Analis Militer Sebut Iran Bakal Serang UEA, Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas
Facundo Chrysnha Pradipha May 17, 2026 10:23 PM

 

TRIBUNNEWS.COM – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan drone memicu kebakaran di dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Minggu (17/5/2026).

Sejumlah analis militer menilai insiden tersebut menjadi sinyal bahwa Iran kemungkinan memperluas target serangan ke negara-negara Teluk yang dianggap mendukung Israel dan Amerika Serikat.

Media Israel, The Jerusalem Post, melaporkan kebakaran terjadi di generator listrik di luar perimeter dalam kompleks PLTN Barakah di wilayah Al Dhafra.

Pemerintah Abu Dhabi menyebut kebakaran dipicu serangan drone, meski tidak ada korban jiwa maupun kebocoran radiasi.

Otoritas Federal untuk Regulasi Nuklir UEA memastikan seluruh sistem utama pembangkit tetap beroperasi normal dan keamanan fasilitas tidak terdampak langsung.

Namun insiden tersebut memunculkan kekhawatiran baru terkait potensi eskalasi konflik regional.

Sampai saat ini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Meski demikian, sejumlah pengamat keamanan menilai Iran atau kelompok proksi yang berafiliasi dengan Teheran menjadi pihak yang paling mungkin berada di balik operasi drone tersebut.

Media Timur Tengah, Arab News, melaporkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan “keprihatinan mendalam” atas serangan di dekat fasilitas nuklir sipil tersebut.

Baca juga: Pemimpin Brigade Al-Qassam Dikabarkan Tewas, Negosiasi Gaza Terancam Kian Rumit

IAEA disebut terus memantau perkembangan situasi dan meminta seluruh pihak menahan diri demi menghindari ancaman terhadap keamanan nuklir kawasan.

Ketegangan antara Iran dan UEA meningkat tajam sejak Februari 2026 setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran.

Menteri Luar Negeri UEA Khalifa Shaheen Al Marar menyatakan negaranya telah menjadi sasaran “serangan teroris berulang dan tidak beralasan” sejak akhir Februari lalu.

Dalam pernyataannya pada forum BRICS, Al Marar menyebut sistem pertahanan udara UEA telah mencegat sekitar 3.000 serangan yang melibatkan rudal balistik, rudal jelajah, hingga drone.

Menurut pemerintah UEA, target serangan mencakup bandara, pelabuhan, kilang minyak, pembangkit energi, fasilitas desalinasi air, serta kawasan permukiman sipil.

Pemerintah UEA juga menegaskan akan menggunakan seluruh hak diplomatik dan militernya untuk merespons setiap ancaman terhadap kedaulatan negara.

Iran Kirim Pesan ke Negara Teluk

Analis keamanan kawasan menilai Iran tengah mengirim pesan strategis kepada negara-negara Teluk yang dianggap memiliki hubungan dekat dengan Israel maupun Amerika Serikat.

Laporan media Inggris, The Telegraph, menyebut Washington diduga mendorong UEA untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran di kawasan Teluk Persia.

Situasi itu disebut memperbesar risiko konfrontasi langsung.

Selain UEA, Iran juga disebut terus memantau aktivitas Arab Saudi, Kuwait, hingga Irak.

Tehran sebelumnya telah memperingatkan negara-negara tersebut agar tidak terlibat dalam operasi militer yang mendukung Israel.

Media UEA, Al Ain News, melaporkan Israel kini berada dalam status siaga tinggi menyusul kemungkinan pecahnya kembali perang dengan Iran.

Laporan itu menyebut militer Israel terus mempersiapkan skenario serangan lanjutan yang berpotensi menyasar infrastruktur energi dan fasilitas strategis Iran.

Pengamat militer menilai pola serangan drone terhadap fasilitas sipil dan energi menunjukkan konflik kawasan mulai memasuki fase tekanan ekonomi dan psikologis.

Iran sebelumnya juga dituduh melakukan serangan terhadap kelompok oposisi Kurdi di Irak utara meski gencatan senjata regional sempat diumumkan bulan lalu.

Sementara itu, laporan The Wall Street Journal dan The New York Times mengungkap Israel diduga sedang menyiapkan lokasi operasi tambahan di kawasan sebagai bagian dari strategi menghadapi Iran.

Analis menilai insiden drone di Abu Dhabi bukan sekadar serangan terbatas, melainkan bagian dari pesan geopolitik lebih besar dari Tehran kepada negara-negara yang dianggap berpihak pada Israel.

Hingga kini situasi keamanan di kawasan Teluk masih terus dipantau ketat oleh negara-negara Barat dan organisasi internasional di tengah kekhawatiran pecahnya konflik regional berskala lebih luas.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.