Dari seorang perempuan renta yang sehari-harinya menyapu dedaunan di tengah sawah Kabupaten Maros, Jumariah kini menjelma menjadi simbol keteguhan hati di musim haji 2026.
Makkah (ANTARA) - Di bawah langit cerah Makkah pagi itu, lautan manusia berpakaian ihram bergerak bagai gelombang yang tak pernah putus.
Di antara jutaan umat dari berbagai penjuru dunia, terselip senyum tulus dari wajah renta yang dipenuhi guratan kehidupan.
Ia adalah Jumariah, seorang buruh tani berusia 70 tahun asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang kisahnya baru-baru ini viral dan menyita perhatian dunia sebagai ikon global haji 2026.
Siapa sangka, perempuan renta yang langkahnya kini menapaki marmer dingin Masjidil Haram tersebut, menghabiskan puluhan tahun hidupnya dalam kesunyian yang syahdu di sepetak rumah sederhana di tengah hamparan sawah.
Jauh sebelum gemerlap kilat kamera ponsel menyorotinya, kehidupan nenek Jumariah berjalan dalam ritme yang sangat sederhana dan sunyi.
Selama lebih dari 20 tahun, ia hidup sebatang kara di sebuah rumah kecil yang dikelilingi oleh persawahan.
Anak-anaknya memang ada, tapi kehidupan membawanya pada takdir untuk meniti hari-hari di masa tuanya dalam kesendirian yang mandiri.
Setiap hari, sebelum fajar benar-benar menyingsing, Jumariah sudah terbangun. Tidak ada asisten rumah tangga atau perabotan mewah.
Ia memulai harinya dengan memberi makan ayam-ayam peliharaannya, menyapu pekarangan, lalu berjalan mengambil air untuk mencuci pakaian.
Setelah mandi dan menyantap sarapan alakadarnya, ia tidak lantas beristirahat. Langkah rentanya akan menyusuri pematang menuju kebun yang tak jauh dari rumahnya, lalu berlanjut ke sawah milik orang lain, tempatnya mengabdi sebagai buruh tani.
Tangannya yang kasar adalah saksi bisu dari kerasnya kehidupan, membersihkan rumput liar dan merawat tanaman dengan penuh ketelatenan hingga matahari terbenam.
Pulang ke rumah, ia kembali membersihkan diri, menyisakan lelah yang ditidurkannya dalam doa-doa panjang.
Bagi sebagian orang, pergi ke Tanah Suci adalah soal menunggu bonus tahunan cair atau menjual aset berharga. Namun bagi Jumariah, panggilan Baitullah dijawab dengan keringat, kesabaran, dan sebuah ember plastik yang diletakkan di sudut rumahnya.
Ia bukanlah orang berada. Pendapatannya dari bertani dan mencari hasil bumi di gunung sangatlah tidak menentu.
"Kalau saya dapat uang Rp100 ribu, saya simpan Rp50 ribu," ceritanya dengan mata berbinar.
Uang lembaran demi lembaran, receh demi receh itu, ia masukkan ke dalam sebuah ember pudar di rumah kayunya di tengah sawah. Ember itu menjadi saksi bisu dari niat kuat seorang hamba yang merindukan Tuhannya.
Lebih dari 20 tahun ia menabung dalam diam. Tidak ada yang tahu betapa besar perjuangannya menyisihkan uang dari perut yang mungkin masih setengah lapar, demi mengumpulkan Rp25 juta untuk biaya pendaftaran awal.
Pada 2011, impian itu akhirnya tercatat di atas kertas. Lima belas tahun ia menunggu sejak pendaftaran itu, menyambung harap dari musim panen ke musim panen berikutnya, hingga akhirnya tahun 2026 ini, semesta mendukung untuk memberangkatkannya.
Makkah Route
Keberangkatan Jumariah adalah sebuah lompatan sejarah dalam hidupnya. Sebelum ini, perjalanan terjauh yang pernah ia tempuh hanyalah ke Kendari untuk menjenguk sepupunya.
Menaiki "burung besi" menuju Tanah Suci adalah pengalaman yang tak pernah terlintas dalam benaknya.
"Pertama, saya agak ragu. Takut. Tapi lama-lama, ya sudah baik. Makanan di pesawat juga cocok," kisahnya sambil terkekeh pelan. Kepolosan Jumariah menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya.
Perjalanan yang berpotensi melelahkan bagi seorang lansia sepertinya berhasil dilalui dengan senyum berkat layanan yang luar biasa dari pemerintah.
Melalui fasilitas Makkah Route, sebuah inisiatif brilian hasil kerja sama pemerintah Indonesia dan Kementerian Haji (Kemenhaj) Arab Saudi, perjalanan Jumariah menjadi jauh lebih mudah.
Layanan fast track tersebut memungkinkan proses keimigrasian Arab Saudi dilakukan di bandara embarkasi di Indonesia.
Ketika Jumariah mendarat di Tanah Suci, ia tidak perlu lagi antre berjam-jam. Ia bisa langsung masuk ke bus dan diantar ke hotel.
Inovasi layanan haji yang sangat ramah lansia itu benar-benar memberikan dampak positif yang nyata, menjaga fisik dan mental jemaah berusia senja agar tetap prima saat tiba.
Sesampainya di Madinah, ketangguhan fisik Jumariah membuat para pembimbing ibadah dan rekan seregunya takjub.
Jarak ratusan meter dari hotel menuju Masjid Nabawi ia tempuh tanpa keluhan. Bahkan ketika jamaah lain mulai kelelahan, Jumariah tetap teguh melangkah.
Puncak emosional perjalanan itu terjadi saat ia tiba di Makkah. Ketika matanya yang mulai rabun untuk pertama kali menangkap kemegahan Ka'bah, tangisnya pecah. Tubuh rentanya bergetar.
“Kenapa saya bisa di sini? Saya orang miskin...” lirihnya dengan suara bergetar.
Meski kerinduannya untuk mencium Hajar Aswad begitu besar, para petugas dan pendamping dengan penuh welas asih memberi pengertian. Keselamatan dan kesehatan Jumariah menjadi prioritas utama.
Mengingat usianya serta padatnya jamaah, keinginan itu disepakati untuk ditunda, setidaknya hingga rangkaian wukuf di Arafah selesai ditunaikan.
Pelayanan dan pendampingan dari Kementerian Haji dan Umrah RI memastikan Jumariah tidak hanya dapat beribadah dengan khusyuk, tetapi juga terlindungi dari risiko fisik yang membahayakan.
Kini, Jumariah bersiap menyambut puncak ibadah haji. Fisik dan mentalnya tampak teguh. Tak ada rasa takut di wajahnya karena ia dikelilingi teman-teman serta para petugas yang memperlakukannya layaknya ibu sendiri.
Dari seorang perempuan renta yang sehari-harinya menyapu dedaunan di tengah sawah Kabupaten Maros, Jumariah kini menjelma menjadi simbol keteguhan hati di musim haji 2026.
Kisahnya menabung selama puluhan tahun di dalam ember plastik mengajarkan bahwa ketika niat telah tertanam kuat di dada, kemiskinan maupun kesunyian tak mampu menghalangi panggilan-Nya. Di bawah langit Makkah, doa-doa Jumariah mengangkasa.
“Saya berdoa, mudah-mudahan bisa kembali lagi...” ucapnya lirih. Sebuah doa sederhana dari jiwa yang kaya, meski hidupnya bersahaja.





