Cara Unik Burung Maleo dari Sulawesi Mengerami Telur: Pakai Panas Bumi
GH News May 16, 2026 08:08 PM
Jakarta -

Satwa-satwa endemik di Indonesia ternyata beragam dan unik. Maleo, salah satu jenis burung endemik di Sulawesi, diketahui tidak mengerami telurnya sendiri, melainkan bergantung pada panas bumi dan Matahari. Bagaimana burung ini mendeteksi tempat yang ada sumber panas buminya?

Burung Maleo (Macrocephalon maleo), satwa endemik di Sulawesi Tengah, memiliki ciri khas berupa jambul unik atau tonjolan berwarna hitam yang berbentuk bulat berujung runcing, serta memiliki sentuhan warna jingga.

Burung maleo cenderung aktif pada siang hari dan tidur pada malam hari. Satwa ini hidup berkoloni dan menghabiskan waktunya mencari makanan di permukaan tanah.

Meletakkan Telur di Dalam Pasir yang Memiliki Panas Bumi

Mengutip buku berjudul "" yang diterbitkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ilmuwan menemukan bahwa burung maleo tidak mengerami telurnya, melainkan meletakkannya di dalam tanah agar menetas sendiri dengan memanfaatkan panas bumi dan sinar matahari.

Diduga tonjolan di burung Maleo yang tumbuh saat dewasa dipakai untuk mendeteksi panas bumi yang sesuai untuk menetaskan telurnya, demikian dikutip dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan, Kementerian Kehutanan.

Saat akan menetas, Maleo mulai menguburkan telurnya di dalam pasir yang memiliki panas bumi hingga menetas. Maleo melakukan cara unik ini karena ukuran telurnya yang bisa lebih besar dari tubuhnya, bahkan 5 kali lipat lebih besar dari telur ayam.

Dalam timbunan pasir panas bumi itu, telur Maleo akan menetas kurang lebih 80 hari. Karena kondisinya yang terkubur, beberapa Maleo yang baru keluar dari cangkang, tak selamat karena tak berhasil menerobos timbunan.

Maleo Menjadi Sensitif terhadap Hujan

Karena mengandalkan panas bumi dan Matahari, Maleo menjadi sensitif terhadap perubahan curah hujan dan suhu udara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyoroti perubahan iklim yang telah memicu pergeseran iklim regional termasuk di Sulawesi Tengah.

"Variabilitas unsur-unsur iklim tersebut berpotensi memengaruhi keberhasilan penetasan telur Maleo dan keberlanjutan populasinya," tulis BMKG dalam laman resminya, dikutip Rabu (13/5/2026).

Dalam hal ini, curah hujan yang tinggi akan meningkatkan kelembapan tanah, sehingga perkembangan embrio Maleo menjadi terganggu. Sebaliknya, peningkatan suhu udara juga bisa memengaruhi pengeraman Maleo.

Suhu tanah yang terlalu tinggi dapat mempercepat perkembangan embrio Maleo sehingga meningkatkan risiko kematian dini. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim telah memberikan tekanan nyata pada spesies asli Sulawesi tersebut.

Satwa Endemik Langka yang Jadi Maskot Sulawesi Tengah

Burung maleo merupakan satwa endemik yang hanya dapat ditemukan di Pulau Sulawesi. Burung ini telah diangkat sebagai identitas daerah.

Pemerintah menetapkan maleo sebagai maskot atau fauna identitas Provinsi Sulawesi Tengah sejak 24 Februari 1990. Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Tengah Nomor Kep. 188.44/1067/RO/BKLH.

Penetapan maleo sebagai satwa maskot menunjukkan kebanggaan masyarakat Sulawesi Tengah dan Indonesia terhadap kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki.

Meski penyebarannya di Sulawesi Tengah terbilang relatif luas, maleo tetap tergolong satwa liar langka. Karena itu, keberadaannya telah lama dilindungi secara ketat melalui Keputusan Menteri Pertanian RI No. 42/Kpts/Um/8/1970.

Status dilindungi ini berlaku menyeluruh. Aturan tersebut melindungi maleo dalam kondisi hidup maupun mati, termasuk yang telah diawetkan, serta melarang pengambilan dan penjualan bagian tubuhnya seperti telur.

Untuk menjaga kelestarian populasinya, sejumlah kawasan konservasi di Sulawesi Tengah ditetapkan sebagai habitat utama maleo. Salah satu lokasi bertelur terbesar berada di Suaka Margasatwa Bakiriang di Kabupaten Banggai.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.