Lampu Harapan di Mandala Krida: Jalan Pulang PSIM Yogyakarta
Iwan Al Khasni May 18, 2026 11:14 AM

 

Tribunjogja.com Jogja -  Harapan suporter PSIM Yogyakarta untuk kembali menyaksikan tim kebanggaannya berlaga di Stadion Mandala Krida perlahan menemukan titik terang. 

Sejak lama, stadion yang menjadi ikon sepak bola Yogyakarta itu terkunci oleh masalah hukum, membuat Laskar Mataram harus menjalani status sebagai "tim musafir". 

Namun, kabar terbaru membawa angin segar bagi ribuan pendukung setia.

Sinyal positif datang langsung dari Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. 

Saat ditemui di sela laga PSIM kontra Madura United di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu (17/5/26) malam, ia menyampaikan bahwa akar masalah yang selama ini menghambat renovasi fisik Mandala Krida mulai terurai. 

Status stadion yang sebelumnya menjadi barang bukti sitaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini tidak lagi menghalangi langkah pemerintah daerah.

Hasto menegaskan, dengan status hukum yang lebih jelas, pemerintah memiliki keleluasaan untuk melakukan rekonstruksi maupun perbaikan fasilitas stadion. Hal ini membuka jalan bagi Mandala Krida untuk memenuhi syarat sebagai venue kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Super League. 

Salah satu syarat mutlak adalah kelayakan lampu stadion. Menyadari hal itu, Hasto berkomitmen memprioritaskan pengadaan lampu dengan sistem terpisah dari struktur utama gedung, agar tidak terhambat oleh birokrasi.

“Kalau lampu bisa terpisah dari bangunan, saya akan berusaha mewujudkannya. Dengan begitu, PSIM bisa segera pulang ke Mandala Krida,” tegasnya. 

Meski kapasitas penonton akan dibatasi, ia optimis atmosfer dukungan suporter tetap terjaga. “Di SSA saja kapasitas maksimal hanya 10 ribu, tapi atmosfer tetap hidup. Jadi Mandala Krida pasti bisa,” tambahnya.

Kepulangan PSIM ke Mandala Krida bukan sekadar soal teknis, melainkan juga soal marwah. Hasto menekankan bahwa Mandala Krida adalah simbol kebanggaan Yogyakarta. 

Dukungan penuh dari pemerintah kota diharapkan mampu mengakhiri periode panjang PSIM sebagai tim pengembara. 

“Marwah kita ada di Mandala Krida. Saya senang karena stadion ini masih ada di hati masyarakat Yogya,” ujarnya penuh semangat.

• PSIM Yogyakarta Bungkam Madura United di Laga Kandang Terakhir, Van Gastel: Kami Layak Menang

Tanggapan CEO PSIM

Di sisi lain, CEO PSIM, Liana Tasno, memahami kerinduan suporter. Namun, ia realistis bahwa proses administrasi dan kesiapan stadion membutuhkan waktu. Untuk musim depan, Mandala Krida kemungkinan belum bisa digunakan. 

Sebagai langkah antisipasi, PSIM tetap menyiapkan Stadion Sultan Agung sebagai opsi homebase. Klub bahkan telah menganggarkan penambahan lampu sesuai standar I.

League, perawatan intensif rumput, serta pengadaan kursi tunggal (single seat) demi memenuhi lisensi klub.

“Musim depan sepertinya belum bisa kembali ke Mandala Krida. Tapi kami sudah menyiapkan SSA dengan fasilitas tambahan agar sesuai standar kompetisi nasional,” jelas Liana.

Kabar ini menjadi titik terang bagi suporter PSIM Yogyakarta. Meski belum bisa segera kembali ke Mandala Krida, langkah-langkah nyata dari pemerintah dan klub menunjukkan komitmen kuat untuk mewujudkan impian bersama. 

Kepulangan PSIM ke rumahnya sendiri diyakini akan melipatgandakan motivasi tim dalam mengarungi kerasnya kompetisi Super League.

Sejarah Stadion Mandala Krida

Pembangunan Awal (1977–1984): 

  • Stadion Mandala Krida mulai dibangun oleh Pemerintah Kota Yogyakarta pada tahun 1977. Proses pembangunan memakan waktu cukup panjang dan baru selesai pada tahun 1984.  Saat itu, stadion ini menjadi yang terbesar di Yogyakarta.

Fasilitas Stadion

  • Menurut data resmi Balai Pemuda dan Olahraga DIY (BPO DIY):
  • Lapangan sepak bola dengan lintasan lari.
  • Tribun penonton berkapasitas 25.000 orang.
  • Ruang ganti dilengkapi toilet.
  • Ruang wasit.
  • Fasilitas tambahan di kompleks stadion: lapangan voli pasir, lapangan basket, dinding panjat tebing, musholla, toilet, dan area parkir. (aka)
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.