TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Puluhan orang dari Peternak Rakyat Tulungagung menggelar aksi bagi-bagi telur ayam gratis di Taman 0 KM Tulungagung, Sabtu (16/5/2026) siang.
Aksi ini sebagai bentuk protes terhadap pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Cecep M Wahyudin yang akan mendatangkan investor Tiongkok.
Investor asing ini diproyeksikan akan memproduksi telur untuk kebutuhan pemenuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kebijakan Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Peternakan ini dinilai akan mematikan peternak rakyat.
Baca juga: Disparbud Apresiasi Trenggalek Menari, Ikut Bantu Promosikan Pariwisata
“Cecep ini musuhnya peternak rakyat,” ujar peternak yang menjadi peserta aksi di Taman 0 KM Tulungagung.
Aksi ini mendapat sambutan antusias dari pengguna jalan. Setiap pengendara yang melintas mendapatkan satu bungkus telur berisi 3-4 butir.
Aksi ini juga diserbu warga yang kebetulan berada di sekitar Alun-alun Kabupaten Tulungagung, mereka juga menyerbu pembagian telur ayam gratis ini.
Sementara polisi yang ada di Pos Polisi Simpang TT dengan sigap mengamankan lalu lintas.
Hanya sekitar 10 menit, stok 5.000 butir telur yang disiapkan para peternak sudah habis.
Menurut koordinator aksi, Abdul Kholiq, bagi-bagi telur ini wujud keprihatinan peternak rakyat.
Di saat harga telur turun karena kelebihan pasokan, Kadin malah menggandeng investor Tiongkok.
“Investor ini akan digandeng untuk memenuhi telur MBG di luar Pulau Jawa. Mereka akan gandeng integrator dari luar negeri,” ujarnya.
Kebijakan itu dinilai akan mematikan para peternak rakyat.
Sebenarnya pemerintah sudah membantu lewat SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) jagung.
Program ini sedikit demi sedikit meringankan beban pakan para peternak.
“Namun investor China ini menjadi isu nasional yang harus disikapi. Karena ini akan menentukan nasib peternak rakyat,” tegasnya.
Lanjut Kholiq, masuknya investor Tiongkok menjadi pukulan berat peternak rakyat yang selama ini tidak ada proteksi.
Apalagi saat ini produksi telur di Tulungagung kelebihan produksi hingga harga di kandang hanya Rp 21.000 per kg.
Kholiq menyebut harga pokok penjualan (HPP) telur di angka Rp 23.000, sehingga peternak saat ini merugi.
Baca juga: Puluhan Pelajar Dapat Materi Water Rescue di Diklat Brigade Penolong Trenggalek
“Awal program MBG memang harganya tinggi, namun selepas Idul Fitri harganya turun drastis. Salah satunya karena kita memang oversupply,” tegasnya.
Para peternak rakyat ini dengan tegas menolak masuknya investor asing bidang peternakan, untuk produksi telur.
Selain itu pemerintah juga diminta campur tangan untuk menangani sistem distribusi telur dari peternak.
Distribusi yang baik akan membantu penyerapan pasar dan stabilitas harga.
(David Yohanes/TribunMataraman.com)