TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tingginya gempuran produk tekstil bermotif batik hasil cetak (printing) impor, khususnya dari China, menjadi ancaman serius bagi industri batik nasional. Merespons kondisi tersebut, upaya regenerasi artisan serta inovasi perancangan motif baru yang relevan dengan zaman mendesak dilakukan tanpa harus meninggalkan pakem filosofis tradisional.
Hal tersebut mengemuka dalam pembukaan kegiatan Pelatihan Berbasis Kompetensi Perancangan Motif Batik yang diselenggarakan atas kolaborasi Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian bersama Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), di Yogyakarta, Senin (18/5/2026).
Kepala BBSPJIKB Zya Labiba memaparkan bahwa ancaman nyata industri batik lokal saat ini adalah minimnya literasi masyarakat awam dalam membedakan batik asli—baik tulis, cap, maupun kombinasi—dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi secara masal melalui mesin.
"Kebutuhan-kebutuhan pelanggan saat ini terkait modernisasi batik juga perlu dipikirkan. Kalau kita tidak merancang inovasi motif baru, kita akan banyak ketinggalan dari negara lain, seperti China contohnya. Produk mereka itu motif batik atau motif printing ya—bukan batik lho ya, tapi hasil printing tekstil dari China—yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat awam. Sekarang kita khawatir karena ada tren di mana mereka bisa menjual produk kain bermotif batik dengan harga sangat murah. Itu beda proses produksinya, beda bentuknya," papar Zya.
Lebih lanjut, Zya menekankan pentingnya edukasi publik mengenai esensi dan proses membatik yang sesungguhnya agar nilai dan harga produk pengrajin lokal dapat dihargai di pasar.
"Itulah yang kita khawatirkan kalau kita tidak mengenalkan esensi batik yang sebenarnya. Memang kalau untuk produksi masif seperti produk printing, kita mungkin belum bisa menandingi karena pasarnya berbeda. Tapi minimal, kalau kita gencar mengenalkan budaya, esensi motif, dan proses batik yang sebenarnya—baik batik tulis, batik cap, maupun kombinasi—masyarakat akan tahu bahwa di sana ada nilai dan harganya," tegasnya.
Pelatihan yang berlangsung pada 18–22 Mei 2026 ini menghadirkan dua skema kompetensi, yakni perancangan motif batik dan pewarnaan alam. Masing-masing skema diikuti oleh 20 peserta dari berbagai latar belakang. Menariknya, kegiatan ini turut melibatkan pelajar Generasi Z (Gen Z) dari sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah DIY, sebagai langkah konkrit melahirkan generasi penerus artisan batik.
Terkait tantangan ekonomi makro yang tengah bergejolak, BBSPJIKB justru melihat hal tersebut sebagai momentum pembuktian ketangguhan Industri Kecil dan Menengah (IKM). Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai harus direspons dengan penguatan produk dalam negeri dan hilirisasi.
"Kita tahu kondisi ekonomi saat ini sedang kurang baik-baik saja atau kurang bagus, apalagi nilai dolar terhadap rupiah juga sedang bergejolak terus. Ya semoga ini tidak menjadi sebuah ketakutan bagi para pelaku usaha seperti Bapak dan Ibu sekalian. Sebaliknya, ini harus menjadi semangat bahwa kondisi memang menantang, tapi bagaimana kita bisa survive dan tangguh. Kita sudah membuktikan bahwa kondisi ekonomi di tahun 2020 saat pandemi Covid-19 itu sudah menjadi pengalaman dan bukti. Industri yang bisa tangguh dan kuat menopang ekonomi justru adalah sektor IKM/UMKM seperti milik Bapak dan Ibu sekalian. Industri besar mungkin banyak yang kolaps karena ketergantungan terhadap produk-produk impor yang terlalu tinggi," ungkap Zya secara rinci.
Dalam konteks penciptaan motif, BBSPJIKB mendorong para peserta untuk berani bereksplorasi menciptakan motif modern yang bisa merambah pasar internasional, dengan catatan tetap memahami tata krama penggunaannya. Pihak Balai Besar juga menyediakan fasilitas literasi berupa perpustakaan sejarah dan motif batik legendaris nusantara guna memperkuat pemahaman dasar para peserta.
Kolaborasi fasilitasi ini mendapat apresiasi penuh dari Dinas Pariwisata DIY. Kemitraan ini sebelumnya juga telah terwujud melalui pelatihan skema pembuatan malam batik pada April lalu.
"Kolaborasi antara BBSPJIKB dan Dispar DIY ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing industri batik Indonesia. Kami berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk terjun ke dunia batik, tidak hanya sebagai pelaku industri kreatif, tetapi juga sebagai inovator yang mampu membawa batik tetap relevan di era modern," pungkas Zya Labiba.
Di tengah kondisi perekonomian global yang fluktuatif dan ancaman mahalnya bahan baku impor, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendorong pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) batik untuk mulai mengadaptasi konsep green economy (ekonomi hijau). Penggunaan pewarna alam dinilai memiliki prospek menjanjikan, khususnya untuk menembus ceruk pasar Eropa yang kian ketat dalam menerapkan standar produk ramah lingkungan.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, memaparkan bahwa sektor IKM selalu terbukti menjadi lokomotif penyelamat saat perekonomian melemah, mulai dari krisis 1998 hingga masa pandemi Covid-19. Saat ini, tantangan kembali muncul dari ketegangan geopolitik dan de-dolarisasi yang berdampak pada mahalnya bahan baku pewarna kimia impor.
"Kita tahu bahwa perekonomian tidak hanya di Indonesia, khususnya di dunia juga sedang tidak baik-baik saja. Kita tahu ada perang, ada wacana tidak pakai dolar. Padahal bahan yang kita beli untuk pewarna kimia itu kan dari luar negeri, pastinya akan lebih mahal. Namun demikian, sangat baik apabila dalam masa tantangan itu kita mengembangkan inovasi, sehingga ketika pasar kembali terbuka dengan kuat, kita sudah siap," ujar Imam.
Imam menekankan, meskipun daya tahan pewarna alam saat ini belum sekuat pewarna kimia, tren global menunjukkan pergeseran preferensi konsumen. Pasar internasional, terutama Eropa, menempatkan produk-produk eco-friendly sebagai prioritas belanja.
"Dengan adanya green economy sekarang ini dan pasti ke depannya, pasar-pasar Eropa terutama pasti akan tetap mengedepankan produk-produk yang alami. Untuk itu, batik dengan pewarna alami memiliki prospek yang sangat baik ke depan. Batik yang sifatnya menggunakan pewarna alami ini memang punya pasar khusus, tidak kemudian head-to-head dengan pewarna kimia," tegasnya.
Meski demikian, penetrasi batik ke pasar global sebagai busana utama (fesyen) dinilai masih membutuhkan waktu. Berdasarkan komunikasi dengan pakar dari Kementerian Perindustrian di Prancis, batik saat ini lebih banyak terserap di pasar Eropa sebagai bahan pernak-pernik dan aksesoris, seperti tas kecil, dompet, sepatu, maupun syal.
Sementara di kawasan Timur Tengah, produk batik alam lebih diminati sebagai pajangan suvenir atau dekorasi interior.
Oleh karena itu, Imam meminta para perajin untuk cerdik menyesuaikan rancangan motif dan bentuk produk dengan karakteristik pasar negara tujuan.
Lebih lanjut, dorongan menuju green economy tidak serta-merta menghentikan produksi batik sintetis. Pemerintah tetap memfasilitasi IKM yang menggunakan pewarna kimia, dengan catatan harus mulai memperbaiki tata kelola produksinya.
"Ke depan, bagaimana kita untuk pewarna kimia memastikan penanganan limbahnya dengan teknologi yang baik, sehingga masuk ke kriteria green economy juga. Di sisi lain, untuk pewarna alami, kita juga pastikan teknologi pengikat warnanya agar daya tahan atau keawetannya bisa lebih lama," pungkas Imam.
Pelatihan dan sertifikasi ini diharapkan dapat mencetak artisan batik yang tidak hanya piawai merancang motif, tetapi juga memahami standar mutu internasional demi mendongkrak kembali tren industri batik yang sempat mengalami penurunan pangsa pasar dalam beberapa tahun terakhir.