Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -Deretan delman hias mulai memenuhi kawasan Kiara Artha Park, tempat helatan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda, Sabtu (16/5/2026).
Kereta-kereta kuda itu tampak dihias warna-warni. Tak lupa aneka bunga disematkan dibeberapa bagian, sementara para kusir sibuk memastikan kuda mereka siap mengikuti arak-arakan budaya.
Salah satu kusir yang ikut ambil bagian adalah Agus, warga Katapang, Kabupaten Bandung.
Bersama kudanya, ia sudah tiba di lokasi sejak pukul 06.00 WIB untuk menyiapkan delman yang akan tampil dalam parade.
Agus mengaku dirinya rutin mengikuti parade budaya seperti ini setiap tahun.
Menurut Agus, keterlibatannya kali ini berawal dari ajakan untuk ikut memeriahkan kegiatan yang digelar pemerintah daerah.
Ia menyebut para kusir delman mendapat informasi dan arahan lima hari sebelum acara berlangsung.
“Saya dikabarinya sekitar lima hari sebelumnya. Jadi sudah dikasih tahu, memang tiap tahun ikut, sudah langganan,” ujar Agus saat ditemui di lokasi, Sabtu (16/5/2026).
Ia mengatakan, sedikitnya ada sekitar 30 delman yang ikut dalam parade kali ini.
"Tidak hanya dari Bandung Raya, ada juga datang dari berbagai daerah lain seperti Jakarta, Solo, hingga Yogyakarta," imbuhnya.
Selain delman, ada pula puluhan kuda tunggang yang turut memeriahkan acara.
“Kalau delman kurang lebih 30. Ditambah kuda tunggang, totalnya bisa sekitar 40,” katanya.
Persiapan dekorasi delman pun tidak singkat. Untuk menghias kereta agar tampil rapi dan menarik, ia membutuhkan waktu sekitar tiga jam.
Menurut Agus, ada arahan khusus dari panitia agar setiap delman tampil bersih dan tertata.
Penampilan delman, termasuk kebersihan area kuda, menjadi perhatian penting sebelum ikut berparade.
“Memang ada permintaan supaya dihias, biar kelihatan rapi. Yang penting juga kebersihannya,” ujarnya.
Sehari-hari, Agus bekerja sebagai kusir delman wisata di kawasan Gedung Sate.
Pada akhir pekan dan hari libur panjang, ia biasa melayani wisatawan yang ingin berkeliling atau sekadar berfoto menggunakan delmannya.
“Saya sehari-hari narik di depan Gedung Sate. Kalau libur panjang kadang di kebun binatang,” kata dia.
Meski belum mengetahui pasti siapa yang akan menaiki delmannya saat parade, Agus mengatakan biasanya setiap delman akan membawa perwakilan tertentu, mulai dari pejabat hingga tamu undangan.
“Ada yang dinaiki pejabat juga, wakil, artis atau mungkin tamu kabupaten/kota," katanya.
Bagi Agus, ikut parade budaya membawa kebahagiaan tersendiri.
Ia merasa senang karena delman sebagai bagian dari transportasi tradisional masih mendapat tempat dalam perayaan budaya besar di Jawa Barat.
“Bahagia sekali bisa ikut memeriahkan acara seperti ini,” ujar Agus.
Ia berharap kegiatan budaya yang melibatkan delman dan kuda tradisional bisa terus digelar.
Menurutnya, hal itu bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga memberi ruang bagi pelaku budaya seperti dirinya untuk tetap eksis.
“Harapannya semoga kita makin maju ke depannya, budaya tetap ada. Semoga pemimpin kita sehat selalu,” kata Agus. (*)