TRIBUNJAKARTA.COM - Politikus Gerindra Sugiat Santoso pasang badan membela pidato Presiden RI, Prabowo Subianto.
Ucapan Prabowo Subianto menyebut masyarakat di desa tidak memakai dolar Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan.
Politikus Gerindra sekaligus Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso menuturkan konteks pidato Prabowo saat berbicara di hadapan petani.
Ia mengatakan seorang pemimpin saat berhadapan dengan rakyatnya menggunakan bahasa yang optimis dan menenangkan.
"Ketika memang di saat yang bersamaan para pengamat dan beberapa tokoh misalnya di media sosial maupun media mainstream seolah-olah memprovokasi kepanikan," kata Sugiat diikutip dari Kompas TV, Senin (18/5/2026).
"Saya pikir apa yang disampaikan oleh Pak Prabowo itu adalah bahasa untuk rakyatnya, bahasa pemimpin untuk rakyatnya," tambah Sugiat.
Sugiat mengatakan Presiden Prabowo Subianto akan menggunakan bahasa yang berbeda saat memimpin rapat kabinet.
"Bahasanya pasti dan bersifat yang solutif lah," katanya.
Ketika ditanyakan mengenai kegaduhan yang timbul dari pernyataan Prabowo Subianto, Sugiat memberikan respons.
Menurut Sugiat, kegaduhan berasal dari kelompok yang ingin terus memprovokasi kepanikan di masyarakat.
Ia menilai kelompok tersebut seperti mendapatkan peluru.
"Kalau kita misalnya apa yang disampaikan Pak Prabowo bahwa masyarakat desa itu tidak terpengaruh oleh dolar. Kalau kita misalnya belajar dari sejarah krisis yang pernah terjadi di Indonesia, apakah krisis tahun 1960-an misalnya atau krisis pada tahun 98," katanya.
Ia lalu mengungkit krisis moneter pada tahun 1998. Dimana, penyelamat Indonesia berasal dari ekonomi kerakyatan yang menjadi bantalan ekonomi.
"98 itu kan yang terkena di sektor perbankan maupun sektor korporasi besar. Sementara rakyat ekonomi rakyat pada saat itulah yang membuat bangsa ini tetap bisa bangkit kembali," katanya.
Oleh karena itu, Sugiat mengungkit adanya provokasi bila dolar AS tembus Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu maka Indonesia akan kolaps.
"Saya pikir itu kan bukan bahasa yang optimis, bukan bahasa yang menenangkan rakyat," katanya.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyindir pihak-pihak yang kerap meramalkan ekonomi Indonesia akan mengalami kehancuran atau kolaps akibat fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
Hal itu disampaikan Presiden Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026) pagi.
Prabowo menegaskan, kondisi pangan dan energi nasional saat ini berada dalam posisi yang aman.
Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat tidak perlu panik dengan pergerakan mata uang dolar AS karena fundamental ekonomi riil di tingkat daerah tetap berjalan baik.
"Rupiah begini, rupiah begini, apa, dolar begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya banyak negara panik, Indonesia masih oke. Kita banyak, banyak yang diberikan Yang Maha Kuasa," ujar Presiden Prabowo.
Kemudian, saat menghadiri peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo berkelakar mengenai pergerakan nilai tukar rupiah.
Ia mengaitkan situasi ekonomi nasional dengan ekspresi dari Menkeu RI Purbaya Yudhi Sadewa.
"Purbaya sekarang populer banget Purbaya itu. Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, enggak usah kau khawatir itu," seloroh Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo juga mengatakan bahwa fluktuasi nilai mata uang global ini sebenarnya tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat pedesaan.
Menurutnya, perputaran ekonomi mikro di daerah tidak bergantung penuh pada mata uang asing.
"Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar, bener enggak? Yang pusing ya yang itu, yang suka ke luar negeri, ayo siapa ini?" lanjut Presiden Prabowo.