Dilansir AFP Senin (18/5/2026), secara spekulasi, Amerika Serikat mungkin sedang membangun alasan untuk melakukan aksi militer terhadap pulau yang dipimpin pemerintahan komunis tersebut.
Perkembangan ini menunjukkan kekhawatiran pemerintahan Trump terhadap ancaman dari Kuba karena perkembangan perang drone dan keberadaan penasihat militer Iran di Havana, kata seorang pejabat senior AS kepada Axios.
"Ketika kita memikirkan teknologi semacam itu berada sedekat itu, dan berbagai aktor jahat mulai dari kelompok teroris, kartel narkoba, Iran hingga Rusia, itu mengkhawatirkan," kata pejabat yang tidak disebutkan namanya tersebut. "Ini ancaman yang terus berkembang."
Kuba disebut telah memperoleh drone serang dari Rusia dan Iran sejak 2023 dan kini berupaya membeli lebih banyak lagi, kata pejabat AS kepada Axios.
Havana mengecam laporan tersebut dan menggambarkan Amerika Serikat sebagai pihak agresor sementara Kuba sebagai korban.
"Kampanye anti-Kuba yang bertujuan membenarkan, tanpa alasan apa pun, serangan militer terhadap Kuba semakin meningkat dari jam ke jam dengan tuduhan yang makin tidak masuk akal," kata Wakil Menteri Luar Negeri Kuba Carlos Fernandez de Cossio di platform X.
"Amerika Serikat adalah agresor. Kuba adalah negara yang diserang dan bertindak untuk membela diri."
Laporan itu muncul beberapa hari setelah Direktur CIA John Ratcliffe mengunjungi Havana, ketika warga Kuba mengalami pemadaman listrik berkepanjangan akibat blokade bahan bakar yang diberlakukan Presiden Donald Trump.
Menurut Axios, Ratcliffe memperingatkan pejabat di Havana agar tidak terlibat dalam tindakan permusuhan.
"Direktur Ratcliffe menegaskan bahwa Kuba tidak lagi dapat menjadi platform bagi pihak lawan untuk menjalankan agenda permusuhan di belahan bumi kita," kata seorang pejabat CIA yang tidak disebutkan namanya, seperti dikutip Axios.
Pulau komunis tersebut telah bersitegang dengan pemerintahan AS secara berturut-turut sejak 1960-an, sementara negara bagian Florida di selatan AS menjadi tempat tinggal komunitas pengasingan Kuba yang besar dan berpengaruh secara politik.
Awal bulan ini, Trump mengatakan Amerika Serikat akan "mengambil alih" pulau Karibia itu, yang hanya berjarak sekitar 90 mil (145 kilometer) dari Florida, "hampir segera."
Trump juga mengatakan, setelah operasi militer AS untuk menggulingkan pemimpin lama Venezuela Nicolas Maduro, Kuba akan menjadi target berikutnya.
Media AS juga melaporkan bahwa otoritas AS tengah berupaya mendakwa Raul Castro, saudara mendiang pemimpin Kuba Fidel Castro yang kini berusia 94 tahun.





