SURYA.co.id, SURABAYA – Warga Kota Surabaya diperkirakan akan mengalami cuaca yang cenderung berawan sepanjang Sabtu, 16 Mei 2026.
Berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG Juanda, kondisi langit di Kota Surabaya mulai dini hari hingga siang hari didominasi cuaca berawan.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada karena potensi hujan petir diprediksi muncul pada sore hari.
Cuaca seperti ini umum terjadi pada masa peralihan musim yang ditandai perubahan kondisi atmosfer dalam waktu singkat.
Suhu udara di Surabaya diperkirakan berada pada kisaran 24 hingga 32 derajat Celsius.
Sementara itu, kecepatan angin tercatat sekitar 13 kilometer per jam dengan arah bertiup dari barat laut.
Kondisi tersebut membuat udara di Surabaya terasa cukup hangat terutama menjelang siang.
Aktivitas masyarakat pada akhir pekan diperkirakan masih dapat berjalan normal, namun warga yang memiliki agenda di luar ruangan pada sore hari disarankan menyiapkan perlengkapan antisipasi hujan.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar terus memantau pembaruan informasi cuaca guna menghindari risiko gangguan akibat perubahan cuaca mendadak.
Pada periode dini hari hingga pagi, tepatnya pukul 01.00 WIB, 04.00 WIB, dan 07.00 WIB, kondisi cuaca di Surabaya diprakirakan berawan. Situasi serupa masih berlanjut hingga pukul 10.00 WIB.
Cuaca berawan pada pagi hari diperkirakan membuat suhu udara terasa lebih sejuk dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Kondisi ini cukup mendukung aktivitas masyarakat seperti olahraga pagi, perjalanan wisata lokal, maupun kegiatan akhir pekan bersama keluarga.
Meski tidak ada indikasi hujan pada pagi hari, masyarakat tetap disarankan memperhatikan perkembangan awan, terutama bagi pengendara roda dua yang beraktivitas sejak pagi.
Memasuki siang hari sekitar pukul 13.00 WIB, cuaca di Surabaya masih diprediksi berawan. Namun, perubahan cuaca diperkirakan terjadi pada sore hari.
BMKG Juanda memprakirakan hujan petir berpotensi terjadi sekitar pukul 16.00 WIB.
Kondisi ini perlu diwaspadai karena hujan petir dapat disertai kilat dan angin yang lebih kencang dalam waktu singkat.
Masyarakat yang memiliki agenda perjalanan, aktivitas olahraga luar ruang, maupun kegiatan di area terbuka disarankan mengatur waktu lebih awal agar terhindar dari cuaca buruk pada sore hari.
Selain itu, pengguna jalan diimbau lebih berhati-hati karena jalanan licin saat hujan dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
Pada malam hari sekitar pukul 19.00 WIB, hujan ringan masih berpotensi turun di beberapa wilayah Surabaya. Setelah itu, kondisi cuaca diprediksi kembali berawan pada pukul 22.00 WIB.
Suhu udara malam diperkirakan mulai menurun sehingga kondisi terasa lebih nyaman dibandingkan siang hari.
Kecepatan angin dari barat laut sekitar 13 kilometer per jam juga diperkirakan masih berlangsung hingga malam.
Cuaca malam yang relatif stabil dapat dimanfaatkan masyarakat untuk beraktivitas santai bersama keluarga maupun menikmati suasana akhir pekan di berbagai kawasan Kota Surabaya.
Prakiraan cuaca Surabaya pada Sabtu, 16 Mei 2026 menunjukkan pola cuaca khas masa transisi musim. Kondisi berawan sejak pagi hingga siang menandakan tingkat kelembapan udara cukup tinggi.
Sementara kemunculan hujan petir pada sore hari menjadi indikasi adanya pertumbuhan awan konvektif akibat suhu panas siang yang cukup tinggi.
Jika pola ini terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan, masyarakat Surabaya kemungkinan akan lebih sering menghadapi cuaca yang berubah cepat antara panas, berawan, dan hujan dalam satu hari.
Karena itu, kesiapan menghadapi perubahan cuaca menjadi hal penting agar aktivitas harian tetap berjalan lancar.
Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya meningkatkan pengawasan terhadap potensi masuknya hantavirus melalui pintu internasional di Jawa Timur (Jatim).
Kewaspadaan diperketat di Bandara Internasional Juanda dan Pelabuhan Tanjung Perak, menyusul laporan kasus hantavirus di sejumlah negara, termasuk munculnya klaster pada kapal pesiar MV Hondius yang menjadi perhatian global.
Kepala BBKK Surabaya, dr Rosidi Roslan, mengatakan pengawasan dilakukan berbasis risiko tanpa menerapkan pembatasan perjalanan internasional.
“Perlu dilakukan peningkatan kewaspadaan, khususnya terhadap pelaku perjalanan luar negeri yang berasal dari negara atau wilayah yang telah melaporkan kasus hantavirus. Namun pengawasan yang dilakukan tetap berbasis risiko dan sesuai prosedur kekarantinaan kesehatan, bukan pembatasan perjalanan,” ujar Rosidi kepada SURYA.co.id, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, BBKK Surabaya bersama stakeholder Bandara Juanda memperkuat pengawasan terhadap alat angkut, orang, dan barang dari luar negeri.
Pengawasan dilakukan melalui deklarasi kesehatan mandiri menggunakan aplikasi All Indonesia, pemantauan dashboard kesehatan pelaku perjalanan luar negeri, thermal scanner, hingga observasi tanda dan gejala penyakit.
BBKK Surabaya meningkatkan kewaspadaan terhadap pelaku perjalanan dari negara yang pernah melaporkan kasus hantavirus.
Negara tersebut antara lain Finlandia, Jerman, Swedia, Chili, Argentina, Panama, Korea Selatan, China dan Taiwan.
Selain itu, pengawasan juga diperketat terhadap negara yang memiliki keterkaitan dengan klaster kapal pesiar MV Hondius.
Negara yang masuk pemantauan meliputi Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Jepang, Australia, Belanda, Spanyol, Portugal, Polandia, Turki, Ukraina dan Rusia.
Rosidi menjelaskan, petugas kesehatan disiagakan di area kedatangan internasional untuk memantau sejumlah gejala yang mengarah pada infeksi hantavirus.
“Apabila ditemukan pelaku perjalanan yang memenuhi kriteria suspek, maka akan dilakukan tindak lanjut sesuai pedoman berupa pemeriksaan lebih lanjut, pengambilan sampel, rujukan ke rumah sakit, hingga tindakan kekarantinaan kesehatan bila diperlukan,” katanya.
Selain di Bandara Juanda, BBKK Surabaya memperkuat pengawasan di Pelabuhan Tanjung Perak, khususnya terhadap kapal internasional dan kapal pesiar.
Pemeriksaan dilakukan sebelum kapal memperoleh izin sandar, melalui pengecekan riwayat perjalanan kapal dan dokumen Maritime Declaration of Health (MDH) melalui aplikasi Sinkarkes.
“Apabila kapal tidak memiliki riwayat perjalanan dari negara terjangkit dan tidak ditemukan penumpang atau awak kapal yang bergejala, maka kapal dapat diberikan izin sandar. Namun apabila ditemukan faktor risiko, maka akan dilakukan evaluasi lebih lanjut sebelum kapal diizinkan sandar,” jelas Rosidi.
Untuk kapal dengan risiko tinggi, seperti kapal dari wilayah terjangkit atau terdapat awak kapal sakit, diwajibkan mengibarkan bendera kuning sebagai tanda karantina.
Rosidi menegaskan, hingga kini belum tersedia alat khusus yang mampu mendeteksi hantavirus secara instan di bandara maupun pelabuhan.
Sistem yang diterapkan masih berupa deteksi dini berbasis surveilans kesehatan dan penilaian risiko.
“Yang disiapkan bukan alat khusus hantavirus, melainkan thermal scanner, sistem deklarasi kesehatan digital, pengamatan gejala oleh petugas kesehatan, kesiapan ruang observasi, alur rujukan, serta koordinasi dengan rumah sakit rujukan dan laboratorium,” ungkapnya.
Selain pengawasan terhadap manusia, BBKK Surabaya juga memperkuat pengendalian rodensia seperti tikus dan celurut di area pelabuhan maupun bandara.
Hewan pengerat tersebut diketahui menjadi reservoir utama hantavirus.
Meski kewaspadaan diperkuat, Rosidi meminta masyarakat tidak panik, karena Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih menilai risiko penyebaran global hantavirus tergolong rendah.
“Pada prinsipnya, sistem cegah tangkal penyakit di pintu masuk negara sudah memiliki SOP yang jelas. Saat ini kewaspadaan terhadap hantavirus memang diperkuat menyusul perkembangan situasi global,” pungkasnya.