Riza Pernah Ditendang Sapi saat Lakukan Pemeriksaan Kebuntingan 
M Syofri Kurniawan May 19, 2026 06:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Profesi dokter hewan pemeriksa sapi bunting sudah melekat pada diri drh Keki Riza Murty.

Selama 16 tahun bertugas, inilah kisah-kisah unik dan tantangan yang ia hadapi.

Pagi itu, suasana pasar hewan mulai ramai.

Deru kendaraan pengangkut sapi bercampur suara pedagang dan pembeli yang saling menawar.

Di tengah hiruk pikuk itu, seorang perempuan dengan sarung tangan panjang berdiri tenang di belakang seekor sapi berbobot ratusan kilogram.

Dialah Keki Riza Murty, dokter hewan yang sudah 16 tahun mengabdikan diri di dunia kesehatan ternak.

Dengan cekatan, ia melakukan palpasi rektal, metode pemeriksaan kebuntingan sapi dengan memasukkan tangan melalui anus sapi untuk mengetahui kondisi reproduksi ternak tersebut.

Bagi sebagian orang, bahkan laki-laki, pekerjaan itu mungkin terdengar ekstrem, bahkan menakutkan.

Namun bagi Riza, sapaan akrabnya, pekerjaan tersebut sudah menjadi bagian dari kesehariannya sejak lama.

“Kalau saya kan memang dokter hewan, pekerjaannya memang di situ, palpasi. Saya lulus dari UGM tahun 2010, jadi sampai sekarang sudah 16 tahun jadi dokter hewan,” ujar Riza, Minggu (17/5/2026).

Kecintaan Riza terhadap hewan ternyata sudah tumbuh sejak remaja.

Ketertarikan itulah yang kemudian membawanya menempuh pendidikan kedokteran hewan dan akhirnya memilih fokus pada pemeriksaan reproduksi sapi.

Meski harus berhadapan langsung dengan hewan bertubuh besar dan kadang agresif, Riza mengaku tidak pernah merasa takut.

Baginya, pengalaman dan kebiasaan menjadi modal utama.

“Mungkin karena sudah terbiasa ya, jadi tidak takut,” kata Riza.

Namun, pekerjaan tersebut tetap memiliki risiko tinggi.

Dalam melakukan pemeriksaan, ia selalu memastikan ada petugas lain yang membantu memegang sapi agar pemeriksaan berjalan aman.

“Yang penting saat pemeriksaan ada yang membantu memegang sapinya. Kalau sapinya galak ya tetap harus dibantu. Biasanya pakai tali dadung diikat dulu,” jelas Riza.

Selama bertahun-tahun menjalani profesi itu, Riza juga pernah mengalami pengalaman buruk.

Ia pernah terkena tendangan sapi saat melakukan pemeriksaan hingga harus menjalani rontgen.

“Saya pernah ketendang sapi saat pemeriksaan, sampai rontgen juga pernah. Tapi alhamdulillah tidak apa-apa. Namanya risiko pekerjaan, kita harus menjaga keselamatan diri sendiri,” tutur Riza.

Setiap pasaran

Rutinitasnya tak pernah jauh dari pasar hewan.

Setiap hari pasaran, ia rutin melakukan pemeriksaan kebuntingan sapi di berbagai lokasi.

Dalam sistem pasaran Jawa yang berlangsung setiap lima hari sekali, Riza bisa melakukan pemeriksaan hingga enam kali dalam sebulan.

Dari tangannya, banyak peternak mengetahui kondisi ternak mereka, terutama usia kebuntingan sapi yang sudah memasuki tiga bulan.

Pemeriksaan itu menjadi penting karena menentukan langkah perawatan hingga persiapan kelahiran.

Metode palpasi rektal sendiri dikenal sebagai teknik paling umum, murah, dan cukup akurat untuk mendeteksi kebuntingan pada ternak besar seperti sapi.

Meski terlihat sederhana, pemeriksaan tersebut membutuhkan keahlian, pengalaman, dan keberanian.

Di balik profesi yang jarang dilirik itu, Riza menunjukkan dunia peternakan tidak hanya diisi kaum pria.

Ketelatenan, keberanian, dan kecintaannya pada hewan membuatnya mampu bertahan selama belasan tahun di pekerjaan yang penuh risiko tersebut.

Baginya, setiap sapi yang diperiksa bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari pengabdian untuk membantu para peternak menjaga kualitas ternaknya. (Tribun Solo/Anang Maruf Bagus Yuniar)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.