POS-KUPANG.COM, JAKARTA – Epidemiolog dan pakar Keamanan Kesehatan Global dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, meminta masyarakat tidak panik menyusul adanya wabah Ebola.
Menurut Dicky, situasi ini sangat serius namun bukan berarti dunia sedang mengarah pada pandemi baru seperti Covid-19.
“Situasi ini tentu sangat serius, tapi penting juga diketahui bahwa ini bukan artinya ada pandemi global,” ujar Dicky, Minggu (17/5/2026).
Dicky menanggapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC).
Dicky menilai Pemerintah Indonesia tidak perlu melakukan penutupan total pada pintu perbatasan internasional.
Kendati demikian, kualitas surveilans epidemiologi atau pengawasan pola penyakit di gerbang kedatangan wajib diperketat.
Jalur pemeriksaan harus difokuskan pada bandara, pelabuhan laut, pintu masuk pekerja migran, hingga kepulangan jemaah haji dan umrah.
Pemeriksaan kesehatan perlu menitikberatkan pada riwayat perjalanan dalam 21 hari terakhir dari wilayah Afrika.
“Petugas harus jeli menyaring pelaku perjalanan yang menunjukkan gejala demam akut, perdarahan, atau memiliki riwayat kontak dengan pasien Ebola serta satwa liar,” jelasnya.
Kemampuan uji cepat menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mendeteksi rumpun filovirus penyebab Ebola juga harus diperkuat.
Ia mengingatkan, kegagalan banyak negara dalam menghadapi wabah umumnya bukan karena virusnya yang terlalu kuat, melainkan respons sistem kesehatan yang terlambat mendeteksi ancaman.
Berbeda dengan Covid-19, virus Ebola tidak menular melalui udara bebas melainkan membutuhkan kontak erat dengan cairan tubuh penderita.
Saat ini, potensi penyebaran Ebola ke Indonesia dinilai masih berada pada kategori rendah hingga menengah.
Pemerintah juga diimbau melakukan komunikasi risiko secara transparan dan berbasis sains guna menangkal hoaks. (*)
Sumber: Tribunnews.com