TRIBUNGAYO.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) resmi merilis pembaruan data mengenai prakiraan sebaran awan cumulonimbus (Cb) di wilayah udara Indonesia.
Prakiraan ini akan berlaku selama sepekan ke depan, terhitung mulai tanggal 18 hingga 24 Mei 2026.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko terhadap keselamatan transportasi, khususnya sektor penerbangan nasional.
Berdasarkan analisis data terbaru yang dihasilkan oleh model cuaca numerik (Numerical Weather Prediction), BMKG mendeteksi adanya dinamika atmosfer yang signifikan.
Terjadi pergeseran konsentrasi pertumbuhan awan Cumulonimbus yang saat ini masuk dalam kategori Frequent (padat dan berkelanjutan).
Kini mendominasi wilayah daratan Sumatera Selatan hingga perairan laut di bagian tengah dan timur Indonesia.
Kemunculan awan cumulonimbus selalu menjadi perhatian utama dalam dunia transportasi.
Hal itu karena potensinya yang sangat besar dalam memicu fenomena cuaca ekstrem.
Seperti badai petir, hujan lebat mendadak, hingga ancaman turbulensi hebat bagi pesawat yang sedang melintas di ketinggian jelajah.
Berdasarkan data prakiraan terkini, BMKG memetakan enam wilayah yang masuk dalam kategori Frequent (FRQ).
Pada zona merah ini, persentase cakupan spasial awan cumulonimbus diprediksi sangat padat dan luas, yaitu mencapai lebih dari 75 persen dari total area.
Wilayah-wilayah tersebut meliputi:
Masuknya wilayah Sumatera Selatan ke dalam daftar risiko tertinggi ini menjadi perhatian penting bagi koridor penerbangan domestik di bagian barat Indonesia, beriringan dengan kewaspadaan tinggi yang harus diterapkan pada jalur pelayaran di laut bagian tengah dan timur.
Selain zona merah dengan risiko ekstrem, BMKG juga merilis wilayah dengan kategori Occasional (OCNL), dimana persentase cakupan maksimum awan berkisar antara 50 hingga 75 persen.
Potensi menengah ini terpantau menyelimuti area yang sangat luas dari ujung barat hingga timur Indonesia, meliputi:
BMKG menegaskan bahwa informasi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus ini merupakan produk prakiraan cuaca penerbangan yang berlaku untuk tujuh hari ke depan guna mengoptimalkan keselamatan transportasi harian.
Dalam sistem ini, kepadatan awan dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu Frequent (FRQ) untuk cakupan di atas 75 persen
Occasional (OCNL) untuk rentang 50-75 persen, dan Isolated (ISOL) jika pertumbuhan awan terpencar di bawah 50 persen.
BMKG mengimbau para pilot dan nakhoda untuk selalu berkoordinasi dengan petugas pengatur lalu lintas udara serta otoritas pelabuhan.
Serta meningkatkan kewaspadaan saat melintasi jalur udara Sumatera Selatan, Laut Banda, maupun Laut Sulawesi. (*)
Baca juga: BMKG Rilis Prakiraan Pertumbuhan Awan Cumulonimbus 15-21 Mei 2026
Baca juga: Siang Panas Sore Hujan, Ini Penjelasan BMKG Soal Cuaca Mei 2026