Oleh: Mujiburrahman
Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - MINGGU lalu, 11-14 Mei 2026, saya dan beberapa kawan dari Pascasarjana UIN Antasari berkunjung ke Kalimantan Timur (Kaltim). Saya mengisi acara di empat kampus berturut-turut, yakni di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Balikpapan (STITBA), Universitas Kutai Kartanegara (UNIKARTA), Tenggarong, UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI), dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI), Samarinda.
Salah satu agenda kami adalah sosialisasi penerimaan mahasiswa baru. Pemda Kaltim memang memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan warganya. Buktinya, ada program yang disebut “pendidikan gratispol” di mana setiap warga bisa mendapatkan beasiswa kuliah dari S-1 hingga S-3. Pemerintah akan membayarkan biaya kuliah (UKT). Karena itu tak heran jika banyak warga provinsi ini yang ingin kuliah, di kampus-kampus yang ada di provinsi sendiri atau di luar. Kami berharap, ada di antara mereka yang tertarik kuliah ke pascasarjana UIN Antasari.
Sebagai sesama warga Kalimantan, jujur saya merasa iri dengan kebijakan yang pro-pendidikan ini. Andai kebijakan serupa juga berlaku di provinsi kami dan provinsi lainnya, alangkah indahnya! Kekayaan alam Kalimantan yang terus dieksploitasi seperti hutan, batu bara, sawit, dan lain-lain, sudah selayaknya mendapat “imbalan” yang sepadan bagi masa depan masyarakatnya. Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Hasilnya memang tidak instan, tetapi akan terasa setelah generasi berganti. Tak ada bangsa yang maju, yang mengabaikan keutamaan pendidikan.
Di sisi lain, suatu kebijakan, sebaik apapun, memang tetap harus dikawal. Tidak semua orang yang melamar beasiswa benar-benar bertanggung jawab. Menurut cerita, dulu pernah pemerintah Kaltim tidak hanya memberi uang kuliah, tetapi juga biaya hidup. Karena enak, sebagian orang justru hanya menikmati uangnya, sementara kuliahnya malah gagal. Sekarang, pemerintah Kaltim lebih ketat, membayarkan uang kuliah dan mengontrol administrasinya dengan cermat. Bahwa sempat terjadi berbagai kendala teknis, itu wajar saja. Yang pasti, kebijakan ini bermanfaat bagi publik.
Kegiatan lain yang saya laksanakan adalah pengabdian kepada masyarakat berupa bedah buku. Di Balikpapan dan Tenggarong, saya menawarkan diskusi buku terbaru saya, Pesona Ulama Banjar: Catatan Perjumpaan Personal (2026). Semula saya ragu menawarkan ini, karena khawatir dikira saya ingin jualan buku. Padahal setiap penulis akademis tahu, sering kali sebuah buku terbit, lalu mati syahid. Kembali modal saja sudah luar biasa. Rasa khawatir itu saya tepis dengan menegaskan bahwa sejumlah biaya akan kami tanggung. Kami pun tidak membawa buku untuk dijual.
Ternyata, di Balikpapan, meskipun acaranya malam hari, yang datang cukup ramai. Yang datang tidak hanya petinggi kampus, dosen dan mahasiswa, tetapi juga pimpinan MUI, NU dan DMI. Diskusi berlangsung hangat. Seorang dosen bertanya, “Siapa tokoh yang paling Anda kagumi di buku ini?” Saya jawab, “Banyak. Dalam hidup ini, kita terhubung dengan banyak orang, tetapi hanya sebagian orang yang berpengaruh pada kita. Ilmuwan menyebutnya “significant others”. Mereka bisa orangtua kita, saudara kita, teman kita, guru-guru kita, atau pemikir yang bukunya kita baca”.
Di Tenggarong, Dr Mubarak, Wakil Rektor 2 UNIKARTA yang membedah buku saya, mengatakan bahwa cerita saya tentang guru-guru di Pesantren Al-Falah menunjukkan bahwa saya bisa mengingat kejadian secara detil. Mungkin dia benar. Namun, itu bukan berarti bahwa saya memiliki daya ingat yang hebat. Banyak hal dalam hidup ini yang saya lupa. Seorang guru saya bilang, kita harus bersyukur bahwa kita masih bisa lupa, sehingga kita bisa tidur nyenyak! Namun, ada hal-hal tertentu yang sangat berkesan dalam hidup saya, sehingga saya dapat mengingatnya secara rinci.
Saat dialog, seorang mahasiswi bertanya, “Bagaimana caranya agar kelak saya juga bisa menjadi penulis?” Sungguh mengejutkan, di zaman kecerdasan buatan, ketika tulisan gampang sekali dibuat tanpa berpikir, ada anak muda yang bercita-cita ingin jadi penulis! “Pertama, rajinlah membaca. Jika ingin jadi penulis sastra, banyak-banyaklah membaca sastra. Jika ingin menjadi penulis esai atau karya ilmiah, banyak-banyaklah membaca esai dan karya ilmiah. Kedua, asahlah kepekaan Anda terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Ketiga, konsisten, istiqamah dalam menulis,” jawab saya.
Di UINSI, Samarinda, di pagi hari saya diterima oleh rektor dan jajaran pimpinan. Saya meminta dukungan Rektor UINSI untuk kegiatan Borneo Academic Forum yang tahun ini agak berbeda. Selain mahasiswa S-1, kami ingin melibatkan mahasiswa pascasarjana. Syukur, beliau sangat mendukung. Siang hari, saya diminta menyampaikan kuliah umum tentang riset keagamaan di era digital. Saya mencoba memaparkan tentang fenomena keagamaan di dunia maya yang dapat dikaji secara ilmiah, dan juga berbagai budaya digital yang mempengaruhi perilaku umat beragama.
Saat berbicara dan mengutip sebuah buku, saya menggoda hadirin. “Jawab dengan jujur ya. Siapa di antara kalian yang sudah baca buku yang saya sebutkan tadi?” Ternyata tak seorang pun. “Kalian tak perlu tersinggung. Hal serupa juga terjadi pada banyak mahasiswa. Sebuah tulisan saya yang terbit secara daring, tercatat sudah dibaca oleh 20 ribu orang, tetapi ternyata tak seorang pun mahasiswa di kelas besar yang saya ajar, yang membacanya. Mungkin mereka hanya membaca TikTok dan Instagram,” kataku. Usai kuliah umum, saya lanjut mengajar di kelas mahasiswa S-3 hingga Magrib.
Di STAI Samarinda, tanpa rencana sebelumnya, saya mengisi seminar. Mereka yang meminta. “Mumpung Bapak ada di sini,” katanya. Kebetulan, Kamis itu agenda saya kosong. Topik yang dibahas adalah isu tentang relevansi program studi dengan industri. “Menurut saya, relevansi itu bukan hanya dengan dunia industri, tetapi dengan kebutuhan hidup manusia yang kompleks,” kataku. Pekerjaan tak harus selalu sesuai dengan latar belakang pendidikan formal kita. Selain itu, kampus harus serius membina karier mahasiswa dan alumni melalui Pusat Pengembangan Karier.
Ada banyak dialog yang terjadi, dan saya banyak belajar pula. Karena keterbatasan ruang, tak bisa saya tuliskan semua di sini. Satu hal yang membuat saya terharu adalah, banyak kawan lama yang tak berubah. Mereka tetap hangat dan ramah, meskipun saya bukan rektor dan pimpinan Kopertais lagi. Lebih-lebih para mahasiswa yang antusias menyimak paparan saya, lalu berdiskusi, berfoto hingga ngobrol dan makan-makan. Bagi saya, inilah kebahagiaan yang melampaui nilai-nilai materi. (*)