID, PONTIANAK - Andre Kuncoro, ayah dari Josepha Alexandra atau Ocha, salah satu peserta LCC 4 Pilar, tampak menjemput putrinya sepulang dari Jakarta di VIP Pemprov Bandara Supadio, Kubu Raya, Kamis 14 Mei 2025.
Setibanya di ruang VIP, Andre langsung memeluk putrinya dengan penuh bangga atas keberanian Ocha saat jalannya LCC 4 Pilar yang belakangan menjadi perhatian publik.
Di sela menunggu kedatangan putrinya, Andre menceritakan sosok Ocha yang dikenal pendiam dan tidak banyak bicara dalam kesehariannya. Menurutnya, Ocha lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar dibanding bermain.
“Kalau kesehariannya, Ocha itu nggak banyak bicara. Dia lebih senang berada di kamar dengan dunianya sendiri, dengan laptopnya, belajar,” ujarnya.
Andre mengatakan, putrinya kerap belajar hingga larut malam dan sulit berhenti sebelum merasa pekerjaannya selesai. Bahkan ketika sang ibu mengingatkan untuk beristirahat, Ocha tetap melanjutkan belajar hingga tuntas.
“Kadang tidak kenal waktu sampai tengah malam. Ibunya sering mengingatkan, ‘Dek tidur’. Tapi kalau belum selesai, dia belum mau tidur,” katanya.
Sebagai orang tua, Andre mengaku beberapa kali mencoba mengajak Ocha bersantai atau bermain bersama teman-temannya. Namun ajakan itu sering ditolak karena dianggap membuang waktu.
“Kita suruh main dengan temannya juga nggak mau. Katanya buang-buang waktu,” tuturnya.
Baca juga: Sekda Harisson Sambut Kepulangan Tim LCC Smansa Pontianak: Jangan Tanamkan Ketidakadilan pada Pemuda
Selain aktif belajar mandiri, Ocha juga mengikuti bimbingan belajar beberapa kali dalam sepekan. Di luar kegiatan sekolah, ia turut aktif dalam kegiatan sosial bersama anak-anak di kawasan Taman Catur Untan.
Andre menyebut, putrinya kerap membantu membina anak-anak kecil melalui kegiatan mewarnai, melukis, hingga mengajarkan sejumlah mata pelajaran pada hari libur.
“Biasanya di Taman Catur itu, membina adik-adik kecil, mewarnai, melukis, lalu mengajarkan pelajaran juga,” ungkapnya.
Menurut Andre, kebiasaan belajar Ocha yang begitu intens terkadang membuat keluarga khawatir. Meski demikian, ia melihat putrinya memang menikmati dunia belajar sebagai hobinya.
“Ocha hobinya memang di depan laptop belajar. Kadang kami orang tua juga khawatir, ini anak nggak stres. Tapi memang dia suka,” katanya.
Andre mengungkapkan, semasa kecil Ocha sempat bercita-cita menjadi dosen. Namun seiring bertambah usia, putrinya kini memilih menjalani berbagai peluang yang datang sesuai kemampuan yang dimiliki.
“Dulu waktu kecil ingin jadi dosen. Tapi sekarang dia ikut arus saja nanti ke mana. Karena semua bidang itu dia menguasai,” ujarnya.
Terkait tawaran beasiswa yang diterima Ocha, Andre mengaku keluarga belum membahas lebih jauh. Namun sebagai orang tua, ia mendukung penuh keputusan putrinya. Bahkan keluarga mulai mempertimbangkan kursus bahasa Mandarin sebagai persiapan ke depan.
“Kalau memang Ocha mau, kami dukung. Kemungkinan nanti kursus Mandarin untuk persiapan,” katanya.
Andre menilai kejadian yang dialami putrinya membawa hikmah besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat luas. Menurutnya, publik bukan sekadar menyaksikan perlombaan, melainkan keberanian seorang pelajar dalam menyuarakan keadilan.
“Publik Indonesia tidak hanya dipertontonkan acara lomba, tapi bagaimana seorang anak kecil dengan gagah berani menyuarakan keadilan dan kebenaran,” tuturnya.
Ia juga mengapresiasi perhatian dan dukungan masyarakat, pejabat, anggota dewan, hingga Wakil Presiden RI terhadap Ocha dan tim SMAN 1 Pontianak.
“Ini berkah yang luar biasa dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Dalam lomba itu sportivitas harus dijunjung tinggi. Menang atau kalah itu biasa, yang penting prosesnya,” tegas Andre.
Andre berharap apa yang dilakukan putrinya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berani menyuarakan kebenaran dan menjaga nilai keadilan.
“Semoga Ocha bisa menjadi inspirasi bagi Gen Z untuk berani menyuarakan keadilan. Kebenaran tetap harus jadi kebenaran dan keadilan harus tetap dijaga,” tutupnya. (*)
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!