Gandeng Aksara Dena, Film Polifoni Mendoan Bidik Festival Internasional
Daniel Ari Purnomo May 16, 2026 07:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Mendoan yang selama ini sering kali identik sebagai sekadar gorengan hangat di warung pinggir jalan Kabupaten Banyumas, kini sukses diangkat menjadi sebuah film dokumenter yang digarap secara serius untuk menembus festival film skala nasional hingga internasional.

Film dokumenter yang bertajuk Polifoni Mendoan ini telah resmi merampungkan proses pengambilan gambar di sejumlah lokasi strategis di wilayah Kabupaten Banyumas.

Proyek sinematik tersebut merupakan salah satu penerima hibah Dana Indonesiana milik Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk tahun 2025 melalui skema Karya Kreatif Inovatif yang dikelola dari dana abadi kebudayaan nasional.

Baca juga: Soal Film Dokumenter Dirty Vote Ini Kata TPN Ganjar - Mahfud

Menurutnya, mendoan merupakan kuliner khas Banyumas yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), namun sayangnya belum pernah didokumentasikan secara mendalam sebagai sebuah subjek gastronomi lokal.

"Mendoan ada di mana-mana, tapi jarang sekali kita benar-benar mendiskusikannya," kata King kepada Tribunbanyumas.com, dalam rilisnya, Sabtu (16/5/2026).

"Mendoan bisa ditemukan di mana saja dan kapan saja. Kedekatan seperti itu sulit ditemukan pada makanan khas daerah lain," ujarnya mencontohkan.

Film dokumenter ini sendiri lahir dari hasil diskusi mendalam antara King bersama sang penulis naskah, Abdul Aziz Rasjid.

Keduanya lantas mengembangkan gagasan tentang mendoan sebagai sebuah simbol keseharian masyarakat Banyumas yang selama ini kerap dianggap biasa saja, namun ternyata menyimpan banyak ragam cerita di baliknya.

Dalam proses produksinya, Polifoni Mendoan menggunakan sebuah format dokumenter Poetic-Expository dengan menyajikan empat fragmen utama yang siap membawa penonton menyusuri berbagai lapisan cerita sepotong mendoan.

"Mendoan adalah polifoni. Berisi beragam suara yang berasal dari para pengrajin, penjual, dan penikmatnya yang berlapis-lapis. Suara yang mungkin tidak senada karena keragamannya. Kami datang, mendengarkan dan merekam harmoninya," ujar King memaparkan konsepnya.

Untuk semakin memperkuat elemen narasi film, tim produksi juga secara khusus memilih aktor Aksara Dena sebagai sosok narator utama.

Nama Aksara Dena sendiri sudah cukup dikenal luas oleh publik melalui sejumlah karya film dan serial, seperti AUM!, 13 Bombs, Cigarette Girl, Tumbal Darah, hingga Losmen Bu Broto: The Series.

Proses produksi dan pengambilan gambar dilaporkan telah dilakukan di sejumlah titik di Banyumas, mulai dari wilayah Desa Pliken yang memang dikenal luas sebagai sentra pengrajin tempe, lalu kawasan Kota Purwokerto, hingga menyusuri warung-warung malam di Baturaden dan Desa Kebocoran.

Saat ini, seluruh tahapan panjang dari riset, observasi lapangan, penyusunan naskah, hingga proses syuting akhirnya telah selesai dilakukan oleh para kru.

Adapun tim produksi di balik layar film ini seluruhnya merupakan deretan sineas yang berbasis di wilayah Banyumas dan Purwokerto.

Film dokumenter Polifoni Mendoan ini secara jadwal ditargetkan bakal rampung seutuhnya pada pertengahan tahun 2026, dan memang direncanakan untuk segera mengikuti sejumlah ajang festival film nasional maupun menembus kancah internasional. (jti)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.