TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menghadirkan ruang perjumpaan kreatif bagi para pencinta seni di Kota Pelajar.
Kali ini, TBY menggelar agenda bertajuk "Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi", Rabu (20/5/26) mendatang, di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.
Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni Budaya TBY, Cerrya Wuri Waheni menjelaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen dalam menyediakan ruang ekspresi, regenerasi dan penguatan jejaring seni kontemporer.
Panggung tersebut menghadirkan tiga penata tari lintas generasi yang mewakili perjalanan, pengalaman, dan pandangan dari generasi berbeda, yakni usia 20-an, 30-an, dan 40-an.
Adapun penyelenggaraan acara ini didukung penuh melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Kementerian Kebudayaan Tahun 2026.
Ketiga karya yang akan dipentaskan dalam gelaran ini adalah, Besar Widodo (Generasi 40-an) dengan karya Di Atas Irama Dua, Galih Puspita (Generasi 30-an) dengan karya Ngluru Lurung, dan Eka Lutfi Febriyanto (Generasi 20-an) dengan karya Sangkar Sunyi yang Bernyawa.
Selain pertunjukan utama dari masing-masing koreografer, para penonton juga akan disuguhkan berupa kolaborasi ketiga penata tari lintas generasi.
"Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi bukan sekadar pertunjukan tari, tapi juga ruang silaturahmi antar generasi serta upaya memperkaya khasanah seni pertunjukan kontemporer. Setiap generasi memiliki sudut pandang, pengalaman, dan bahasa gerak sendiri," ungkapnya, Senin (18/5/26).
Melalui momentum ini, TBY ingin membawa pesan mendalam mengenai bagaimana seni tari kontemporer terus bertumbuh di tengah-tengah masyarakat.
Pihaknya pun memastikan, kegiatan terbuka untuk umum dan gratis, namun calon penonton diwajibkan melakukan reservasi secara online terlebih dahulu.
"Melalui pertemuan lintas generasi ini, kita belajar bahwa seni bukan hanya warisan, tetapi juga kesinambungan yang terus hidup. Selain itu diharapkan lahir pertukaran gagasan dan pengalaman yang mampu memperkaya perkembangan seni tari kontemporer di Indonesia," imbuhnya.