Dua Dekade, Satu Pesan Facebook: Kisah PMI Lombok Pulang dari Malaysia Usai Dikira Hilang
Wahyu Widiyantoro May 17, 2026 02:06 PM

TRIBUNLOMBOK.COM LOMBOK TENGAH — Joni Sutangga sedang memegang ponselnya ketika sebuah pesan masuk melalui Facebook Messenger dari akun yang tidak ia kenal pada Selasa (12/5/2026) malam.

Pengirimnya mengaku bernama Esan. Ihsan atau Esan (35) merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) berasal dari Desa Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah yang sudah lama dinyatakan hilang di Malaysia.

Ihsan merupakan keponakan Joni yang pergi ke Malaysia pada 2007 dan tidak pernah memberi kabar sejak 2017. 

Sempat ada rencana untuk mengadakan zikir kematian baginya. Sempat ada keyakinan bahwa ia telah tenggelam bersama kapal yang katanya kecelakaan di perairan antara Malaysia dan Indonesia.

"Langsung saya tanya lagi, kakaknya Ihsan atau adiknya Ihsan? Dia jawab, 'Saya Ihsan, adiknya Bahri'. Seketika itu saya langsung gemetaran, saya histeris," ujar Joni.

Ia melakukan video call. Dan di layar ponselnya, muncul wajah keponakan yang telah hilang selama dua dekade.

Baca juga: Cerita PMI Asal Lombok Tengah Hilang 20 Tahun, Sang Ayah Telah Berpulang Dalam Penantian

Berangkat Resmi, Menetap Ilegal

BP2MI NTB memfasilitasi kepulangan Esan sebagai bagian dari fungsi perlindungan dan pemulangan PMI bermasalah.

Esan yang resmi kembali ke tanah kelahirannya di Lombok pada Sabtu (16/5/2026) awalnya bukan pergi tanpa pamit. 

Pada 2007, ia berangkat ke Malaysia bersama kakaknya, Bahri, dengan prosedur yang resmi berupa kontrak kerja, dokumen lengkap, keberangkatan yang tercatat.

Selama sepuluh tahun pertama, komunikasi masih terjalin. 

Keluarga di Lombok masih bisa mendengar suaranya, masih bisa memastikan ia baik-baik saja. Pada 2017, ia mengirim kabar untuk terakhir kalinya.

"Keluarga semua keluarga (yang saya kangen), saya disuruh pulang aja," kata Esan mengenang pesan terakhir yang ia ingat dari keluarganya begitu tiba di Bandara Lombok.

Esan kala itu tidak lantas pulang. Setelah kontrak kerja pertamanya habis, Esan memilih menetap di Malaysia dengan status nonprosedural. 

Sembilan Tahun di Balik Jeruji

Esan terjerat masalah hukum. Ia mendekam di penjara Malaysia selama kurang lebih sembilan tahun, sejak 2017. 

Selama hampir satu dekade itu, tidak ada kabar yang bisa ia kirimkan. Tidak ada nomor yang bisa dihubungi. Tidak ada alamat yang bisa didatangi.

Di sisi lain keluarganya menanti kabar. Di dalam penjara, Esan menyebut bertahan bersama bayangan ibunya.
"Ibu yang jelas (yang menguatkan saat dipenjara)," ungkapnya singkat.

Ia memilih untuk tetap optimis, meyakini bahwa suatu hari ia akan pulang.

"Positif aja, akan pulang ketemu keluarga, itu aja," tuturnya.

Penantian yang Menggerus dari Dalam

Selama Esan dipenjara, jauh di seberang di Desa Kabul, sang ayah menunggunya.

Paman Esan, Joni Sutangga, menceritakan bagaimana ayah Esan yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu kabar dari anak yang entah di mana.

"Bayangkan sampai meninggal bapaknya bertahun-tahun menunggu kepulangannya. Sang ayah langsung drop dan jatuh sakit akibat rasa rindu yang teramat sangat," kata Joni.

Sempat Dikira Meninggal

Kabar burung tentang kapal tenggelam pada 2017 memperburuk situasi. 

Pihak keluarga hampir mengadakan zikir kematian untuk Esan, yang mengira Esan merupakan salah satu korbannya. 

Sang ayah selanjutnya meninggal dunia tanpa melihat Esan kembali.

Ziarah ke makam sang ayah juga menjadi agenda utama dan pertama Esan setelah tiba di rumah.

Esan melangkah keluar dari Bandara Internasional Lombok (BIL) dengan bantuan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) NTB yang memfasilitasi kepulangannya dari Batam.

Raut muka Esan terlihat sayu. Air mata yang ia tahan akhirnya mengalir juga. Ia sudah tahu bahwa ayahnya yang ia panggil Abah telah pergi. 

Ketika ditanya apa yang ingin pertama kali ia lakukan setibanya di rumah, Esan tidak butuh waktu lama untuk menjawab.

"(Ingin) langsung (berziarah)," katanya singkat.
Dua kata. Berat sekali beratnya.

Awal Mula Esan Kembali Lagi

Sebuah pesan di Facebook Messenger, Selasa malam, dua minggu lalu membuktikan bahwa Esan masih hidup, kabar itu menyebar ke seluruh keluarga.

Rekaman video call berdurasi 2 menit 32 detik memperlihatkan reaksi keluarga antara lain ada yang pingsan, ada yang menangis tanpa henti, ada yang hanya bisa menatap layar dengan tangan gemetar.

Namun kini Esan sudah di kampung halaman. Dua puluh tahun. Satu pesan Facebook dan sebuah ziarah yang tidak bisa ditunda.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.