TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wabah Ebola yang kini ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai darurat kesehatan global bukan lagi sekadar masalah medis.
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menegaskan hantaman wabah Ebola merupakan alarm keras atas kerusakan lingkungan.
Menurutnya, rentetan wabah dalam beberapa tahun terakhir membuktikan bahwa dunia mendesak menerapkan pendekatan One Health—keselarasan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
“Ebola, hantavirus, hingga Covid-19 memberi pesan serupa. Pendekatan kesehatan lingkungan, manusia, dan hewan harus disetarakan dan diharmoniskan,” ujar Dicky kepada Tribunnews, Minggu (17/5/2026).
Dicky menjelaskan, virus Ebola tidak muncul tiba-tiba. Ada andil kerusakan alam akibat penggundulan hutan, fragmentasi habitat, perdagangan satwa liar, eksploitasi tambang, hingga perubahan iklim.
Ketika hutan dibabat, jarak interaksi manusia dan satwa liar pembawa virus menjadi sangat dekat.
Kondisi kritis inilah yang memicu lompatan virus (spillover) ke tubuh manusia.
Berangkat dari faktor tersebut, penanganan wabah dinilai tidak bisa lagi hanya dibebankan kepada sektor kesehatan.
Baca juga: WHO Tetapkan Darurat Ebola Global, Bandara Indonesia Diminta Siaga
Melalui semangat One Health, penanggulangan wabah wajib melibatkan kolaborasi lintas kementerian.
Mulai dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian, badan karantina, imigrasi, BNPB, hingga BRIN.
Penanganan dinilai akan gagal jika ego sektoral masih dipelihara di tengah tingginya mobilitas global saat ini.
Meski risiko penularan di Indonesia lebih rendah daripada Covid-19, pemerintah diminta tidak abai.
Situasi di Afrika kian rumit akibat konflik bersenjata dan tingginya mobilitas antarnegara.
Terlebih, jenis Ebola yang menyebar saat ini adalah strain Bundibugyo yang belum memiliki vaksin berlisensi resmi.
Namun, Dicky menenangkan bahwa Ebola relatif lebih mudah dilokalisasi karena menular melalui kontak cairan tubuh penderita, bukan lewat udara bebas.
“Kalaupun terjadi outbreak, wabah lebih mudah dilokalisasi asalkan sistem deteksi dini dan respons kita cepat,” jelasnya.
Baca juga: Kasus Hantavirus di RI: 87 Persen Pasien Sembuh, Sisanya Meninggal dengan Penyakit Penyerta
Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah teperdaya oleh sebaran informasi palsu.
Langkah pencegahan mandiri dapat dilakukan dengan memperkuat edukasi kesehatan, menjaga kebersihan, serta mutlak menghindari konsumsi satwa liar yang berisiko membawa virus.
Di sisi lain, Dicky mewanti-wanti publik agar tidak membangun sentimen negatif atau rasisme terhadap warga negara asal Afrika akibat merebaknya wabah ini.
“Tidak perlu ada stigma terhadap warga Afrika. Tindakan itu tidak boleh dan salah,” tegas Dicky.