Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Muamarrudin Irfani
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, RUMPIN - Acara nobar film Pesta Babi yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Rumpin (HMR) batal digelar.
Hal itu dikarenakan mendapat penolakan dari Pemerintah Desa Rabak yang mengatasnamakan keberatan dari masyarakat.
Rencananya, nobar film yang dibuat oleh Watchdoc Documentary ini akan digelar pada Sabtu (16/5/2026) di Rumpin Eco Park, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.
Ketua Umum HMR, Muhammad Aang mengungkapkan, riak-riak penolakan sudah ada sejak H-1 acara.
Ia menyebut salah satu kadernya telah mendapat pesan dari pihak perangkat desa untuk membatalkan kegiatan tersebut.
"Kami beranggapan gak ada urusan lah gitu kan, alasan dia apa, dasar dia menolak itu apa. Kita tetap lanjut dan kita tetap akan sesuai jadwal lah melakukan nobar ini," ujarnya, Minggu (17/5/2026).
Namun, pada hari H pelaksanaan tiba-tiba venue yang akan menjadi tempat nobar menolak untuk melanjutkan kegiatan tersebut.
Menurutnya ada intervensi yang membuat penyedia fasilitas tidak mengizinkan acara nobar digelar sesuai seperti yang direncanakan.
"Kita dikabarin lagi sama pihak tempat katanya kayaknya gak bisa dilakuin nobar di sini karena pihak desa bener-bener menolak gitu," katanya.
Dalam kondisi tersebut, ia dan rekan-rekannya pun mendatangi Kantor Desa Rabak untuk meminta kejelasan dari penolakan ini.
Di sana mereka bertemu dengan kepala desa dan sekretaris desa, serta Babinsa kemudian berdiskusi agar nobar dapat digelar.
Akan tetapi, pihak desa dengan tegas menolak dengan alasan adanya penolakan dari warga karena judul film bertolak belakang dengan norma di wilayah tersebut.
"Masyarakat setempat menolak katanya karena pertama dekat dengan pesantrenan, terus beberapa warga menolak karena judulnya gitu kan," katanya.
Mahasiswa yang datang untuk meminta penjelasan pun tidak menerima alasan tersebut dan meminta warga yang menolak untuk dihadirkan.
Pada kesempatan itu, mahasiswa ingin berdialog dengan warga yang menolak untuk menjelaskan tentang film tersebut.
Akan tetapi, kata dia, pihak desa tidak bisa menghadirkan warga yang menolak dengan dalih sedang ada urusan lain.
"Ayo kita diskusi bareng atau berdialog bareng agar kami jelaskan terkait judul ini, bukan berarti Pesta Babi ini kita makan babi juga. Kalau seperti ini kan enggak objektif," katanya.
Situasi pun semakin memanas karena kedua belah pihak tetap bersikukuh dalam mencari jalan keluar dengan pendapatnya masing-masing.
Di tengah kondisi tersebut, mahasiswa pun akhirnya mengalah tidak melanjutkan nobar karena khawatir menimbulkan gesekan dengan masyarakat.
"Jadi pihak desa dengan tegas itu terserah HMR katanya kalau memang tetap mau dilakukan, itu terserah, tapi saya lepas tanggung jawab kalaupun memang ada apa-apa ketika nobar gitu katanya," katanya.