SURYA.CO.ID, MOJOKERTO - Fenomena viralnya hewan kurban unta di Mojokerto, Jawa Timur (Jatim), menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah atau tahun 2026 menjadi perhatian masyarakat.
Keberadaan unta sebagai pilihan hewan kurban dinilai bukan sekadar tren sesaat, tetapi berpotensi menjadi alternatif baru selain sapi dan kambing di masa mendatang.
Namun di balik tingginya antusiasme masyarakat, muncul tantangan baru bagi para Juru Sembelih Halal (Juleha) yang dituntut memahami teknik penyembelihan khusus untuk hewan gurun pasir tersebut.
Anggota Komisi Fatwa MUI Mojokerto, H Wajih Kifai, mengatakan bahwa pelatihan penyembelihan unta masih sangat jarang dilakukan di Indonesia, khususnya di daerah.
Menurutnya, anatomi tubuh unta berbeda dibanding sapi atau kambing, sehingga membutuhkan teknik penyembelihan tersendiri.
“Karena di Indonesia jarang kurban unta, ya belum ada pelatihan menyembelih hewan kurban tersebut,” ujar Gus Wajih, Senin (18/5/2026).
Meski demikian, pria yang juga anggota Juleha itu menilai menyembelih unta justru lebih mudah dibanding sapi atau kerbau.
Menurutnya, unta termasuk hewan yang lebih tenang dan penurut.
“Setahu saya justru unta lebih mudah ketimbang sapi yang harus butuh beberapa orang untuk menggulingkan hewan kurban. Kalau unta lebih tenang dan penurut, jadi lebih gampang,” jelasnya.
Pengalaman tersebut diperoleh Gus Wajih saat menempuh pendidikan selama 6 tahun di Universitas Ahgaff, Kota Tarim, Hadramaut, Yaman.
Gus Wajih menjelaskan, peralatan penyembelihan unta pada dasarnya sama dengan hewan kurban lain dan tidak membutuhkan alat khusus.
Perbedaannya terletak pada metode penyembelihan yang menggunakan cara naher atau penusukan di pangkal leher.
Sementara sapi biasanya disembelih dengan metode dzabhu seperti yang umum dilakukan di Indonesia.
“Cara Naher digunakan, karena unta memiliki leher yang lebih tebal ketimbang sapi. Alatnya sama yang dipakai di sini, terpenting harus tajam agar tidak menyiksa hewan kurban,” pungkasnya.
Tokoh agama Mojokerto, Muttaki, juga menanggapi tingginya perhatian masyarakat terhadap kurban unta tahun ini.
Menurutnya, secara syariat Islam, kurban unta tidak menjadi persoalan meski hanya kalangan tertentu yang mampu melakukannya karena harganya sangat mahal.
“Prinsipnya dari sisi ibadah dan sudut pandang fiqih, kurban unta tidak masalah namun memang hanya orang tertentu yang mampu melakukannya,” ujarnya.
Ia juga menyambut positif keberadaan peternakan unta di Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto yang kini mulai dikenal masyarakat luas.
Menurut Muttaki, berkembangnya peternakan unta di Mojokerto berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Ada alternatif yang lebih murah dan merata seperti sapi maupun kambing dan lainnya, namun pada prinsipnya tetap bagi orang yang mampu,” ucap Muttaki yang juga Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mojokerto.
Ia menambahkan, viralnya kurban unta bisa menjadi bagian dari syiar Idul Adha yang positif selama tetap dibarengi semangat kepedulian sosial.
“Pesan untuk masyarakat adalah meningkatkan kepedulian sosial dengan semangat berkurban, mendukung pengembangan ekonomi kerakyatan dan tidak terjebak dalam pemahaman yang berpotensi merugikan,” tutupnya.