TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Puluhan truk kembali tampak mengular menunggu antrean untuk membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar, di SPBU Mutiara yang berada di kawasan Kelurahan Batang Kabung Ganting, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Minggu (17/5/2026) sore.
Pantauan reporter TribunPadang.com, Fajar Alfaridho Herman sekira pukul 17.00 WIB di lokasi tersebut berderet mobil berukuran besar seperti truk CPO, truk pengangkut pasir, truk pengangkut barang, mobil pick up, hingga mobil pribadi yang sabar mengantri.
Panjang antrian kendaraan di SPBU tersebut diperkirakan hingga 200 meter lebih dari pintu masuk.
Baca juga: Sopir Truk di Padang Potong Nafkah untuk Keluarga Gara-Gara Antre Solar
Sejumlah pengemudi pun juga tampak duduk berkumpul di beberapa titik sambil bercerita.
Selain itu tampak juga beberapa pengemudi yang berada di dekat kendaraan dengan raut wajah kusam dan muram.
Ada juga pengemudi yang menunggu sambil bermain handphone, sambil merokok, bahkan ada yang tampak tertidur di balik kemudinya.
Dian, salah seorang supir truk, mengatakan bahwa sudah hampir tiga jam lebih ia menunggu antrean untuk mengisi solar di SPBU tersebut.
Sebelum berhenti dan menunggu, Dian terlebih dahulu memantau SPBU lainnya untuk mencoba menghindari antrean panjang.
Namun beberapa SPBU yang sempat dilihatnya hampir sama saja karena juga terjadi antrean panjang.
"Kalau menunggu di sini sudah tiga jam lebih lah, tadi sebelum kesini saya juga lihat di dekat Air Tawar sama Lubuk Buaya, antreannya panjang juga, jadi saya lebih memilih di sini saja menunggu karena lebih dekat ke gudang," katanya.
Baca juga: Sopir Truk di Padang Menjerit, Hendra: Uang Rp100.000 Habis untuk Makan dan Minum Saat Antre Solar
Dian yang setiap harinya melansir bahan bangunan dengan skala besar antar kabupaten dan kota terpaksa memutar otak untuk mengantisipasi sulitnya BBM jenis solar.
Ia menyebut bahwa untuk mendapatkan BBM jenis solar lebih sulit di luar daripada di Kota Padang.
"Sedangkan di Kota Padang saja sudah susah, seperti ini antreannya, apalagi di luar Kota Padang, lebih parah lagi," katanya.
Karena kondisi itu, Dian selalu melebihkan pembelian BBM jenis solar dengan menggunakan jeriken untuk mengantisipasi jika habis di tengah perjalanan dan sulit mendapatkan bensin.
"Kalau kita kan membeli menggunakan barcode, di barcode itu maksimal pembelian sekitar Rp. 1,2 juta, sementara kita hanya dibatasi pembelian sekitar Rp. 850 ribu, untuk minyak ke lokasi pengantaran saja tidak cukup, jadi kita akali kadang dengan membeli tambahan bensin pakai jeriken, kita isi sekitar 20 hingga 30 liter untuk cadangan," terangnya.
"Apalagi ditambah saat ini kita tidak bisa lewat Silaiang karena pembatasan kendaraan besar, kita terpaksa memutar lebih jauh dan memakan waktu serta bensin yang lebih banyak," tambahnya.
Dian berharap semoga pemerintah bisa mengatasi kelangkaan solar tersebut, agar masyarakat tidak merasa kesulitan.
Sementara itu pengandara lainnya, Diki, juga mengeluhkan kelangkaan BBM jenis solar.
Ia terpaksa menunggu selama dua hari karena solar yang habis saat sedang mengantre.
"Kelangkaan solar ini sangat menyusahkan kami, kemarin saja saya sampai dua hari menunggu untuk mengisi solar, karena pas antre solarnya habis," katanya.
"Untung saja rumah saya dekat, jadi saya bisa kembali dulu ke rumah. Yang kasihan kita orang-orang yang jauh ini, tinggal di pinggiran kota, mengantri dari pagi, sampai sore pun belum dapat," tambahnya.
Selain itu, kata Diki, para pengemudi pun banyak yang terpaksa mengeluarkan biaya lebih besar karena menunggu hingga seharian.
Bahkan, banyak para pengemudi yang mengeluarkan dana Rp. 100 ribu per hari hanya untuk menunggu pengisian solar.
"Banyak dari supir-supir ini yang mengeluh karena lamanya pengisian, mereka terpaksa mengeluarkan uang sekitar Rp100 ribu untuk makan, rokok dan lain-lainnya, tentu ini membuat penghasilan kami sebagai supir juga berkurang, karena bos sudah memberikan patokan upah, ternyata di lapangan biaya tak terduganya juga banyak karena hanya menunggu bensin saja," ujarnya.
"Biasanya dalam satu minggu itu kita bisa membawa pulang sekitar Rp 1 juta lebih, ketika solar susah ini palingan hanya sekitar Rp 600 sampai Rp 800 ribu saja, sudah termakan dengan biaya operasional menunggu itu," tambahnya.
Diki pun juga berharap agar pemerintah bisa segera mengatasi kelangkaan solar yang terjadi agar tidak terlalu menyusahkan masyarakat, terutama supir.