SURYA.CO.ID, MOJOKERTO - Majelis Ulama Indonesia (MUI), menyoroti viralnya kurban unta di Mojokerto menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijiriah/ Tahun 2026.
Fenomena viral ini hingga memicu gejolak di masyarakat, mereka mempertanyakan tentang keutamaan berkurban unta atau sapi maupun kambing.
Para ulama yang berkompeten di bidangnya perlu meluruskan, agar masyarakat teredukasi tujuan utama kurban dalam perayaan umat Islam tersebut.
Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Mojokerto, Ali Fahruddin mengatakan, perlu ditekankan adalah menyembelih kurban hukumnya Sunnah Muakkadah (Sangat Dianjurkan) bukan wajib.
"Kriteria hewan kurban adalah Al an'am atau lebih detilnya adalah (Unta, Sapi, kambing, dll)," ujar Ustaz Ali kepada Surya.co.id, Sabtu (16/5/2026).
Menurutnya, setiap hewan kurban mempunyai syarat-syarat tertentu agar dapat bernilai kurban.
Dalam syari'at Islam, unta termasuk hewan yang sah untuk kurban Idul Adha.
"Jadi kalau seseorang menyembelih hewan kurban berupa unta dengan kriteria tertentu, maka secara syariat hukumnya sah," tegasnya.
Baca juga: Heboh Kurban Unta Jelang Idul Adha 2026, Ternyata Cara Menyembelihnya Sangat Berbeda
Soal keutamaan apakah unta lebih utama dari sapi, Ustaz Ali mengungkapkan, berdasarkan keterangan dalam kitab Bajuri bahwa keutamaan hewan kurban berbeda-beda karena berbeda sudut pandang.
"Dari segi nilai dan banyaknya daging, unta lebih utama. Dari segi banyaknya darah yang mengalir, 7 kambing lebih utama. Dalam segi warna, putih lebih utama dan lain-lain," jelasnya.
Ustaz Ali menyebut, hakikatnya kurban adalah nilai-nilai keikhlasan dan ketakwaan dari hamba yang menjalankan ibadah.
"Hemat saya, penting untuk dilihat kembali Al Quran surat Al Hajj ayat 37. Bahwa hakikat ibadah kurban bukan terletak pada darah atau daging hewan yang disembelih, melainkan pada ketakwaan, keikhlasan dan ketulusan hati yang menjalankannya," pungkasnya.
Ustaz Ali juga berpesan, bagi masyarakat yang mempunyai kelebihan harta dan mampu untuk berkurban maka sangat dianjurkan untuk kurban.
Sedangkan, masyarakat yang keterbatasan secara ekonomi tidak perlu memaksakan diri untuk berkurban.
"Tentu kurban itu mempunyai nilai ibadah, jadi faktor keikhlasan, ketakwaan dan ketulusan hati adalah hal yang sangat mendasar untuk dijaga. Hewan yang disembelih dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat," ungkapnya.
"Jadi esensi ibadah kurban ini, selain ketakwaan kepada Allah juga mempunyai nilai sosial yang tinggi, yaitu kepedulian kepada yang lain," imbuhnya.
Baca juga: Peternakan Berkah Wafa Farm di Mojokerto Viral Umumkan Jual Hewan Kurban Unta
Salah satu tokoh agama di Mojokerto, Muttakin menanggapi viralnya kurban unta yang soolah membuat masyarakat antusias merayakan Hari Raya Idul Adha tahun 2026 ini.
Hasil diskusi mengenai kurban unta di Mojokerto menjadi viral, dengan harga unta mencapai lebih dari Rp 200 juta jauh lebih mahal dibandingkan sapi atau kambing.
"Prinsipnya dari sisi ibadah dan sudut pandang fiqih, kurban unta tidak masalah namun memang hanya orang tertentu yang mampu melakukannya," bebernya.
Ia menjelaskan, pihaknya menyambut baik keberadaan peternakan di Desa Watesnegoro, Ngoro menyediakan hewan kurban unta yang dapat menjadi pilihan tersendiri bagi masyarakat untuk berkurban pada Hari Raya Idul Adha nanti.
"Ada alternatif yang lebih murah dan merata seperti sapi maupun kambing dan lainnya, namun pada prinsipnya tetap bagi orang yang mampu," ucap Muttakin sekaligus Kepala Kankemenag Kabupaten Mojokerto tersebut.
Muttakin menambahkan, antusiasme warga Mojokerto terhadap Idul Adha meningkat dan viralnya kurban unta menjadi bagian dari syiar yang perlu diapresiasi.
Peternakan unta dapat berkembang di Indonesia, khususnya Kabupaten Mojokerto menjadi sentra yang diharapakan mampu mendongkrak ekonomi masyarakat dan berdampak luas.
"Pesan untuk masyarakat adalah meningkatkan kepedulian sosial dengan semangat berkurban, mendukung pengembangan ekonomi kerakyatan dan tidak terjebak dalam pemahaman yang berpotensi merugikan," tutupnya.