Dirut PSS Sleman Sambut Derby DIY dengan Pesan Damai untuk Suporter
Muhammad Fatoni May 19, 2026 12:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Direktur PT Putra Sleman Sembada (PSS), Yoni Arseto, berharap Derby DIY antara PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta di musim depan bisa berlangsung kondusif dan penuh semangat persaudaraan.

Menurut Yoni, hubungan internal antara kedua klub sejauh ini tidak memiliki persoalan.

Karena itu, ia berharap atmosfer positif tetap dijaga oleh para suporter kedua tim.

“Kalau derby, secara internal PSS dan PSIM pastinya tidak ada masalah,” ujar Yoni, Selasa (19/5/2026).

Ia berharap suporter PSS Sleman maupun PSIM Yogyakarta dapat saling berkolaborasi untuk menjaga suasana tetap damai, sekaligus mewujudkan semangat “Mataram Islah” yang selama ini digaungkan.

“Yang saya harapkan masyarakat, terutama suporter PSS dan PSIM, bisa saling berkolaborasi. Semangat Mataram Islah itu bisa diwujudkan, karena kita ini bersaudara,” katanya.

Yoni menegaskan bahwa sepak bola seharusnya menjadi sarana hiburan dan olahraga, bukan pemicu perpecahan di masyarakat.

“Apapun benderanya, kita tetap saudara. Ini hanya olahraga. Kalau bisa semuanya menjaga kondusivitas masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta,” tuturnya.

Baca juga: Huistra Kembali Jadi Head Coach PSS Sleman, Yoni Arseto: Persiapan Super League Sudah Jalan

Ucapan Selamat dari PSIM Yogyakarta 

Kepastian tersebut sekaligus memastikan Derby DIY kembali tersaji di kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim depan.

Pertemuan PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta di level tertinggi ini menjadi momen bersejarah, mengingat kedua tim sudah lama tidak bertemu dalam laga resmi di kompetisi kasta teratas.

Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Yuliana Tasno, menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan agar rivalitas kedua tim tetap berjalan sehat dan menjunjung tinggi nilai sportivitas.

Congratulations to PSS Sleman yang sudah kembali ke Liga 1. Ayo kita sama-sama untuk menjadi benchmark,” ujar Yuliana, Selasa (19/5/2026).

Ia mengingatkan agar dunia sepak bola Indonesia tidak melupakan Tragedi Kanjuruhan dan menjadikannya pelajaran penting untuk membangun atmosfer sepak bola yang lebih baik.

“Tragedi Kanjuruhan itu jangan dilupakan. Jangan sampai cuma saat kejadian semua saling peluk-pelukan, habis itu lupa. Enggak boleh begitu,” katanya.

Menurut Yuliana, sepak bola seharusnya menjadi sarana mempererat persaudaraan, bukan justru memecah belah.

“Kita ini bersaudara, satu bangsa, satu negara. Kenapa sepak bola harus dijadikan pemecah? Ini kan sepak bola,” ungkapnya.

Ia pun berharap nilai-nilai fair play, sportivitas, dan semangat positif terus dijaga, terutama dalam menyambut Derby DIY musim depan.

“Nilai-nilai sepak bola dan olahraga itu harus kita tanamkan. Fair play, sportivitas, dan tetap positif. Kita jaga benar-benar semangat ‘Mataram Is Love’ itu,” tutupnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.