Sosok Perry Warjiyo Gubernur BI yang Diminta Mundur Anggota DPR Primus Yustisio Imbas Rupiah Anjlok
Musahadah May 18, 2026 04:32 PM

 

SURYA.CO.ID -  Ini lah sosok Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia yang diminta mundur oleh Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio, imbas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. 

Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah pada pukul 12.26 WIB berada di level terendahnya Rp 17.680 per dollar AS.

Desakan agar Gubernur BI mundur diucapkan Primus Yustisio saat rapat kerja dengan Perry di Komisi XI DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (18/6/2026).

Dalam rapat tersebut, Primus menyoroti soal anomalinya kondisi ekonomi Indonesia yang disebut mengalami pertumbuhan 5,61 persen akan tetapi nilai tukar rupiah terus anjlok.

"Yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia, itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok, bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar," kata Primus dalam ruang rapat.

Baca juga: Dituding Sebabkan Rupiah Kian Melemah, Ucapan Prabowo Soal Orang Desa Gak Pakai Dolar Dijelaskan KSP

Tak hanya terhadap nilai tukar rupiah, Primus juga menyoroti makin merosotnya nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia.

Kata dia, di saat seluruh negara sudah kembali rebound imbas perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, Indonesia justru mengalami minus.

"Indeks kita juga habis Pak, merosot turun, di mana indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudal itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi pada seluruhnya. Dan mereka sudah rebound, bahkan sudah plus, dan Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20 persen," ucap dia.

Atas kondisi ini, politikus PAN tersebut menyatakan kalau sejatinya dunia internasional telah menyoroti kinerja dari BI yang merupakan bank sentral di Indonesia.

Menurut dia, kualitas terhadap kinerja BI dari menurunnya seluruh aspek perekonomian di Indonesia harus dipertanyakan secara tajam.

"Ini kan bagaimana global mempertanyakan, salah satu, ada banyak faktor, tetapi mempertanyakan kualitas Bank Indonesia, Bank Sentral kita ini. Nah, ini yang menurut saya, saya harus secara tajam pertanyakan," ucapnya.

Sebab kata Primus, pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, melainkan juga terhadap seluruh mata uang asing yang ada di dunia.

Bahkan kata dia, terhadap dolar Singapura dan ringgit Malaysia, nilai tukar rupiah juga keok.

"Faktanya dan ironisnya Pak, ini terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap Singapura, terhadap Australia, terhadap Ringgit, terhadap Real, apalagi Hong Kong Dolar, Euro. Saya masih ingat Pak, Euro tahun waktu awal-awal tahun 2006 itu 7.000 per Euro, sekarang hampir 19.000, hampir 20.000," ucapnya.

Primus lantas menyinggung sikap gentleman dari Perry dalam menyikapi kondisi saat ini.

Menurut dia, tidak ada salahnya Perry mengajukan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Gubernur BI dan tidak akan ada rasa hina apabila keputusan itu diambil saat ini.

"Pak Perry yang saya hormati, kadang-kadang Pak, kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan Pak. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Tidak ada salah, kalau selanjutnya terserah Bapak tentu saja," kata dia.

"Tapi itu bukan sikap penghinaan Pak. Anda akan lebih dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang kalau Anda tidak bisa melakukan tugas Anda dengan baik, seperti itu. Tidak ada salahnya," tegas Primus.

Politikus yang memiliki background sebagai aktor tanah air itu turut menyampaikan hadist Nabi Muhammad yang kerap diperuntukkan bagi pejabat yang tidak memiliki kemampuan dalam bidang yang dipimpin.

Sejatinya kata dia, kehancuran akan segera tiba bagi suatu urusan yang dikendalikan oleh orang yang bukan ahlinya.

"Terakhir, saya ingin mengutip hadis Pak, dan karena Anda ini adalah saya melihat orang yang saleh, hadis ini sangat familiar, yang artinya dalam Indonesia 'Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya'," tandas dia.

Siapakah Perry Warjiyo? 

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memberikan sambutan pada acara bertema
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memberikan sambutan pada acara bertema "Arah Bauran Kebijakan Bank Indonesia dalam Menjaga Momentum Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi oleh Gubernur Bank Indonesia" di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (18/10/2019). (SURYA.co.id/Bobby Constantine Koloway)

Dilansir website resmi BI bi.go.id, Perry Warjiyo merupakan pria yang lahir di Sukoharjo pada tahun 1959.

Ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 1982.

Perry Warjiyo kemudian melanjutkan studinya di Iowa State University, di mana ia meraih gelar Master pada tahun 1989 dan gelar Ph.D. pada tahun 1991.

Perry Warjiyo menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2018-2023 dan kembali dipercaya untuk memimpin Bank Indonesia pada periode 2023-2028.

 
Sebelum menjadi Gubernur BI, Perry Warjiyo adalah Deputi Gubernur BI dari tahun 2013 hingga 2018, dan sebelumnya lagi menjabat Asisten Gubernur serta Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI pada kurun waktu 2009-2013.

Perry Warjiyo juga memiliki pengalaman internasional, menjabat sebagai Direktur Eksekutif di International Monetary Fund (IMF) dari tahun 2007 hingga 2009, mewakili 13 negara di Asia Tenggara.

Karier panjang Perry Warjiyo di Bank Indonesia dimulai sejak tahun 1984, dengan fokus pada riset ekonomi, kebijakan moneter, isu internasional, dan transformasi organisasi.

Baca juga: INDEF Nilai Tindakan PPATK Blokir Rekening Tidak Aktif Bisa Buat Masyarakat Enggan Menabung

Di bawah kepemimpinannya, Bank Indonesia juga meraih banyak penghargaan, seperti The Best Central Bank of the Year dari Global Islamic Finance Awards pada tahun 2022 dan 2018.

Perry Warjiyo sangat mencintai ilmu pengetahuan dan aktif menulis, telah menerbitkan sejumlah buku, jurnal, dan makalah di bidang ekonomi dan moneter.

Beberapa karya fenomenalnya adalah buku Central Bank Policy Mix: Issues, Challenges, and Policy Responses (2020), Kebijakan Bank Sentral: Teori dan Praktik (2016), dan Kebijakan Moneter di Indonesia (2003).

 Ia resmi ditetapkan sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk periode kedua berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 38/P Tahun 2023 tanggal 5 Mei 2023, dan mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 24 Mei 2023.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.