TRIBUNBATAM.id, NATUNA - Hilangnya seorang pria paruh baya saat mencari kepiting atau nyuloh di Pulau Sunyut, Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), ternyata bukan tanpa sebab.
Korban bernama Ica Kusuma (40), warga RT Darat Sayat, Desa Air Payang, Kecamatan Pulau Laut, diduga hilang setelah sempat masuk dan terjebak di dalam lubang dasar laut yang tiba-tiba dalam, atau biasa disebut warga setempat dengan sebutan 'kumang'.
Secara umum, kumang juga bisa diartikan Palung, sebuah fenomena cekungan atau jurang sempit di dasar laut yang sangat dekat dengan bibir pantai.
Kala itu, air laut sedang surut. Ica dan temannya disebut hendak kembali ke bibir pantai usai mencari kepiting.
Fakta tersebut diungkap Camat Pulau Laut, Bambang Erawan, berdasarkan keterangan rekan korban yang saat itu pergi bersama mencari kepiting.
“Menurut cerita rekannya, mereka sempat masuk ke dalam kumang saat perjalanan kembali ke bibir pantai. Jadi seperti lubang atau kolam yang tiba-tiba dalam,” ujarnya kepada Tribunbatam.id, Senin (18/5/2026) sore.
Ia menjelaskan, korban berangkat bersama rekannya bernama Niel pada Minggu (17/5/2026) sekitar pukul 22.30 WIB, menggunakan speedboat menuju Pulau Sunyut untuk nyuloh atau mencari kepiting saat air surut.
Sesampainya di lokasi, mereka berjalan kaki menyusuri bibir pantai sejauh kurang lebih dua kilometer sambil mencari kepiting.
Saat nyuloh selesai, mereka berjalan pulang menuju pesisir. Namun keduanya tiba-tiba tak sengaja masuk di air yang lebih dalam atau cekungan dasar Laut.
Ditengah suasana gelapmya malam, mereka berbekal alat penerangan berupa senter di kepala.
“Posisi air surut waktu itu, tapi dasar laut di situ memang ada yang tiba-tiba dalam. Kalau orang sini bilangnya kumang,” katanya.
Menurut Bambang, kedalaman kumang tersebut bisa mencapai dua hingga tiga meter meski kondisi laut sedang surut.
Situasi semakin sulit karena senter yang digunakan keduanya mati setelah kemasukan air laut.
“Senter mereka mati masuk air, jadi posisi benar-benar gelap,” ungkapnya.
Dalam keadaan panik, korban dan rekannya berusaha berenang menyelamatkan diri masing-masing.
Saat itu, ember atau tong tempat hasil tangkapan sempat diberikan rekannya kepada Ica sebelum keduanya berpisah di tengah gelapnya laut.
“Niel ini berhasil sampai ke tepi pantai. Dia kira Ica juga ada di belakang dan ikut naik ke darat,” jelas Bambang.
Namun setelah ditunggu beberapa saat, korban tak kunjung muncul.
“Karena Ica tidak nampak dan tak kembali, akhirnya rekannya pulang dan warga langsung melakukan pencarian,” katanya.
Bambang menyebut aktivitas nyuloh di Pulau Sunyut memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat saat air laut surut.
Pulau kecil itu hanya berjarak sekitar lima menit perjalanan menggunakan pompong dari Desa Air Payang.
“Kalau air surut memang ramai warga nyuloh di sana,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bambang menyebut, kejadian serupa sebenarnya pernah terjadi beberapa tahun lalu saat warga melakukan aktivitas nyuloh di kawasan tersebut.
“Kalau kejadian seperti ini memang pernah juga terjadi, warga hilang saat pergi nyuloh,” ungkapnya
Selain itu, fakta lainnya korban disebut tidak terlalu mahir berenang.
“Informasinya dari keterangan yang kami dapat, korban ini agak kurang pandai berenang," Ungkap Bambang.
Hingga saat ini tim SAR dan masyarakat belum berhasil menemukan keberadaan Ica Kusuma, dan masih melakukan pencarian dengan menyisir pantai dan laut sekitar Pulau Sunyut. (Brf).
(Tribunbatam.id/birrifikrudin).