TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Sedikitnya 60 jiwa di kawasan Kampung Sriyatno RT 02 RW 04, Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang menjadi korban terdampak banjir akibat luapan arus deras Sungai Silandak pada Jumat (15/5/2026) malam.
Kondisi aspal dan batako (paving) di kawasan tersebut bahkan sampai terkelupas. Selain itu, beberapa barang berharga milik warga juga dilaporkan rusak usai diterjang air bah yang hanya berlangsung dalam hitungan menit di lokasi tersebut.
Banjir bandang ini turut meninggalkan genangan endapan lumpur pekat yang membuat warga kesulitan. Dari pantauan Tribun Jateng pada Sabtu (16/5/2026), tampak sejumlah warga tengah bahu-membahu melakukan kerja bakti membersihkan sisa material banjir.
Baca juga: Banjir Bandang Berpotensi Melanda Banyumas Raya Jika Waduk Mrica Jebol
Lurah Purwoyoso, Agus Riyanto mengatakan, luapan air dari Sungai Silandak menyebabkan air masuk menyapu kawasan permukiman warga hingga mencapai ketinggian setinggi satu meter.
“Kami menerima laporan air masuk ke rumah warga sampai sekitar satu meter. Ini bisa dikatakan yang paling parah dalam 10 tahun terakhir,” ujarnya saat memberikan keterangan, Sabtu (16/5/2026).
Menurut catatan Agus, wilayah terdampak tersebar di sejumlah titik Rukun Warga (RW), mulai dari kawasan RW 3, RW 4, RW 12, RW 13, hingga RW 14.
“Rata-rata dampak berasal dari luapan Sungai Silandak. Ada jalan ambrol, lumpur, dan sampah yang terbawa arus,” katanya merinci kerugian.
Ia menjelaskan, jajaran pemerintah kota bersama tim dari pihak kecamatan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), serta Dinas Pekerjaan Umum (DPU) langsung sigap melakukan penanganan sejak Jumat malam hingga memasuki Sabtu dini hari.
Petugas gabungan bekerja keras membersihkan material lumpur dan membuka kembali akses jalan yang sebelumnya sama sekali tak bisa dilalui akibat tergerus banjir.
“Sekarang jalan sudah bisa dilalui lagi. Tadi malam memang sempat tidak bisa dilewati karena rusak terkena luapan air,” jelasnya memastikan keamanan akses.
Agus menduga bahwa banjir besar tersebut utamanya dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan di wilayah hulu, termasuk kawasan Ungaran. Hal itu yang kemudian menyebabkan debit air di Sungai Silandak meningkat drastis bersamaan dengan guyuran hujan deras di wilayah Ngaliyan.
“Dimungkinkan dari wilayah hulu seperti Ungaran terjadi hujan tinggi, lalu di sini juga hujan deras sehingga terjadi luapan luar biasa,” ungkapnya memberikan analisis awal.
Dalam kejadian nahas tersebut, juga dilaporkan terdapat satu korban jiwa yang meninggal dunia akibat hanyut terbawa arus deras di wilayah RT 01 RW 04. Namun, korban tersebut dipastikan bukan merupakan warga Kelurahan Purwoyoso setempat.
Sebuah tanggul dilaporkan jebol di kawasan RW 7 dengan dimensi panjang mencapai sekitar 60 meter, sementara kerusakan parah lainnya berupa tembok pembatas yang roboh menimpa kawasan RW 3 dan RW 13.
Pihak pemerintah kelurahan saat ini masih terus berkoordinasi secara intensif dengan DPU Kota Semarang dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk penanganan kedaruratan lanjutan terhadap tanggul yang jebol, serta perumusan langkah normalisasi aliran Sungai Silandak. (Rad)